YERUSALEM – Setelah sempat diculik Pasukan Pertahanan Israel, seluruh delegasi Global Sumud Flotilla (GSF) dan Freedom Flotilla Coalition (FFC) akhirnya bebas. Mereka, termasuk sembilan warga negara Indonesia (WNI), akan diterbangkan menuju Istanbul, Turki, melalui Bandara Internasional Ramon di Eilat, kota di sisi selatan Negeri Yahudi itu. "Iya, (dibebaskan, red) bersama para WNI," papar Koordinator Media Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) Harfin Naqsyabandy ketika dikonfirmasi Jawa Pos kemarin (21/5). Harfin menerangkan, kepastian itu diperoleh dari tim hukum Adalah, organisasi hak asasi manusia dan pusat hukum independen, kemarin (21/5). Dari informasi terakhir, para aktivis tengah dalam proses deportasi dan pemulangan keluar dari Israel.
Ada 428 aktivis dari 44 negara yang diculik Israel. Mereka dibawa ke Ashdod, juga kota di sisi selatan Israel, setelah 50 kapal mereka yang menuju Gaza dengan membawa berbagai logistik bantuan dibajak di perairan internasional dekat Siprus pada Senin (18/5) dan Selasa (19/5) lalu.
Tim hukum Adalah terus melakukan pemantauan ketat untuk memastikan seluruh aktivis, termasuk WNI, dapat keluar dengan aman tanpa penundaan tambahan. "Karena situasi masih dinamis. Proses pemulangan terus dipantau oleh tim hukum, jalur diplomatik, serta jaringan internasional pendukung flotilla," sambung Harfin. Selama diculik, para aktivis dilaporkan mengalami berbagai tindakan kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi. Bahkan, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengunggah video menganiaya seorang aktivis perempuan. Ben-Gvir politikus ultranasionalis dan pemimpin partai sayap kanan Jewish Power yang menjadi mitra penting koalisi pemerintah Netanyahu. Dia juga sengaja menyebar foto-foto para aktivis yang diperlakukan semena-mena di akun X-nya. "Mereka mengalami pemukulan, penggunaan taser dan peluru karet, penghinaan dan pelecehan, pemaksaan posisi menyakitkan, hingga beberapa korban mengalami luka serius yang harus mendapat perawatan medis," jelas Harfin.
Menurutnya, pihak Adalah telah menekankan bahwa seluruh operasi intersepsi kapal di perairan internasional, penculikan sipil, penahanan sewenang-wenang, hingga tindakan kekerasan terhadap aktivis kemanusiaan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Karena itu pula, GPCI tegas menyebut tindakan Israel sebagai pembajakan dan penculikan. Disinggung soal ada tidaknya rencana membawa kasus ini ke mahkamah internasional, Harfin mengaku, tim masih akan berkoordinasi kembali.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono membenarkan soal kabar pembebasan sembilan WNI yang sebelumnya telah diculik militer Israel. Dia menyebut, mereka sedang dalam perjalanan meninggalkan wilayah Israel menuju Turki. Atas keberhasilan pembebasan tersebut, Sugiono menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada pemerintah Turki atas peran aktif dan dukungan penuh dalam memfasilitasi proses pemulangan. Kemenlu, melalui Direktorat Perlindungan WNI, juga langsung mengoptimal- kan seluruh kanal diplomatik yang tersedia. "Pemerintah Indonesia akan terus mengawal proses pemulangan ini hingga seluruh WNI tiba kembali ke tanah air dengan selamat," ungkapnya.
Internasional Mengutuk
Aksi penganiayaan Ben-Gvir memicu kecaman internasional. Mengutip Anadolu Agency, sedikitnya sepuluh negara memanggil duta besar maupun perwakilan Israel untuk menyampaikan protes atas perlakuan brutal tersebut. Dalam video lain, Ben-Gvir juga meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar para aktivis dipenjara lebih lama. "Saya katakan kepada Perdana Menteri Netanyahu, serahkan mereka kepada saya untuk waktu yang sangat lama. Tempat mereka adalah penjara teroris," kata Ben-Gvir, seperti dikutip dari The National.
Italia menjadi salah satu negara pertama yang melayangkan protes resmi. Kementerian Luar Negeri Italia menyatakan telah memanggil duta besar Israel dan menyampaikan protes keras atas perlakuan terhadap aktivis flotilla. Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski juga mengecam tindakan Ben-Gvir. "Tindakan itu merupakan perilaku yang sangat tidak pantas dari seorang pejabat pemerintah Israel," ujarnya. Kecaman serupa datang dari Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares. "Perlakuan terhadap para aktivis itu tidak manusiawi dan memalukan," katanya.
Baca Juga: Kementerian Haji Dan Umrah: Minat Bayar Dam di Tanah Air Tinggi
Prancis, Belgia, Belanda, Portugal, Australia, Selandia Baru, dan Kanada juga ikut memanggil perwakilan Israel. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyebut, perlakuan Israel terhadap para aktivis sebagai tindakan yang menjijikkan. "Kanada menuntut jaminan keselamatan dan keamanan warga Kanada yang ikut dalam flotilla tersebut," tulis Carney di X. Kritik juga datang dari internal pemerintahan Israel. Netanyahu menilai tindakan Ben-Gvir tidak sesuai dengan nilai dan norma Israel. Meski demikian, dia tetap membela keputusan Israel menghentikan armada bantuan tersebut. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar bahkan secara terbuka menegur Ben-Gvir. "Anda secara sadar merusak negara kita melalui pertunjukan yang memalukan ini," tulisnya di X. (lyn/mia/ttg)
Editor : Pratama Karamoy