Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Senin, 26 Januari 2026, Habakuk 1-7-11 Tantangan Dapat Menjadi Alat Bagi Tuhan Untuk Memperkuat Komunitas

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Jumat, 23 Januari 2026 | 01:40 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab : Habakuk 1: 7-11

TEMA : TANTANGAN DAPAT MENJADI ALAT BAGI TUHAN UNTUK MEMPERKUAT KOMUNITAS

"Bangsa itu mengerikan dan menakutkan. Merekalah yang memutuskan keadilan dan kehormatannya sendiri." (ay.7).

 

Apa yang akan kita lakukan jika kita menghadapi persoalan besar yang menakutkan? Atau jika kita berhadapan dengan orang-orang yang kadang menekan dan mengancam kita?

Menyerah atau melarikan diri? Habakuk menggambarkan kepada orang Yehuda betapa menakutkannya bangsa Kasdim itu.

Mengerikan, ganas seperti macan tutul, lari pasukan kudanya secepat Rajawali yang terbang, dan mereka melakukan kekerasan di mana-mana serta kekuatannya sangat menghancurkan.

Gambaran mengerikan tentang bangsa yang menjadi alat keadilan Allah disampaikan Gambaran dari Habakuk tidak bermaksud untuk melemahkan pemimpin dan seluruh penduduk Yehuda.

Sebaliknya gambaran objektif yang mengerikan itu patut mendatangkan sikap positif dari bangsa Yehuda.

Pengakuan bersama semua orang Yehuda, baik pemimpin maupun bangsa dan umat, bahwa mereka telah berdosa dan karena itu mereka memang patut menerima hukuman Tuhan itu.

Mereka dituntun pada kesediaan bersama untuk mengakui kesalahan dan dosa, lalu segera bertobat dan kembali kepada relasi yang benar dengan Allah.

 

Pengakuan bersama atas dosa, siap menerima hukuman dan mau hidup dalam pertobatan harus menjadi sikap bersama seluruh bangsa Yehuda, tidak terkecuali.

Itu berarti ancaman Kerajaan Babel, seharusnya tidak melemahkan iman umat, sebaliknya kesadaran akan dosa dan kesediaan untuk hidup. 

Dalam pertobatan adalah pengakuan iman kepada Allah yang berhak atas rasa takut dan hormat umat-Nya; dan Allah yang bebas menegakkan kebenaran dan keadilan-Nya.

 

Berbagai tantangan, persoalan dan penderitaan sepatutnya juga mengajarkan kita untuk dapat bersikap objektif dan positif, baik dalam kehidupan bergereja maupun bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Bersikap objektif dan positif akan memberi semangat membangun kekuatan bersama dalam Tuhan, menghadapi dan mengatasi apa pun masalah yang terjadi. Amin.

 

 

Doa: Ya Tuhan, jangan biarkan kamol menyerah, tapi tolong kami untuk bersama-sama menyelesaikan setiap persoalan. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN PAGI GPIB SABDA BINA UMAT