Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Dominasi Magnet Tanah Jarang China di Pasar Amerika Serikat Kian Tergerus

ALengkong • 2026-03-20 23:17:08

Ekspor magnet tanah jarang China ke AS terus merosot sementara permintaan dari Eropa melonjak, mencerminkan pergeseran rantai pasok global yang signifikan.
Ekspor magnet tanah jarang China ke AS terus merosot sementara permintaan dari Eropa melonjak, mencerminkan pergeseran rantai pasok global yang signifikan.

Jagosatu.com - Ekspor magnet permanen tanah jarang dari China ke Amerika Serikat mencatatkan penurunan signifikan dalam dua bulan pertama tahun 2026. Data terbaru dari Administrasi Umum Kepabeanan China menunjukkan total pengiriman ke AS hanya mencapai 994 ton, atau turun sekitar 22,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tren negatif ini menjadi indikator kuat melemahnya ketergantungan Washington terhadap pasokan mineral kritis dari Negeri Tirai Bambu tersebut. Penurunan volume ekspor ini telah berlangsung selama tujuh bulan berturut-turut, mempertegas upaya sekutu Barat dalam mendiversifikasi rantai pasok global mereka.

Sebaliknya, pasar Eropa justru menunjukkan pertumbuhan permintaan yang cukup agresif untuk material strategis ini. Total pengiriman ke Uni Eropa melonjak menjadi 4.775 ton, mencatatkan kenaikan tahunan sebesar 28,4 persen di awal tahun 2026. Saat ini, Uni Eropa telah menguasai 44,4 persen dari total ekspor magnet China, menempatkan blok tersebut sebagai destinasi utama melampaui posisi Amerika Serikat dan Korea Selatan. Dinamika perdagangan ini mencerminkan pergeseran prioritas industri di Eropa yang tetap membutuhkan pasokan stabil dari China meski di tengah ketegangan geopolitik.

China hingga saat ini masih memegang dominasi mutlak dalam pengolahan elemen tanah jarang yang krusial bagi berbagai sektor hi-tech. Material ini menjadi komponen inti dalam produksi kendaraan listrik, telepon pintar, hingga teknologi kedirgantaraan yang permintaannya terus meningkat secara global. Ketergantungan dunia terhadap pengolahan mineral China menciptakan tantangan tersendiri bagi stabilitas harga dan ketersediaan bahan baku industri strategis di masa depan. Meskipun ada upaya pengurangan ketergantungan, posisi China sebagai pemain utama dalam rantai pasok mineral dunia masih sulit digantikan dalam waktu singkat.

Bagi Indonesia, tren ini menjadi peringatan penting terkait posisi tawar komoditas mineral tanah jarang dalam ekosistem hilirisasi nasional. Sebagai negara dengan cadangan mineral yang melimpah, Indonesia perlu segera mempercepat penguasaan teknologi pengolahan mandiri agar tidak sekadar menjadi penonton dalam persaingan rantai pasok global. Pemanfaatan sumber daya domestik secara berkelanjutan harus menjadi fokus utama pemerintah untuk menjaga kedaulatan industri di tengah fluktuasi kebijakan perdagangan negara-negara maju.

Editor : ALengkong