Arkeologi Bali Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Jawa Kalimantan Kesehatan Lifestyle & Hiburan Maluku Nasional Nusa Tenggara Timur Olahraga Papua Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Jumat, 12 Juni 2026,  Yakobus 4:11-17  Jika Tuhan Berkenan

Alfianne Lumantow • Selasa, 9 Juni 2026 | 10:15 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

PEMBACAAN ALKITAB: Yakobus 4:13-17
TEMA: JIKA TUHAN BERKENAN

“Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.’” (Yakobus 4:15)

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat seperti ini: “Jika Tuhan berkenan,” atau “Jika Tuhan mengizinkan.” Bagi sebagian orang, kalimat ini mungkin terdengar seperti kebiasaan rohani, bahkan mungkin dianggap sebagai formalitas belaka. Namun sesungguhnya, kalimat ini mengandung makna iman yang sangat dalam.

Ucapan “Jika Tuhan berkenan” bukan sekadar kata-kata, tetapi sebuah pengakuan bahwa hidup kita sepenuhnya berada dalam tangan Tuhan. Ini adalah pernyataan iman bahwa kita bukan penguasa atas hidup kita sendiri, melainkan Tuhanlah yang berdaulat atas segala sesuatu.

Yakobus dalam bagian ini menegur sekelompok orang, khususnya para pedagang, yang merencanakan masa depan mereka dengan penuh keyakinan, tetapi tanpa melibatkan Tuhan. Mereka berkata, “Hari ini atau besok kami akan pergi ke kota anu, kami akan tinggal di sana setahun, berdagang dan mendapat untung.” Mereka berbicara seolah-olah masa depan ada di tangan mereka.

Namun Yakobus mengingatkan bahwa sikap seperti ini adalah kesombongan. Mengapa? Karena mereka melupakan satu hal yang paling penting: Tuhan adalah Penentu segala sesuatu.

Ada sebuah ungkapan yang terkenal: “Man proposes, God disposes.” Manusia boleh merencanakan, tetapi Tuhanlah yang menentukan. Kita boleh memiliki rencana yang matang, strategi yang hebat, dan keyakinan yang besar, tetapi semua itu tetap berada di bawah kedaulatan Tuhan.

Saudara-saudari, kita sering jatuh dalam kesalahan yang sama. Di awal kita mungkin melibatkan Tuhan. Kita berdoa, kita meminta petunjuk, kita berserah. Namun seiring waktu, ketika kita mulai merasa terbiasa, merasa mampu, merasa sudah tahu caranya, kita mulai mengandalkan diri sendiri.

Doa mulai berkurang. Ketergantungan pada Tuhan mulai memudar. Kita mulai merasa bahwa semuanya bisa kita atur sendiri.

Inilah yang menjadi persoalan utama: ketika manusia merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa hidup manusia itu rapuh dan tidak pasti. Yakobus mengatakan bahwa hidup kita seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Artinya, kita tidak memiliki kendali penuh atas hidup kita. Bahkan hari esok pun kita tidak tahu.

Karena itu, sikap yang benar adalah hidup dalam ketergantungan kepada Tuhan.

Apa artinya hidup dengan berkata “Jika Tuhan berkenan”?

Pertama, hidup dengan kerendahan hati.
Kita mengakui bahwa kita terbatas. Kita tidak tahu segala sesuatu. Kita tidak bisa mengendalikan semua hal. Kita membutuhkan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita.

Kedua, melibatkan Tuhan dalam setiap rencana.
Sebelum kita membuat keputusan, kita bertanya kepada Tuhan. Kita berdoa, mencari kehendak-Nya, dan meminta pimpinan-Nya. Kita tidak hanya mengandalkan logika atau pengalaman.

Ketiga, siap menerima kehendak Tuhan.
Kadang rencana kita tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Ada rencana yang gagal, ada harapan yang tidak terwujud. Dalam situasi seperti ini, kita belajar untuk percaya bahwa kehendak Tuhan selalu lebih baik.

Saudara-saudari yang terkasih, mungkin kita pernah mengalami kegagalan dalam hidup. Rencana yang sudah disusun dengan baik tiba-tiba tidak berjalan. Usaha yang sudah dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak menghasilkan apa yang diharapkan.

Kita mungkin bertanya, “Mengapa ini terjadi?”

Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk melihat lebih dalam. Mungkin bukan hanya karena faktor teknis, tetapi karena kita lupa melibatkan Tuhan. Atau mungkin Tuhan memiliki rencana yang lebih besar yang belum kita pahami.

Sering kali, ketika kita berjalan bersama Tuhan, kita justru mengalami sesuatu yang lebih indah dari apa yang kita rencanakan. Tuhan tidak hanya menjawab doa kita, tetapi melampaui apa yang kita bayangkan.

Ini karena Tuhan penuh kasih. Ia tahu apa yang terbaik bagi kita. Ia melihat apa yang tidak kita lihat.

Karena itu, hidup dengan berkata “Jika Tuhan berkenan” bukan berarti kita pasif atau tidak merencanakan apa-apa. Justru sebaliknya, kita tetap merencanakan, tetapi dengan sikap hati yang benar: berserah kepada Tuhan.

Kita bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap bergantung pada Tuhan. Kita berusaha dengan maksimal, tetapi tetap menyadari bahwa hasilnya ada di tangan Tuhan.

Yakobus juga mengingatkan bahwa mengetahui yang baik tetapi tidak melakukannya adalah dosa. Artinya, kita tidak hanya berhenti pada pengakuan bahwa Tuhan berdaulat, tetapi kita harus benar-benar hidup dalam ketaatan kepada-Nya.

Jika kita tahu bahwa kita harus melibatkan Tuhan, maka lakukanlah. Jangan menunda. Jangan menganggap remeh.

Saudara-saudari, malam ini mari kita merenungkan hidup kita:

Jika kita menyadari bahwa kita telah melupakan Tuhan dalam perjalanan hidup kita, mari kita kembali kepada-Nya.

Mulailah lagi dari awal. Libatkan Tuhan dalam setiap hal, sekecil apa pun itu.

Ketika kita bangun pagi, serahkan hari itu kepada Tuhan.
Ketika kita bekerja, mintalah hikmat-Nya.
Ketika kita mengambil keputusan, carilah kehendak-Nya.

Dan dalam setiap langkah, katakan dengan iman:
“Jika Tuhan berkenan.”

Akhirnya, saudara-saudari, hidup yang diberkati bukanlah hidup yang selalu berjalan sesuai rencana kita, tetapi hidup yang berjalan sesuai kehendak Tuhan.

Karena ketika kita berjalan bersama Tuhan, kita tidak hanya mencapai tujuan, tetapi kita mengalami kasih dan penyertaan-Nya dalam setiap langkah.

Kiranya kita menjadi orang-orang yang hidup dalam ketergantungan kepada Tuhan, yang selalu melibatkan-Nya dalam setiap rencana, dan yang dengan rendah hati berkata:

“Jika Tuhan berkenan.” Amin.

 

Doa : Tuhan yang berdaulat, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Ajari kami melibatkan Engkau dalam setiap rencana hidup kami. Jauhkan kami dari kesombongan dan sikap mengandalkan diri sendiri. Tuntun langkah kami agar selalu berjalan sesuai kehendak-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
#sabda bina u #RENUNGAN MALAM #GPIB