Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Ketegangan di Selat Hormuz Ancam Jalur Logistik Global dan Nasib Ribuan Pelaut

ALengkong • 2026-03-20 20:21:10

Krisis di Selat Hormuz menahan 20.000 pelaut dan 2.000 kapal. Iran mulai memberlakukan biaya transit tinggi, memicu kekhawatiran krisis energi global.
Krisis di Selat Hormuz menahan 20.000 pelaut dan 2.000 kapal. Iran mulai memberlakukan biaya transit tinggi, memicu kekhawatiran krisis energi global.

Jagosatu.com - Eskalasi ketegangan di Selat Hormuz kini memicu kekhawatiran serius bagi stabilitas arus logistik maritim internasional. Laporan terbaru mengonfirmasi bahwa otoritas Iran mulai menerapkan proses pemeriksaan ketat serta membebankan biaya transit mencapai jutaan dolar AS bagi kapal tanker yang melintas. Kondisi ini membuat sekitar 20.000 pelaut terjebak di dalam Teluk Persia bersama dengan 2.000 kapal komersial yang tidak dapat bergerak bebas.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) telah menyelenggarakan sidang khusus untuk merespons situasi kemanusiaan yang semakin mendesak di kawasan tersebut. Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, menyatakan kesiapannya untuk segera menegosiasikan koridor kemanusiaan demi mengevakuasi kapal dan awak yang tertahan. Namun, inisiatif ini menghadapi jalan buntu setelah delegasi Iran menolak memberikan tanggapan spesifik terkait syarat pembukaan koridor aman tersebut.

Ketidakpastian ini diperparah oleh sikap delegasi Iran yang menjauhkan diri dari deklarasi IMO dengan dalih bahwa pernyataan tersebut tidak mencakup serangan dari pihak Amerika Serikat dan Israel. Sementara itu, Tiongkok menyatakan dukungan prinsipil terhadap pembentukan koridor keamanan namun tetap menuntut kejelasan lebih lanjut terkait mekanisme implementasinya di lapangan. Ketegangan diplomatik yang sengit ini terus membayangi upaya evakuasi internasional yang hingga kini belum membuahkan hasil nyata.

Bagi Indonesia, disrupsi di Selat Hormuz memiliki dampak sistemik yang tidak bisa diabaikan mengingat posisi strategis jalur tersebut bagi pasokan energi global. Sebagai negara importir minyak mentah, hambatan logistik di perairan tersebut berpotensi mengganggu rantai pasok energi dalam negeri yang dapat menekan biaya operasional sektor pertanian dan teknologi pangan. Ketahanan pangan nasional sangat bergantung pada stabilitas harga komoditas global, sehingga stabilitas jalur maritim menjadi faktor penentu dalam menjaga laju ekonomi makro dan produktivitas sektor agraria tanah air.

Editor : ALengkong