Pembacaan Alkitab : Ratapan 3: 21-22
TEMA : SELALU ADA HARAPAN
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya (ay. 22)
Kitab Ratapan adalah kitab yang mengungkapkan pengalaman penderitaan pribadi yang sangat mendalam dari nabi Yeremia, yang hidup pada masa kehancuran Yerusalem (± 586-587SM).
la mengungkapkan kesedihan dan ratapannya atas kehancuran Yerusalem dan Bait Allah, oleh pasukan Babilonia dibawah pimpinan Nebukadnezar.
Namun ditengah ratapan yang pahit itu, muncul sebuah pengakuan iman yang menguatkan: "Inilah yang kuperhatikan, sebab itu aku berharap: tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya."
Firman ini menegaskan bahwa harapan tidak lahir dari keadaan yang baik semata, melainkan dari ingatan akan kasih setia Tuhan.
Penulis Ratapan mengarahkan hatinya untuk mengingat siapa TUHAN itu. Ketika penderitaan mengaburkan pandangan dan melemahkan iman, kasih setia Tuhan menjadi sumber kekuatan baru, harapan baru.
Itu bukan sekadar perasaan optimis, tetapi keputusan iman untuk percaya bahwa Tuhan tetap bekerja, bahwa Tuhan masih setia dan penuh kasih, sekalipun dalam situasi yang sangat sulit.
Kasih setia Tuhan tidak berkesudahan, artinya, kasih Tuhan tidak habis oleh kegagalan manusia, tidak terhapus oleh kesalahan, dan tidak runtuh oleh penderitaan. Rahmat-Nya selalu tersedia, bahkan ketika umat berada di titik terendah hidupnya.
Firman ini mengajak kita untuk memelihara harapan di tengah realitas hidup. Dalam pergumulan pribadi, keluarga, maupun pelayanan, kita mungkin merasa lelah dan kehilangan arah. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa kasih setia-Nya tetap menopang kehidupan kita.
Sebagai persekutuan umat Tuhan, kita dipanggil untuk menjadi pembawa harapan bagi sesama. Dengan saling menguatkan, saling melayani dengan kasih, dan bersaksi tentang kesetiaan Tuhan. Sebab selama kasih setia Tuhan tetap ada, maka harapan tidak pernah padam. Amin.
Doa: Tuhan, kami percaya didalam kasih dan kuasa-Mu kami mempunyai pengharapan kemenangan dalam kehidupan kami, bimbinglah kami Tuhan. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow