Pembacaan Alkitab : 1 Yohanes 2:28 – 3:3
TEMA : IDENTITAS YANG MENUNJUKKAN SIAPA KITA
Shalom, sobat pemuda yang dikasihi Tuhan. Di zaman sekarang, pertanyaan tentang identitas menjadi sesuatu yang sangat penting. Banyak anak muda berusaha menemukan jati dirinya. Ada yang mencari pengakuan melalui media sosial, prestasi, pergaulan, penampilan, bahkan hubungan dengan orang lain.
Tidak sedikit yang merasa dirinya berharga hanya ketika mendapat banyak "like", dipuji, atau diterima oleh lingkungan. Sebaliknya, ketika ditolak, gagal, atau dibanding-bandingkan, mereka mulai kehilangan rasa percaya diri.
Padahal, pertanyaan yang paling penting bukanlah "Apa kata orang tentang saya?", melainkan "Siapakah saya di hadapan Allah?"
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa identitas sejati kita bukan ditentukan oleh dunia, melainkan oleh Tuhan sendiri. Rasul Yohanes menegaskan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Identitas inilah yang harus menjadi dasar cara kita berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan setiap hari.
Dalam 1 Yohanes 2:28 tertulis: "Jadi sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Dia, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya."
Ayat ini mengandung sebuah ajakan sekaligus pengharapan. Yohanes ingin agar setiap orang percaya hidup dekat dengan Kristus sehingga ketika Yesus datang kembali, kita tidak dipenuhi rasa takut atau malu, tetapi memiliki keberanian karena hidup kita mencerminkan siapa kita sebenarnya.
Lalu, bagaimana identitas sebagai anak Allah itu harus kita hidupi?
1. Tinggallah di dalam Kristus
Yohanes terlebih dahulu mengajak kita untuk tinggal di dalam Dia. Apa artinya?
Tinggal di dalam Kristus bukan berarti hanya datang beribadah setiap hari Minggu atau memakai atribut sebagai orang Kristen. Tinggal di dalam Kristus berarti membangun hubungan yang hidup dengan Yesus setiap hari. Kita menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupan kita.
Hubungan itu dibangun melalui doa, membaca Firman Tuhan, beribadah, melayani, dan yang paling penting adalah menaati kehendak-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Bayangkan sebuah ranting yang terlepas dari pohonnya. Ranting itu mungkin masih terlihat hijau untuk beberapa waktu, tetapi perlahan-lahan akan mengering dan mati karena tidak lagi menerima sumber kehidupan. Demikian pula hidup orang percaya. Ketika kita menjauh dari Kristus, secara rohani kita akan menjadi lemah. Godaan menjadi lebih mudah menguasai kita, semangat melayani mulai hilang, dan akhirnya kita hidup menurut keinginan sendiri.
Sebaliknya, ketika kita tetap tinggal di dalam Kristus, kita akan terus menerima kekuatan, hikmat, damai sejahtera, dan sukacita dari Tuhan. Kehidupan kita akan menghasilkan buah yang baik sehingga orang lain dapat melihat Kristus melalui perkataan dan tindakan kita.
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya, "Apakah saya orang Kristen?" tetapi juga, "Apakah saya benar-benar tinggal di dalam Kristus setiap hari?"
2. Identitas kita adalah anak-anak Allah
Dalam pasal 3 ayat 1, Yohanes berkata bahwa kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah.
Ini adalah sebuah kehormatan yang luar biasa. Tidak semua orang menyadari betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita. Allah bukan hanya menciptakan kita, tetapi juga menerima kita sebagai anak-anak-Nya melalui Yesus Kristus.
Sebagai anak Allah, kita memiliki hubungan yang istimewa dengan Bapa di surga. Kita dapat datang kepada-Nya dalam doa. Kita menerima kasih-Nya tanpa syarat. Kita memperoleh pengampunan ketika bertobat. Kita memiliki pengharapan akan hidup yang kekal.
Namun identitas ini juga membawa tanggung jawab. Seorang anak biasanya mencerminkan keluarganya. Orang akan mengenali keluarga seseorang melalui sikap dan perilakunya. Demikian juga dengan kita. Kalau kita mengaku sebagai anak Allah, kehidupan kita seharusnya memperlihatkan karakter Bapa kita.
Di sekolah, di kampus, di tempat kerja, maupun dalam pergaulan, orang seharusnya melihat perbedaan dalam hidup kita. Bukan karena kita merasa lebih suci daripada orang lain, tetapi karena kasih Kristus mengubah cara kita berbicara, bertindak, dan mengambil keputusan.
