Jagosatu.com - Laporan terbaru mengungkap koordinasi intensif antara Benjamin Netanyahu dan Donald Trump menjelang serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran yang dilakukan bulan Februari lalu.
Percakapan telepon yang belum pernah dipublikasikan ini terjadi kurang dari empat puluh delapan jam sebelum operasi militer besar-besaran terhadap wilayah Iran tersebut resmi dimulai.
Netanyahu dikabarkan mendesak Trump untuk menyetujui serangan presisi yang menyasar Ayatollah Ali Khamenei saat pemimpin tertinggi itu dijadwalkan menghadiri sebuah rapat penting di Teheran.
Intelijen menunjukkan bahwa para petinggi Iran berencana berkumpul di kompleks markas mereka, yang menciptakan celah keamanan bagi pihak koalisi untuk melancarkan serangan dekapitasi langsung.
Strategi dekapitasi pemimpin negara sering kali menjadi taktik pilihan Israel dalam sejarah konflik panjang mereka, meskipun metode ini jarang diadopsi secara resmi oleh Washington.
Sumber menyebutkan bahwa jadwal pertemuan tersebut dimajukan secara mendadak ke hari Sabtu pagi, sehingga memberikan urgensi tambahan bagi Netanyahu dalam meyakinkan pihak Gedung Putih.
Perdana Menteri Israel tersebut selama beberapa dekade telah menantikan momen krusial untuk melumpuhkan kepemimpinan Iran melalui operasi militer yang terukur dan sangat strategis ini.
Netanyahu berargumen bahwa kesempatan emas untuk melenyapkan Khamenei mungkin tidak akan datang kembali, sehingga mereka harus bertindak cepat sebelum target berpindah dari lokasi.
Selain urgensi strategis, Netanyahu juga menyinggung upaya pembalasan atas ancaman pembunuhan terhadap Trump yang diduga didalangi oleh jaringan agen intelijen Iran beberapa waktu lalu.
Kasus rencana pembunuhan tahun dua ribu dua puluh empat yang melibatkan warga Pakistan menjadi salah satu pemicu utama kemarahan Trump terhadap rezim di Teheran.
Departemen Kehakiman Amerika Serikat sebelumnya telah mendakwa pihak terkait karena berupaya merekrut personel untuk menjalankan misi berbahaya yang ditujukan langsung kepada mantan kandidat tersebut.
Operasi ini juga dipandang sebagai respons keras atas insiden masa lalu terkait komandan pasukan elit Iran yang tewas dalam serangan udara Amerika Serikat beberapa tahun lalu.
Keputusan akhir Trump untuk menyetujui operasi ini menandai perubahan sikap drastis dari pemimpin Amerika tersebut yang sebelumnya berkampanye menentang keterlibatan dalam perang jarak jauh.
Eskalasi konflik di Timur Tengah ini kini menjadi sorotan utama komunitas internasional karena potensi dampak stabilitas global yang dihasilkan dari tindakan militer yang sangat agresif.
Ketegangan antara Iran dan Israel serta sekutunya dipastikan akan terus memuncak setelah peristiwa serangan udara yang mengguncang stabilitas regional di Timur Tengah tersebut terjadi.
Indonesia sebagai negara dengan pengaruh diplomasi besar di Timur Tengah harus sangat waspada terhadap dampak ekonomi global akibat ketegangan politik dan militer yang memanas.
Sumber: SCMP Tech