Jagosatu.com - Masyarakat Desa Adat Semate, Badung, Bali, kembali menyelenggarakan tradisi Mbed-Mbedan sebagai bentuk perayaan pada hari Ngembak Geni. Ritual ini dilaksanakan tepat satu hari setelah perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 berakhir. Puluhan warga setempat terlibat aktif dalam kegiatan yang menyerupai olahraga tarik tambang tradisional tersebut.
Keunikan tradisi ini terletak pada penggunaan tumbuhan bun kalot sebagai media utama saat saling tarik-menarik. Para peserta terlihat antusias mengikuti prosesi yang sarat akan nilai-nilai kebersamaan dan kerja sama antarwarga. Selain sebagai ajang interaksi fisik, kegiatan ini juga diselingi dengan penampilan Tari Rejang Giri Putri yang menambah kesan sakral.
Makna filosofis dari penyelenggaraan Mbed-Mbedan adalah upaya kolektif untuk memohon keharmonisan bagi seluruh warga desa. Ritual tahunan ini dipandang sebagai instrumen penting untuk mempererat rasa persaudaraan yang telah terjalin selama ini. Melalui partisipasi aktif warga, warisan budaya leluhur pun dapat terus terjaga dan dilestarikan bagi generasi mendatang.
Pelestarian tradisi semacam Mbed-Mbedan di Indonesia menjadi bukti nyata bagaimana kearifan lokal mampu memperkuat kohesi sosial di tengah modernisasi. Di ranah agraris dan masyarakat desa, nilai kebersamaan yang dipupuk melalui ritual seperti ini merupakan fondasi penting dalam membangun ketahanan komunitas yang tangguh. Keharmonisan sosial yang lahir dari tradisi ini pada akhirnya menjadi modal utama bagi masyarakat untuk bahu-membahu dalam mengelola lingkungan serta sumber daya alam di masa depan.