Foto dan Suara Sri Sultan Dicatut untuk Penipuan Pakai AI, Diskominfo Jogjakarta Pastikan Video 100 Persen Palsu

Pratama Karamoy • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 14:48 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

 JOGJA – Kejahatan siber memakai artificial intelligence (akal imitasi/AI) menyasar Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X. Pelaku mencatut foto dan suara Sultan untuk melancarkan aksi penipuan berkedok transaksi pembayaran barang. Aksi kejahatan digital ini terwujud dalam bentuk rekaman video singkat yang menampilkan perawakan wajah serta intonasi suara yang sangat menyerupai Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut.

Pranata Humas Ahli Madya sekaligus Koordinator Humas Diskominfo DIJ Ditya Nanaryo Aji memastikan bahwa video tersebut 100 persen palsu berdasarkan hasil pemeriksaan teknis dan analisis konten. "Ini merupakan temuan pertama yang langsung menggunakan sosok Gubernur DIJ. Setelah kami periksa, dipastikan rekaman wawancara itu 100 persen palsu. Gubernur tidak pernah melakukan wawancara dengan narasi sebagaimana ditampilkan dalam video tersebut," ujarnya kepada Radar Jogja Grup Jawa Pos kemarin (22/7).

Kasus ini, kata Ditya, terungkap setelah GKR Condrokirono menerima laporan dari salah seorang koleganya yang memperoleh kiriman video melalui aplikasi WhatsApp (WA). Selanjutnya, Humas DIJ diminta melakukan verifikasi keaslian konten tersebut. "Tugas kami ada dua, memastikan apakah video itu pernah diproduksi humas dan menguji apakah kontennya merupakan hasil rekayasa AI. Hasilnya, video tersebut bukan produk kami dan merupakan hasil manipulasi digital," sambungnya.

Baca Juga: Korban Keracunan Meluas, Kulon Progo Belum Tetapkan KLB

Sebarkan Hoax

Menurut Ditya, video tersebut dirancang untuk menggiring opini calon korban agar mempercayai skema transaksi yang tidak lazim. Dalam narasinya, seolah-olah HB X memberikan arahan agar pembayaran dilakukan sebelum barang dikirim. Rekaman itu juga memuat penyebutan tokoh tertentu serta narasi yang menyentuh ranah pribadi. "Modusnya mengarah pada penipuan. Selain mengajak melakukan pembayaran barang di awal, isi videonya juga memuat narasi yang tidak pernah disampaikan," jelasnya.

Penyebaran video hoax itu dilakukan secara tertutup melalui WA, bukan dipublikasikan di media sosial. Meski berpotensi merugikan masyarakat, Ditya memastikan bahwa Pemda DIJ belum berencana melaporkan kasus tersebut ke kepolisian. "Pimpinan mengarahkan agar fokus kami saat ini adalah edukasi masyarakat mengenai penggunaan AI dan potensi penyalahgunaannya untuk hoax. Prioritas kami adalah langkah pencegahan," tegas Ditya.

Dia menambahkan, dari sisi teknis, teknologi synthetic voice yang digunakan mampu meniru intonasi suara Sultan. Namun, masih ditemukan kejanggalan pada ekspresi wajah dan gestur tubuh sehingga masyarakat yang terbiasa melihat penampilan HB X dapat mengenali bahwa video tersebut palsu. "Selama kami bertugas di humas, Sultan tidak pernah menyinggung ranah pribadi seseorang dalam komunikasi publik. Itu menjadi indikator kuat bahwa video ini murni rekayasa," ungkapnya. (bas/aph)

Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos
Headline AI akal imitasi