Misalnya, ketika teman-teman memilih untuk menyontek, kita memilih jujur. Ketika banyak orang membalas kebencian dengan kebencian, kita memilih mengampuni. Ketika budaya dunia mengajarkan hidup sesuka hati, kita memilih hidup sesuai Firman Tuhan. Itulah identitas yang menunjukkan siapa kita.
3. Hidup dalam pengharapan membuat kita semakin serupa dengan Kristus
Yohanes juga mengatakan bahwa setiap orang yang menaruh pengharapan kepada Kristus akan menyucikan dirinya sama seperti Kristus adalah suci.
Pengharapan Kristen bukan sekadar berharap agar hidup menjadi lebih mudah. Pengharapan kita adalah menantikan kedatangan Yesus kembali dan hidup bersama-Nya untuk selama-lamanya.
Karena memiliki pengharapan itu, kita terdorong untuk hidup benar sejak sekarang.
Sebagai pemuda, kita menghadapi begitu banyak tantangan. Godaan untuk hidup dalam dosa sangat dekat. Teknologi bisa menjadi berkat, tetapi juga bisa menjadi pintu masuk kepada hal-hal yang merusak kehidupan. Pergaulan yang salah dapat menjauhkan kita dari Tuhan. Ambisi tanpa Tuhan dapat membuat kita kehilangan arah.
Namun Firman Tuhan mengingatkan bahwa identitas kita lebih besar daripada semua godaan itu. Kita adalah anak-anak Allah. Karena itu kita dipanggil untuk hidup kudus, bukan karena ingin memperoleh keselamatan, tetapi karena kita sudah diselamatkan oleh kasih karunia Tuhan.
Kekudusan bukan berarti hidup tanpa pernah jatuh, melainkan terus berjuang meninggalkan dosa dan kembali kepada Tuhan ketika kita gagal.
Roh Kudus akan memampukan kita untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah apabila kita terus bersandar kepada-Nya.
Aplikasi bagi pemuda
Sobat pemuda, dunia mungkin memberi banyak label kepada kita. Ada yang mengatakan kita tidak cukup pintar, tidak cukup cantik atau tampan, tidak cukup kaya, tidak cukup populer, atau tidak cukup berhasil.
Tetapi Tuhan berkata sesuatu yang berbeda. Tuhan berkata bahwa kita adalah anak-anak-Nya. Kalau kita benar-benar percaya akan identitas itu, maka kita tidak perlu mencari nilai diri dari pengakuan manusia. Kita tidak perlu mengikuti semua tren hanya supaya diterima. Kita tidak perlu mengorbankan iman demi popularitas.
Sebaliknya, kita dipanggil untuk menjadi terang di tengah dunia. Mulailah dari hal-hal sederhana. Jadilah pemuda yang jujur. Hormati orang tua. Setia beribadah. Rajin membaca Firman Tuhan. Gunakan media sosial untuk menyebarkan hal-hal yang membangun.
Jadilah sahabat yang membawa damai. Belajarlah mengampuni. Terlibatlah dalam pelayanan. Dan dalam setiap keputusan hidup, tanyakan, "Apakah ini mencerminkan identitas saya sebagai anak Allah?" Ketika kita hidup seperti itu, orang lain akan melihat Kristus melalui kehidupan kita.
Sobat pemuda, identitas adalah sesuatu yang menentukan arah hidup seseorang. Jika kita salah memahami identitas kita, kita akan mudah mengikuti arus dunia. Namun jika kita sadar bahwa kita adalah anak-anak Allah, maka kita akan hidup dengan tujuan yang jelas.
Mari terus tinggal di dalam Kristus. Bangun hubungan yang dekat dengan-Nya setiap hari. Hiduplah sesuai dengan identitas yang telah Tuhan berikan. Peliharalah pengharapan akan kedatangan Yesus kembali. Jangan biarkan dosa merusak hidup yang telah ditebus dengan darah Kristus.
Kiranya ketika Yesus datang kembali, kita dapat berdiri di hadapan-Nya dengan penuh keberanian, sukacita, dan tanpa rasa malu, karena kita telah hidup sebagai anak-anak Allah yang setia. Amin.
Doa : Ya Bapa di surga, terima kasih atas firman-Mu yang mengingatkan kami bahwa kami adalah anak-anak-Mu. Tolong kami tetap tinggal di dalam Kristus, hidup kudus, dan memuliakan nama-Mu melalui setiap perkataan dan perbuatan kami. Pimpin langkah kami hingga kami siap menyambut kedatangan Tuhan Yesus dengan sukacita. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow