Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, 9 Juni 2026,  Titus 3:1-7  Aku Bukan Seperti Yang Dahulu

Alfianne Lumantow • Kamis, 4 Juni 2026 | 10:36 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab: Titus 3:1-7
Tema: AKU BUKAN SEPERTI YANG DAHULU

“Janganlah mereka memfitnah, hendaklah mereka cinta damai, selalu ramah, dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.” (ayat 2)

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kita hidup di dunia yang tidak pernah lepas dari konflik. Setiap hari kita mendengar kabar tentang pertikaian, permusuhan, bahkan kekerasan.

Tidak hanya di luar sana, tetapi kadang juga terjadi di lingkungan terdekat kita—di keluarga, di tempat kerja, bahkan di dalam gereja.

Fitnah, kata-kata kasar, sikap tidak ramah, dan kurangnya kelemahlembutan seolah menjadi hal yang biasa. Orang mudah tersinggung, cepat marah, dan sulit mengampuni. Dunia kita dipenuhi oleh amarah, kebencian, dan dendam.

Di tengah kondisi seperti ini, firman Tuhan hari ini berbicara dengan sangat jelas dan tegas: jangan memfitnah, cintailah damai, bersikap ramah, dan tunjukkan kelemahlembutan kepada semua orang.

Nasihat ini sederhana, tetapi sangat dalam. Sederhana untuk didengar, tetapi tidak mudah untuk dilakukan.

Mengapa demikian? Karena ketika kita disakiti, reaksi alami kita adalah membalas. Ketika kita diperlakukan tidak adil, kita ingin membela diri.

Ketika kita difitnah, kita ingin membalas dengan cara yang sama. Namun firman Tuhan memanggil kita untuk hidup dengan cara yang berbeda.

Saudara-saudara, Paulus memberikan nasihat ini kepada jemaat di Kreta, sebuah tempat yang dikenal dengan kehidupan moral yang buruk. Orang-orang di sana terbiasa hidup dalam kebohongan, kekerasan, dan sikap yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Jemaat Kristen yang hidup di tengah lingkungan seperti itu tentu menghadapi tekanan yang besar. Mereka bisa saja terpengaruh dan menjadi sama seperti lingkungan mereka. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian dari mereka mulai menunjukkan perilaku yang tidak jauh berbeda dari orang-orang di sekitar mereka.

Karena itu, Paulus mengingatkan mereka: jangan seperti itu! Mengapa? Karena mereka bukan lagi orang yang sama.

Ayat 3 memberikan gambaran yang sangat jujur tentang kehidupan mereka di masa lalu: hidup dalam kebodohan, tidak taat, sesat, menjadi hamba dari berbagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, saling membenci.

Itulah mereka dahulu. Dan jika kita jujur, gambaran ini juga mencerminkan kehidupan banyak orang—termasuk kita—sebelum mengenal Kristus. Namun kabar baiknya tidak berhenti di situ.

Ayat 4-5 mengatakan bahwa ketika kasih dan kemurahan Allah dinyatakan, Ia menyelamatkan kita—bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya.

Saudara-saudara, Inilah inti dari iman kita: kita diselamatkan oleh kasih karunia Tuhan. Bukan karena kita layak. Bukan karena kita baik. Tetapi karena Tuhan mengasihi kita. Dan keselamatan itu membawa perubahan.

Tuhan tidak hanya menyelamatkan kita, tetapi juga memperbarui kita. Ia membasuh kita, membarui kita melalui Roh Kudus, dan menjadikan kita ciptaan yang baru.

Artinya, kita tidak lagi sama seperti dahulu. Tema kita hari ini berkata: “Aku bukan seperti yang dahulu.” Ini bukan sekadar kalimat, tetapi sebuah pengakuan iman. Sebuah identitas baru.

Namun pertanyaannya: apakah kita sungguh-sungguh hidup sebagai orang yang sudah berubah?

Saudara-saudara, Sering kali kita masih membawa kebiasaan lama dalam kehidupan yang baru. Kita masih mudah marah, masih suka membicarakan orang lain, masih sulit mengampuni, masih menyimpan dendam.

Jika demikian, maka kita perlu bertanya: apakah kita sungguh-sungguh menyadari siapa kita sekarang? Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk tidak kembali kepada kehidupan lama.

Jangan lagi memfitnah. Jangan lagi hidup dalam permusuhan. Jangan lagi bersikap kasar. ebaliknya, kita dipanggil untuk: Mencintai damai, Bersikap ramah, Dan hidup dalam kelemahlembutan.

Saudara-saudara, Ini bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kekuatan rohani. Orang yang lemah adalah orang yang tidak bisa mengendalikan dirinya. Tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan diri, mengampuni, dan tetap berbuat baik meskipun disakiti.

Yesus sendiri memberikan teladan ini. Ketika Ia disakiti, Ia tidak membalas. Ketika Ia difitnah, Ia tetap diam. Ketika Ia disalibkan, Ia bahkan berdoa bagi mereka yang menyakiti-Nya. Inilah standar hidup kita sebagai pengikut Kristus.

Saudara-saudara, Memang tidak mudah untuk hidup seperti ini. Kita tidak bisa melakukannya dengan kekuatan sendiri. Kita membutuhkan pertolongan Tuhan setiap hari.

Perubahan hidup adalah sebuah proses. Kadang kita jatuh, kadang kita gagal, kadang kita kembali melakukan kesalahan yang sama. Namun Tuhan tidak berhenti bekerja dalam hidup kita. Ia terus membentuk, Ia terus memperbarui, Ia terus mengajar kita untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Karena itu, jangan menyerah. Jika hari ini kita masih bergumul dengan amarah, serahkan kepada Tuhan. Jika hari ini kita masih menyimpan dendam, minta kekuatan untuk mengampuni. Jika hari ini kita masih hidup seperti yang dahulu, ambil keputusan untuk berubah.

Saudara-saudara, Mari kita gemakan bersama dalam hati kita: “Aku bukan seperti yang dahulu.” Dahulu aku hidup dalam dosa, sekarang aku hidup dalam kasih Tuhan. Dahulu aku penuh kebencian, sekarang aku belajar mengasihi. Dahulu aku mudah menyakiti, sekarang aku mau menjadi berkat. Inilah identitas kita yang baru.

Akhirnya, saudara-saudara, Hidup kita adalah kesaksian. Dunia melihat kita, dan melalui kita, mereka melihat Kristus. Jika kita hidup sama seperti dunia, maka tidak ada perbedaan. Tetapi jika kita hidup dalam kasih, kelemahlembutan, dan damai, maka dunia akan melihat sesuatu yang berbeda.

Mari kita hidupi perubahan itu. Bukan hanya dalam kata, tetapi dalam tindakan. Bukan hanya di gereja, tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Kiranya setiap orang yang melihat kita dapat berkata: “Dia benar-benar berbeda. Dia bukan seperti yang dahulu.” Tuhan menolong kita semua. Amin.

Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih karena Engkau telah memperbarui hidup kami. Tolong kami meninggalkan kehidupan lama dan hidup dalam kasih, damai, dan kelemahlembutan. Mampukan kami mengampuni dan tidak membalas kejahatan. Jadikan kami saksi-Mu dalam kehidupan sehari-hari. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
#renungan m #GPIB #SABDA BINA UMAT