Jagosatu.com - Komandan Komando Selatan Amerika Serikat (SOUTHCOM), Jenderal Francis Donovan, mengungkapkan kekhawatiran serius terkait masifnya ekspansi proyek infrastruktur Tiongkok di wilayah Amerika Latin. Dalam kesaksian di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR AS, ia menegaskan bahwa terdapat 23 proyek pelabuhan dan 12 fasilitas pendukung luar angkasa yang kini dalam pantauan ketat Pentagon. Seluruh fasilitas tersebut dikategorikan sebagai aset dengan fungsi ganda yang berpotensi mendukung operasi militer Tiongkok di masa depan.
Jenderal Donovan secara eksplisit menyatakan bahwa pihak militer AS tidak membedakan antara proyek komersial murni dengan infrastruktur yang dibangun atas dasar kepentingan strategis. Menurutnya, setiap perangkat atau fasilitas yang dikembangkan oleh Tiongkok di wilayah tersebut memiliki kapasitas untuk dikonversi menjadi sarana pendukung militer jika diperlukan. Pandangan ini mencerminkan eskalasi ketegangan diplomatik antara Washington dan Beijing terkait dominasi pengaruh di belahan bumi bagian barat.
Selain sektor infrastruktur fisik dan ruang angkasa, Pentagon juga menyoroti keterlibatan Tiongkok dalam industri ekstraktif yang mencakup penambangan serta pemrosesan mineral kritis. Penguasaan rantai pasok material strategis ini dinilai mampu mengancam stabilitas basis industri pertahanan Amerika Serikat dalam jangka panjang. Hingga saat ini, lokasi spesifik dari 12 fasilitas luar angkasa yang disinggung Donovan masih belum dipublikasikan secara resmi kepada publik.
Dalam konteks Indonesia, fenomena penguasaan infrastruktur strategis oleh kekuatan asing menuntut kewaspadaan tinggi dalam menjaga kedaulatan ekonomi dan keamanan nasional. Pemerintah Indonesia perlu mempertimbangkan urgensi diversifikasi mitra strategis agar ketergantungan pada satu negara tidak merugikan kepentingan jangka panjang sektor agrikultur dan teknologi. Penguatan regulasi investasi yang berbasis pada prinsip keberlanjutan dan keamanan siber menjadi kunci krusial dalam menghadapi arus investasi global yang kini semakin politis.