Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Hari Ini Rupiah Berpotensi Sentuh Rp 18 Ribu Per USD

Pratama Karamoy • Jumat, 29 Mei 2026 | 13:58 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

 

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan tajam pada perdagangan Kamis (28/5). Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky menilai, tekanan itu lebih banyak dipengaruhi faktor domestik. Teuku Riefky mengatakan, pelemahan rupiah lebih dalam dibandingkan mata uang negara berkembang lain. Karena itu, faktor eksternal bukan satu-satunya penyebab utama. "Kalau sepenuhnya karena faktor eksternal, seharusnya pelemahan mata uang negara lain relatif sama," ujarnya.

Dia menilai level rupiah yang mendekati Rp 18.000 per dolar AS (USD) tidak lagi sekadar persoalan psikologis pasar, melainkan sudah mencerminkan fundamental ekonomi nasional. Teuku menilai akar persoalan utama justru berada pada sektor fiskal. "Isu utama ada di fiskal. Ini yang perlu dibenahi pemerintah, bukan hanya dari sisi moneter," jelasnya. Dia mengingatkan, pelemahan rupiah berkepanjangan akan memberi tekanan besar terhadap sektor manufaktur yang masih bergantung pada impor bahan baku dan barang modal. Tekanan kurs juga dikhawatirkan memicu kenaikan biaya produksi, harga barang impor, hingga inflasi apabila rupiah bertahan di kisaran Rp 17.800 - 18.000 per dolar AS dalam beberapa bulan ke depan.

Terkait prospek rupiah, Teuku mengaku belum dapat memperkirakan sampai kapan pelemahan akan berlangsung maupun level yang berpotensi dicapai. Namun, dia menekankan pentingnya langkah cepat pemerintah untuk menjaga kepercayaan investor di tengah capital outflow dan tekanan pasar global. "Perbaiki postur fiskal untuk memulihkan kepercayaan investor," pungkasnya. Pada bagian lain, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang makin berat.

Pada perdagangan pagi kemarin, rupiah melemah sekitar 70 poin hingga menyentuh level Rp 17.870 per dolar AS. Ibrahim memperkirakan tekanan masih berlanjut pada perdagangan Jumat (29/5). "Bukan tidak mungkin pembukaan pasar besok rupiah mendekati Rp 18.000 per dolar AS. Faktor eksternal maupun internal sangat mendukung pelemahan rupiah," ujarnya, kemarin (28/5).

Baca Juga: Lawatan Presiden Kontras dengan Kebijakan Efisiensi

Dari sisi eksternal, Ibrahim menyoroti memanasnya geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, konflik Rusia-Ukraina juga kembali memanas setelah Rusia melancarkan serangan besar ke Kiev. "Pasar melihat risiko geopolitik meningkat tajam, baik di Timur Tengah maupun Eropa Timur. Investor akhirnya masuk ke aset safe haven seperti dolar AS," terangnya.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah dipicu tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak, pembayaran dividen, dan kewajiban utang jatuh tempo. Di sisi lain, arus keluar modal asing dinilai makin deras di tengah libur panjang dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi domestik. "Permintaan dolar meningkat cukup tinggi, sementara investor asing cenderung keluar dari pasar domestik. Ini membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar," jelasnya. (mim/oni)

Editor : Pratama Karamoy
#Headline #dollar as #Rupiah