Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Jumat, 8 Mei 2026,  Kidung Agung 8:5-7  Kasih Kristus Tak Tergoyahkan

Alfianne Lumantow • Rabu, 6 Mei 2026 | 11:02 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab : Kidung Agung 8:5-7 

TEMA : KASIH KRISTUS TAK TERGOYAHKAN

“Taruhlah aku seperti materai pada hatimu, seperti materai pada tanganmu karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan!” (ay.6)

 

“Hal paling penting dalam hidup ini adalah belajar mencintai dan membiarkan cinta itu dating.”(Morris schwarts, Pendidik AS).

Di dunia yang tidak pasti, penuh tuntutan, persaingan dan kekerasan, narasi ini membantu mengubah cara pandang kita terhadap hidup.

Hidup bukan terutama tentang menemukan cinta, melainkan menjadi pribadi yang mencintai. Ia mengarahkan kita untuk mau menerima ketidaksempurnaan orang lain.

Ketika itu terjadi, cinta menemukan jalannya sendiri kepada kita, sering kali juga dengan cara yang tak terduga, tetapi selalu bermakna.

 

Ayat 6, “Cinta kuat seperti maut.” Maut, realistas yang tidak bias dihindari dan ditawar. Ketika cinta disamakan dengan maut maka cinta sejati memiliki daya yang sama kuatnya dengan maut: ia dapat menguasai hati dan mengubah hidup seseorang secara total.

Maut, menandai batas terakhir hidup maka cinta sejati menunjuk pada kesetiaan yang bertahan sampai batas paling akhir, tidak mudah goyah oleh penderitaan, pengorbanan dan waktu.

Cinta kuat seperti maut tampak dalam sosok gadis dalam nas ini yang mendorongnya berkorban mencari kekasihnya (3:1-3; 5:2-7), ia pun tak tahan segera mau menemui kekasihnya, bahkan ingin lebih lama bersamanya  (2:17).

Gambaran sifat cerita cinta seperti inilah mendorong gadis ini meminta kekasihnya menempatkan dirinya seperti materai.

Dalam terang iman, ungkapan ini berpuncak pada kasih Kristus, yakni kasih yang tidak mundur bahkan ketika harus melewati maut.

Di sini, cinta berarti komitmen mengasihi yang rela menyerahkan diri. Kasih Allah tidak berhenti di salib, tetapi menerobos kubur dan bangkit dalam kemenangan.

 

Marilah kita hidup bersandar pada Kristus yang bangkit, bukan pada kekuatan diri serta berani menghadapi maut dan penderitaan.

Mari, bagikan pengalaman kasih yang ada pada kita kepada orang lain di sekitar kita bahwa kita semakin yakin kasih Allah pada kita kuat, kekal dan tak tergoyahkan.

 

Doa; Terimakasih Bapa, Engkau mengutus kami untuk terus memberitakasn kasih-Mu bagi kami yang tak tergoyahkan oleh apa dan siapa pun. Amin.

 

Editor : Alfianne Lumantow
#RENUNGAN MALAM #GPIB #SABDA BINA UMAT