Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Selasa, 9 Juni 2026, Titus 2:11-15  Meninggalkan Kefasikan

Alfianne Lumantow • Kamis, 4 Juni 2026 | 10:33 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab: Titus 2:11-15
Tema: MENINGGALKAN KEFASIKAN

“…dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan saleh di dalam dunia sekarang ini.” (ayat 12)

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kita hidup di zaman yang penuh dengan dinamika dan ketegangan. Konflik antarbangsa, pertikaian antar kelompok, bahkan konflik dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari realitas dunia saat ini.

Manusia sering kali melihat sesamanya sebagai ancaman, bukan sebagai sesama ciptaan Tuhan. Keinginan untuk berkuasa, mengendalikan, dan mendominasi menjadi begitu kuat.

Dalam situasi seperti ini, kita perlu bertanya: dunia seperti apa yang sedang kita hidupi? Dunia yang kita tempati saat ini bukanlah dunia yang sempurna. Dunia ini dipenuhi dengan dosa, dengan kejahatan, dengan keinginan-keinginan yang sering kali menjauhkan manusia dari Tuhan.

Namun sesungguhnya, keadaan seperti ini bukan hal yang baru. Sejak dahulu, manusia sudah bergumul dengan kefasikan dan keinginan duniawi. Itulah sebabnya firman Tuhan dalam Titus 2:11-15 menjadi sangat relevan bagi kita hari ini.

Rasul Paulus menegaskan bahwa kasih karunia Allah telah nyata untuk menyelamatkan semua manusia. Ini adalah kabar sukacita: bahwa Allah tidak tinggal diam melihat manusia yang jatuh dalam dosa. Ia bertindak. Ia menyelamatkan.

Namun, keselamatan itu tidak berhenti pada pengampunan dosa saja. Ayat 12 mengatakan bahwa kasih karunia itu juga mendidik kita. Ini penting untuk kita pahami.

Kasih karunia Tuhan bukan hanya menyelamatkan, tetapi juga membentuk. Bukan hanya mengampuni, tetapi juga mengubahkan.

Tuhan tidak hanya ingin kita bebas dari hukuman dosa, tetapi juga bebas dari kuasa dosa. Karena itu, kita diajar untuk meninggalkan kefasikan dan keinginan duniawi.

Saudara-saudara, Apa itu kefasikan? Kefasikan adalah hidup yang tidak menghormati Tuhan. Hidup yang berpusat pada diri sendiri. Hidup yang mengabaikan kehendak Allah dan lebih memilih keinginan pribadi.

Sementara keinginan duniawi adalah segala sesuatu yang menarik kita menjauh dari Tuhan—keinginan akan kekuasaan, kesenangan yang berlebihan, keserakahan, iri hati, dan berbagai bentuk dosa lainnya.

Masalahnya, sering kali kita tidak menyadari bahwa kita hidup dalam kefasikan.

Mengapa? Karena manusia cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain. Kita merasa diri kita lebih baik, karena melihat orang lain yang tampaknya lebih buruk. Kita mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit mengakui kesalahan sendiri.

Inilah jebakan yang berbahaya. Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk berhenti saling menyalahkan, dan mulai melihat diri sendiri dengan jujur di hadapan Tuhan.

Apakah masih ada kefasikan dalam hidup kita? Apakah masih ada keinginan duniawi yang kita pelihara?

Saudara-saudara, Tuhan tidak hanya menunjukkan apa yang harus kita tinggalkan, tetapi juga menunjukkan bagaimana kita harus hidup.

Paulus menyebut tiga hal penting: bijaksana, adil, dan saleh. Hidup bijaksana berarti kita mampu mengendalikan diri dan membuat keputusan yang benar. Kita tidak hidup sembarangan, tetapi mempertimbangkan setiap langkah dengan hikmat dari Tuhan.

Hidup adil berarti kita memperlakukan orang lain dengan benar. Tidak semena-mena, tidak egois, tetapi penuh kejujuran dan kebenaran.

