Pembacaan Alkitab : Imamat 20:1-9
TEMA : JANGAN MENDUAKAN TUHAN
"Kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan melakukannya. Akulah TUHAN yang menguduskan kamu" (ay.8)
"Jangan ada padamu ilah lain di hadapan-Ku". Demikian bunyi hukum pertama dari Dasa Titah yang Tuhan berikan melalui Musa.
Perintah ini menegaskan identitas Israel sebagai bangsa milik Tuhan yang dipanggil untuk hidup kudus dan setia hanya kepada-Nya. Apa risikonya jika dilanggar? Perikop pagi ini menjawabnya.
Bacaan ini berisikan peringatan Tuhan bagi orang Israel dan kaum pendatang yang tinggal di antara mereka untuk tidak menyembah Dewa Molokh salah satu bentuknya adalah mempersembahkan manusia.
Konsekuensi melanggar peringatan, dilempar dengan batu hingga mati. Bukan hanya orang yang mempraktikkan penyembahan berhala yang mendapat hukuman, penduduk negeri yang membiarkan pun, tidak luput dari hukuman Tuhan. Sungguh mengerikan bila Tuhan telah murka!
Pelajaran penting!
1. Tuhan satu-satunya Allah yang harus disembah, tidak ada yang lain.
2. Menduakan Tuhan membuat IA murka dan kebinasaan kekal adalah hukumannya.
3. Tidak ada pelaku kejahatan yang bebas dari hukuman Tuhan.
Nah, pertanyaan menggelitik "apakah praktik penyembahan berhala masih ada pada masa kini?" Jangan salah!
Berhala masa kini berwujud kecintaan pada uang, jabatan, lebih memilih jalan-jalan daripada beribadah ke gereja, mengandalkan manusia dan bukan Tuhan.
Terlalu percaya pada kemampuan diri dan menganggap keberhasilan yang diraih adalah karena kehebatan/kepintaran diri dan bukan dilihat sebagai berkat dari Tuhan.
Lebih memilih ikut apa yang dipikir baik dan bukan apa yang Tuhan kehendaki.
Saudaraku, marilah kita menempatkan Tuhan dan kehendak-Nya sebagai yang utama, dimulai dari dalam keluarga.
Kiranya kita bertumbuh menjadi pribadi yang setia, percaya, dan taat kepada Tuhan, Sang Sumber Hidup! Selamat beraktivitas! Amin.
Doa: Tuhan, tolong kami hanya menyembah-Mu, percaya serta taat pada perintah-Mu. Mampukan kami menjadi anak bangsa yang mengamalkan nilai-nilai lubur Pancasila. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow