Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Rabu, 8 Juli 2026, Amsal 25:21-22  Membalas Dengan Kebaikan

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Senin, 6 Juli 2026 | 08:36 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab: Amsal 25:21-22
Tema: MEMBALAS DENGAN KEBAIKAN

"Karena engkau akan membuatnya malu seperti menimbun bara api di atas kepalanya, dan TUHAN akan membalas kebaikan itu kepadamu." (Amsal 25:22)

Shalom, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Kehidupan yang kita jalani saat ini dipenuhi dengan berbagai tantangan. Di berbagai belahan dunia terjadi peperangan, konflik antarbangsa, krisis ekonomi, bencana alam, serta berbagai persoalan sosial yang membuat banyak orang hidup dalam ketidakpastian.

Di tengah perkembangan media sosial, berita dan komentar yang bernada kebencian juga tersebar begitu cepat. Perbedaan pandangan sering kali berubah menjadi permusuhan. Perselisihan kecil mudah berkembang menjadi pertengkaran yang besar.

Bahkan dalam kehidupan keluarga, lingkungan kerja, maupun pelayanan di gereja, hubungan antar sesama sering kali retak karena setiap orang merasa dirinya paling benar dan ingin membalas perlakuan yang diterimanya.

Dalam situasi seperti itu, firman Tuhan pada malam hari ini memberikan pengajaran yang sangat berbeda dengan cara berpikir dunia. Amsal 25:21-22 berkata, "Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. Karena engkau akan membuatnya malu seperti menimbun bara api di atas kepalanya, dan TUHAN akan membalas kebaikan itu kepadamu."

Firman ini mungkin terdengar sulit untuk dilakukan. Secara manusiawi, ketika seseorang menyakiti kita, reaksi yang paling mudah muncul adalah membalas. Jika kita dihina, kita ingin menghina kembali.

Jika kita diperlakukan tidak adil, kita ingin melakukan hal yang sama. Kita merasa bahwa membalas adalah cara untuk mempertahankan harga diri dan menunjukkan bahwa kita tidak lemah.

Namun hikmat Tuhan mengajarkan jalan yang berbeda. Tuhan tidak memerintahkan kita untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan membalas kejahatan dengan kebaikan. Mengapa? Karena kebencian tidak pernah dapat dikalahkan oleh kebencian.

Api tidak akan padam jika disiram dengan api. Kebencian hanya akan melahirkan kebencian yang baru. Dendam akan melahirkan dendam berikutnya. Akibatnya, hubungan yang rusak semakin sulit dipulihkan.

Perhatikan bahwa firman Tuhan berkata, "Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan." Musuh yang dimaksud di sini bukanlah orang yang baik kepada kita, melainkan orang yang pernah menyakiti, mengecewakan, atau bahkan memusuhi kita. Kepada orang seperti itulah Tuhan meminta kita menunjukkan kasih melalui tindakan nyata.

Memberi makan kepada orang yang lapar dan memberi minum kepada orang yang haus merupakan ungkapan belas kasih yang sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Artinya, kita dipanggil untuk tetap memperhatikan kebutuhan sesama, sekalipun hubungan kita dengannya tidak baik.

Mengapa Tuhan menghendaki hal seperti ini? Karena kasih Allah tidak bergantung pada perlakuan manusia. Allah tetap mengasihi manusia ketika manusia masih hidup dalam dosa. Kasih-Nya tidak didasarkan pada kelayakan kita, melainkan pada karakter-Nya sendiri. Sebagai anak-anak Tuhan, kita dipanggil untuk memancarkan kasih yang sama kepada dunia.

Ayat 22 mengatakan bahwa tindakan tersebut akan membuat musuh "malu seperti menimbun bara api di atas kepalanya." Ungkapan ini sering kali disalahpahami sebagai bentuk hukuman. Padahal, dalam pengertian hikmat Perjanjian Lama, "bara api" menggambarkan rasa malu, penyesalan, atau hati nurani yang tersentuh karena menerima kebaikan yang tidak disangka-sangka.

Bayangkan seseorang yang selama ini membenci kita, tetapi ketika ia mengalami kesulitan, justru kita datang menolongnya. Kemungkinan besar ia akan merasa tersentuh dan mulai mempertanyakan sikapnya sendiri. Kebaikan memiliki kekuatan yang dapat melunakkan hati yang keras. Memang tidak semua orang akan langsung berubah.

Ada juga yang tetap bersikap buruk. Namun tugas kita bukan mengubah hati orang lain. Tugas kita adalah taat kepada firman Tuhan. Perubahan hati adalah pekerjaan Roh Kudus.

Tuhan Yesus sendiri menjadi teladan sempurna dalam hal ini. Ketika Ia difitnah, Ia tidak membalas. Ketika dihina, Ia tidak mengutuk. Bahkan ketika tergantung di kayu salib, Ia masih berdoa, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."

Kasih Kristus mengalahkan kebencian, dan pengampunan-Nya membuka jalan keselamatan bagi manusia. Jika Kristus telah lebih dahulu mengampuni kita, bagaimana mungkin kita terus memelihara dendam kepada sesama?

Rasul Paulus mengutip ayat ini dalam Roma 12:20-21 dan kemudian menambahkan sebuah penegasan yang sangat penting, "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan." Inilah kemenangan yang sejati menurut Tuhan.

Dunia menganggap kemenangan adalah ketika musuh berhasil dikalahkan. Tetapi Tuhan mengajarkan bahwa kemenangan sejati terjadi ketika hati kita tidak dikuasai oleh kebencian, amarah, dan dendam.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Membalas dengan kebaikan bukan berarti kita membenarkan kejahatan atau membiarkan ketidakadilan terus berlangsung. Membalas dengan kebaikan juga bukan berarti kita tidak boleh mencari keadilan melalui cara-cara yang benar.

Firman Tuhan mengajarkan bahwa kita tetap dapat menegakkan kebenaran tanpa dipenuhi kebencian. Kita dapat bersikap tegas tanpa kehilangan kasih. Kita dapat menolak kejahatan tanpa menjadi pelaku kejahatan.

Karena itu, firman Tuhan hari ini mengajak kita memeriksa hati kita masing-masing. Apakah masih ada luka yang belum kita lepaskan? Apakah masih ada dendam yang kita simpan terhadap seseorang? Apakah ada orang yang sulit kita ampuni karena pernah menyakiti kita? Barangkali nama seseorang langsung terlintas dalam pikiran kita saat mendengar firman ini. Tuhan mengundang kita untuk menyerahkan semua kepahitan itu kepada-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat mempraktikkan firman ini melalui hal-hal sederhana. Ketika ada orang yang berbicara kasar kepada kita, kita memilih menjawab dengan lemah lembut. Ketika ada rekan kerja yang tidak menyukai kita, kita tetap bersikap profesional dan menghormatinya.

Ketika ada anggota keluarga yang pernah melukai hati kita, kita tetap membuka pintu untuk berdamai. Ketika media sosial dipenuhi ujaran kebencian, kita memilih menyebarkan perkataan yang membangun dan membawa damai.

Mungkin tindakan seperti itu terlihat kecil. Namun justru melalui kesetiaan dalam perkara-perkara kecil, terang Kristus bersinar. Dunia sedang membutuhkan lebih banyak orang percaya yang menghadirkan kasih di tengah kebencian, pengampunan di tengah dendam, dan damai sejahtera di tengah pertikaian.

Firman Tuhan juga memberikan sebuah janji yang indah, "TUHAN akan membalas kebaikan itu kepadamu." Perhatikan bahwa Tuhan tidak meminta kita mencari balasan dari manusia. Tuhan sendiri yang akan memperhatikan setiap perbuatan baik yang dilakukan dengan tulus. Mungkin kebaikan kita tidak dihargai oleh orang lain.

Mungkin pengampunan kita dianggap kelemahan. Namun Tuhan tidak pernah menutup mata terhadap setiap tindakan kasih yang kita lakukan. Ia mengenal hati kita dan menyediakan upah menurut waktu-Nya yang sempurna.

Marilah kita mengingat bahwa sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk hidup berbeda dari dunia. Dunia membalas dengan kebencian, tetapi kita membalas dengan kasih. Dunia memelihara dendam, tetapi kita memilih mengampuni. Dunia memperpanjang pertikaian, tetapi kita menjadi pembawa damai.

Kiranya melalui kehidupan kita, orang-orang dapat melihat bahwa kasih Kristus benar-benar hidup di dalam hati kita. Biarlah setiap perkataan, sikap, dan tindakan kita menjadi kesaksian bahwa Tuhan sedang bekerja melalui hidup kita. Ketika kita memilih membalas kejahatan dengan kebaikan, kita sedang memperlihatkan karakter Kristus kepada dunia.

Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk hidup sesuai dengan firman-Nya, sehingga melalui hidup kita banyak orang mengalami kasih, damai sejahtera, dan pengharapan yang berasal dari Tuhan. Amin.

 

Doa : Ya Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu yang mengajar kami membalas kejahatan dengan kebaikan. Mampukan kami mengampuni, mengasihi, dan menjadi pembawa damai di tengah dunia yang penuh kebencian. Biarlah hidup kami memuliakan nama-Mu dan menjadi kesaksian kasih Kristus. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN MALAM GPIB SABDA BINA UMAT