Hidup saleh berarti kita hidup dalam hubungan yang dekat dengan Tuhan. Kita menghormati Dia, mengandalkan Dia, dan menjadikan Dia pusat kehidupan kita.

Ketiga hal ini sederhana, tetapi sangat mendalam. Dan inilah transformasi yang Tuhan inginkan dalam hidup kita.

Saudara-saudara, Sering kali kita berpikir bahwa perubahan hidup itu sulit. Kita merasa terlalu lemah, terlalu banyak kegagalan, atau terlalu terikat dengan kebiasaan lama.

Namun firman Tuhan mengingatkan kita bahwa perubahan itu dimulai dari kasih karunia Tuhan.

Bukan kekuatan kita yang mengubah hidup kita, tetapi anugerah Tuhan yang bekerja dalam kita.

Ketika kita membuka hati untuk dididik oleh Tuhan, sedikit demi sedikit hidup kita akan berubah.

Kita mulai meninggalkan kebiasaan lama. Kita mulai membangun kebiasaan baru yang benar. Kita mulai hidup dengan cara yang berbeda.

Saudara-saudara, Jika kita melihat dunia saat ini—penuh dengan konflik, kebencian, dan ambisi—kita bisa melihat dengan jelas bagaimana kefasikan bekerja.

Manusia ingin berkuasa atas sesamanya. Manusia ingin menang sendiri. Manusia ingin mengendalikan segalanya.

Namun firman Tuhan berkata: tinggalkan itu semua. Karena semua itu justru menjauhkan kita dari Tuhan. Pertanyaannya: apakah Allah sudah berhenti mendidik manusia? Jawabannya: tidak.

Tuhan masih bekerja sampai hari ini. Ia masih berbicara melalui firman-Nya. Ia masih menegur melalui Roh Kudus. Ia masih membentuk melalui berbagai peristiwa dalam hidup kita.

Setiap pengalaman hidup—baik yang menyenangkan maupun yang sulit—bisa menjadi cara Tuhan mendidik kita. Masalahnya bukan pada Tuhan, tetapi pada kita: apakah kita mau dibentuk?

Saudara-saudara, Meninggalkan kefasikan bukan berarti kita langsung menjadi sempurna. Ini adalah proses. Proses yang membutuhkan kerendahan hati, kesabaran, dan ketekunan.

Namun satu hal yang pasti: Tuhan tidak pernah menyerah atas kita. Ia terus mengajar.
Ia terus membimbing. Ia terus memanggil kita untuk kembali kepada-Nya.

Karena itu, janganlah kita mengeraskan hati. Jika hari ini Tuhan menegur kita, terimalah.
Jika hari ini kita disadarkan akan dosa kita, bertobatlah. Jika hari ini kita dipanggil untuk berubah, melangkahlah.

Saudara-saudara, Hidup dalam dunia yang penuh dengan kefasikan bukan alasan bagi kita untuk ikut menjadi fasik. Justru sebaliknya, kita dipanggil untuk menjadi berbeda.

Kita dipanggil untuk hidup bijaksana di tengah kebodohan dunia. Kita dipanggil untuk hidup adil di tengah ketidakadilan. Kita dipanggil untuk hidup saleh di tengah kefasikan. Inilah kesaksian kita sebagai orang percaya.

Akhirnya, saudara-saudara, Mari kita kembali kepada firman Tuhan hari ini. Mari kita membuka hati untuk dididik oleh kasih karunia Tuhan. Mari kita meninggalkan kefasikan dan keinginan duniawi.

Dan mari kita hidup sebagai orang-orang yang bijaksana, adil, dan saleh—di tengah dunia sekarang ini. Kiranya hidup kita menjadi kesaksian yang memuliakan Tuhan. Tuhan menolong kita semua. Amin.

 

Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu yang menegur dan membentuk kami. Tolong kami meninggalkan kefasikan dan keinginan duniawi. Ajarlah kami hidup bijaksana, adil, dan saleh di hadapan-Mu. Kuatkan kami untuk terus berubah seturut kehendak-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

 

Editor : Alfianne Lumantow
#RENUNGAN PAGI #GPIB #SABDA BINA UMAT