Jagosatu.com - Pemerintah Amerika Serikat kini mengambil langkah kontroversial dengan menempatkan agen imigrasi untuk membantu petugas keamanan bandara yang sedang mengalami kekurangan tenaga kerja.
Kebijakan ini diumumkan menyusul memburuknya situasi di sejumlah bandara besar akibat banyaknya petugas keamanan yang absen atau bahkan mengundurkan diri secara massal.
Tom Homan selaku otoritas perbatasan mengklaim bahwa langkah ini akan mempercepat antrean penumpang meskipun petugas tersebut tidak memiliki pelatihan keamanan bandara yang spesifik.
Namun keputusan tersebut segera menuai kritik keras dari pihak serikat pekerja yang mewakili petugas keamanan di berbagai bandara domestik Amerika Serikat.
Serikat pekerja menegaskan bahwa menempatkan agen imigrasi bukan merupakan solusi atas masalah mendasar terkait kesejahteraan serta gaji petugas yang saat ini tersendat.
Puluhan ribu petugas keamanan bandara diketahui telah bekerja tanpa bayaran selama berminggu-minggu akibat kebuntuan anggaran antara pihak Demokrat dan juga pihak Republik.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa pengerahan agen imigrasi akan terus dilakukan kecuali pihak lawan politiknya menyetujui pendanaan penuh untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri.
Saat ini sekitar sepuluh persen petugas keamanan dilaporkan absen dari tugas mereka terutama pada bandara sibuk seperti di Atlanta dan New York.
Kondisi operasional yang kian memburuk ini memaksa manajemen bandara mencari jalan keluar darurat meskipun efektivitas pengerahan personel non-profesional masih menjadi tanda tanya.
Publik pun mulai menunjukkan kekhawatiran mengenai standar keamanan dan keselamatan operasional bandara selama masa transisi kebijakan yang sangat mendadak dan penuh tekanan.
Bagi Indonesia tantangan menjaga stabilitas operasional bandara harus menjadi prioritas utama guna memastikan sektor logistik dan pariwisata nasional tetap terjaga dengan baik.
Sumber: SCMP Tech