Jagosatu.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan bahwa sebanyak 46 Rukun Tetangga (RT) di wilayah Jakarta Timur masih terendam banjir hingga Minggu siang. Bencana ini dipicu oleh intensitas curah hujan yang tinggi pada Sabtu malam serta meluapnya debit air di Kali Cipinang, Kali Cilangkap, dan Kali Sunter. Ketinggian air di lokasi terdampak dilaporkan bervariasi, mulai dari 30 hingga 80 sentimeter.
Kondisi darurat ini terjadi menyusul kenaikan tinggi muka air di sejumlah pos pemantauan, termasuk Pos Pesanggrahan, Cipinang Hulu, Sunter Hulu, dan Krukut Hulu yang sempat berada pada status Siaga 2 dan 3. Sebagai respons cepat, personel gabungan dari Dinas Sumber Daya Air, Dinas Bina Marga, dan Dinas Gulkarmat telah dikerahkan ke lapangan. Upaya penyedotan air dan pembersihan tali-tali air terus dilakukan guna mempercepat proses surutnya genangan.
BPBD DKI Jakarta mengimbau warga untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir susulan akibat cuaca ekstrem. Masyarakat yang berada dalam kondisi darurat dapat segera menghubungi layanan telepon 112 yang beroperasi selama 24 jam penuh. Fokus evakuasi saat ini diprioritaskan bagi kelompok rentan, termasuk warga sakit dan lanjut usia yang terjebak di lokasi banjir.
Fenomena banjir di Jakarta Timur yang terus berulang ini menyoroti kerentanan infrastruktur wilayah terhadap kiriman air dan curah hujan lokal yang tidak tertampung oleh sistem drainase. Bagi sektor pertanian dan tata ruang di Indonesia, permasalahan ini menjadi pengingat kritis akan pentingnya manajemen air berbasis mitigasi bencana yang lebih terintegrasi dari hulu hingga hilir. Kegagalan sistem drainase perkotaan tidak hanya berdampak pada mobilitas warga, tetapi juga mengancam produktivitas ekonomi serta ketahanan pangan di kawasan penyangga ibu kota.