Pembacaan Alkitab: Kejadian 45:8–9
Tema: Rancangan Allah, Rancangan Keselamatan
"Segeralah kembali kepada ayah dan katakanlah kepadanya: Beginilah kata Yusuf, anakmu: Allah telah menjadikan aku tuan atas seluruh Mesir. Datanglah kepadaku, jangan menunda-nunda." (Kejadian 45:9)
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan ini, tidak semua peristiwa dapat kita pahami saat itu juga. Ada masa-masa ketika kita bertanya, "Mengapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi?" Pertanyaan seperti itu sering muncul ketika kita menghadapi penderitaan, kehilangan, penolakan, atau pengkhianatan.
Kita merasa seolah-olah jalan hidup yang kita tempuh penuh dengan belokan yang tidak masuk akal. Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa di balik perjalanan hidup yang tampaknya berliku, ada Allah yang sedang mengerjakan rancangan-Nya yang sempurna.
Kisah Yusuf adalah salah satu contoh paling jelas tentang bagaimana Allah bekerja melalui keadaan yang paling sulit sekalipun. Sejak muda, Yusuf mengalami banyak penderitaan. Ia dibenci oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, difitnah oleh istri Potifar, dipenjara tanpa kesalahan, bahkan sempat dilupakan oleh orang yang pernah ditolongnya. Jika dilihat dari sudut pandang manusia, hidup Yusuf tampak sebagai rangkaian kemalangan yang tidak berkesudahan.
Namun ketika tiba waktunya Allah bertindak, semua pengalaman pahit itu ternyata menjadi bagian dari rencana besar-Nya. Yusuf diangkat menjadi penguasa di Mesir, tepat pada saat dunia dilanda kelaparan. Dari posisi itulah Allah memakai Yusuf untuk menyelamatkan banyak orang, termasuk keluarganya sendiri.
Dalam Kejadian 45:8 Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya, "Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah." Pernyataan ini menunjukkan kedewasaan iman yang luar biasa. Yusuf tidak sedang mengatakan bahwa saudara-saudaranya tidak bersalah. Perbuatan mereka tetap merupakan dosa yang harus dipertanggungjawabkan. Mereka telah bertindak karena iri hati dan kebencian.
Tetapi Yusuf memilih melihat sesuatu yang lebih besar daripada kesalahan manusia. Ia melihat tangan Allah yang bekerja melampaui kejahatan manusia. Apa yang dimaksudkan manusia untuk mencelakakan dirinya, justru dipakai Allah menjadi jalan keselamatan.
Inilah yang sering kali sulit kita pahami. Ketika sedang berada di tengah penderitaan, kita hanya melihat luka. Kita hanya melihat air mata dan kegagalan. Tetapi Allah melihat akhir dari perjalanan hidup kita. Ia mengetahui bagaimana setiap pengalaman, bahkan yang paling menyakitkan sekalipun, dapat dipakai untuk membentuk karakter, menguatkan iman, dan membawa kita kepada tujuan yang lebih besar.
Rancangan Allah sering kali berbeda dengan rancangan manusia. Manusia menginginkan jalan yang mudah, cepat, dan tanpa penderitaan. Tetapi Allah lebih peduli pada pembentukan hidup daripada kenyamanan sesaat. Melalui proses yang panjang, Yusuf belajar menjadi pribadi yang rendah hati, sabar, bijaksana, dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Seandainya Yusuf langsung menjadi penguasa tanpa melewati penderitaan, mungkin ia tidak akan memiliki karakter yang mampu memimpin bangsa sebesar Mesir.
Karena itu, setiap proses yang Tuhan izinkan dalam hidup kita memiliki maksud. Mungkin saat ini ada di antara kita yang sedang menghadapi pergumulan keluarga, masalah ekonomi, penyakit, kehilangan pekerjaan, atau konflik dalam pelayanan. Semua itu tidak berarti Tuhan meninggalkan kita. Justru di tengah keadaan seperti itulah Tuhan sedang bekerja dengan cara yang mungkin belum kita pahami.
Setelah menyatakan bahwa Allah yang mengutusnya ke Mesir, Yusuf memberikan perintah kepada saudara-saudaranya, "Segeralah kembali kepada ayah dan katakanlah kepadanya.... Datanglah kepadaku, jangan menunda-nunda."
Perkataan ini mengandung makna yang sangat dalam. Yusuf tidak berhenti pada pengampunan pribadi. Ia ingin seluruh keluarganya mengalami pemulihan dan keselamatan. Ia mengundang ayahnya, Yakub, beserta seluruh keluarganya untuk datang ke Mesir agar mereka terpelihara dari bencana kelaparan.
Di sini kita melihat bahwa keselamatan yang Allah kerjakan melalui Yusuf tidak hanya berlaku bagi satu orang, tetapi bagi seluruh keluarga. Allah memakai Yusuf sebagai alat untuk menyelamatkan banyak kehidupan.
Lebih jauh lagi, perpindahan Yakub dan seluruh keluarganya ke Mesir ternyata menjadi bagian dari sejarah keselamatan yang jauh lebih besar. Di Mesir, keturunan Yakub bertambah banyak hingga akhirnya menjadi bangsa Israel. Kelak, melalui bangsa inilah Allah menyatakan karya keselamatan-Nya bagi dunia.
Hal ini mengajarkan bahwa apa yang kita anggap sebagai peristiwa biasa, sesungguhnya dapat menjadi bagian dari rencana Allah yang besar. Tidak ada langkah yang sia-sia ketika hidup kita berada di dalam tangan Tuhan.
Kalimat "jangan menunda-nunda" juga menjadi pesan penting bagi kita hari ini. Ketika Tuhan membuka jalan, kita dipanggil untuk merespons dengan ketaatan. Yakub harus meninggalkan tanah yang telah lama ia tempati dan pergi menuju tempat yang telah Allah sediakan. Keputusan itu tentu tidak mudah, tetapi justru melalui langkah iman itulah Allah memelihara kehidupan keluarganya.
Demikian juga dalam hidup kita. Ada kalanya Tuhan memanggil kita untuk mengambil langkah baru. Mungkin langkah untuk berdamai dengan seseorang, memulai pelayanan, memperbaiki hubungan keluarga, meninggalkan kebiasaan yang tidak baik, atau semakin setia mengikuti kehendak-Nya. Jangan menunda ketika Tuhan sudah menunjukkan jalan-Nya.
Sering kali kita kehilangan kesempatan karena terlalu lama menunggu waktu yang menurut kita sempurna. Padahal waktu terbaik adalah ketika Tuhan memanggil kita untuk bertindak.
Saudara-saudara, Kisah Yusuf juga mengajarkan bahwa orang yang memahami rancangan Allah tidak akan hidup dalam kebencian. Yusuf tetap mengasihi saudara-saudaranya, meskipun mereka pernah melukai hidupnya. Ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi membalasnya dengan kasih dan pertolongan.
Inilah teladan yang sangat dibutuhkan pada zaman sekarang. Dunia sering mengajarkan bahwa membalas adalah bentuk keadilan. Tetapi firman Tuhan mengajarkan bahwa kasih lebih kuat daripada dendam. Ketika kita memilih mengampuni dan tetap berbuat baik kepada orang yang pernah menyakiti kita, kita sedang memberikan ruang bagi Allah untuk menyatakan karya-Nya.
Mungkin kita tidak dapat melihat hasilnya saat ini. Namun Allah tidak pernah gagal menggenapi rencana-Nya. Ia sanggup mengubah hati manusia. Ia sanggup memulihkan hubungan yang rusak. Ia sanggup mengubah air mata menjadi sukacita.
Saudara-saudara yang terkasih, Ada satu pelajaran penting dari kehidupan Yusuf, yaitu bahwa iman tidak diukur dari seberapa sedikit masalah yang kita hadapi, tetapi dari seberapa besar kepercayaan kita kepada Allah di tengah masalah itu.
Yusuf tidak pernah mengetahui bagaimana akhir dari penderitaannya. Ia hanya terus setia menjalani setiap tahap kehidupan yang Tuhan izinkan. Ketika menjadi budak, ia tetap setia. Ketika dipenjara, ia tetap setia. Ketika menjadi penguasa, ia tetap rendah hati. Kesetiaan itulah yang membuat Yusuf akhirnya melihat sendiri bagaimana Allah mengubah seluruh perjalanan hidupnya menjadi berkat.
Demikian pula dengan kita. Kita mungkin belum mengetahui apa yang sedang Tuhan persiapkan. Mungkin hari ini kita masih berada dalam proses yang berat. Namun jangan kehilangan pengharapan. Allah tidak pernah bekerja tanpa tujuan. Apa yang hari ini tampak sebagai penderitaan, suatu saat dapat menjadi kesaksian tentang kesetiaan Tuhan.
Karena itu, marilah kita terus percaya kepada-Nya. Jangan menyerah ketika menghadapi kesulitan. Jangan membiarkan kebencian menguasai hati kita. Tetaplah menjadi pribadi yang mengasihi, memberkati, dan setia melakukan kehendak Tuhan, bahkan kepada mereka yang pernah melukai kita.
Sebab Allah yang bekerja dalam kehidupan Yusuf adalah Allah yang sama yang bekerja dalam kehidupan kita hari ini. Ia tetap memegang kendali atas setiap perjalanan hidup anak-anak-Nya. Tidak ada keadaan yang terlalu rusak untuk dipulihkan-Nya, tidak ada luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan-Nya, dan tidak ada masa depan yang terlalu gelap untuk diterangi oleh kasih-Nya.
Percayalah, rancangan Allah selalu merupakan rancangan keselamatan. Pada waktu-Nya yang sempurna, Ia akan mengubah segala sesuatu menjadi indah dan mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya. Amin.
Doa : Bapa Surgawi, kami bersyukur atas firman-Mu yang menguatkan iman kami. Ajarlah kami percaya pada rancangan-Mu yang sempurna, sekalipun kami harus melewati penderitaan. Mampukan kami tetap mengasihi, mengampuni, dan setia mengikuti kehendak-Mu. Pimpin langkah kami dalam rencana keselamatan-Mu. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow