SEMUA korban ledakan di Grand Polonia, Medan, Sumatera Utara, telah terevakuasi. Polisi pun memfokuskan perhatian pada dugaan kebocoran gas sebagai pemicu insiden yang menewaskan tiga orang tersebut. Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak mengatakan, lokasi kejadian masih dipertahankan dalam kondisi steril (status quo) untuk kepentingan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pengumpulan barang bukti. Tim gabungan yang terdiri atas Polrestabes Medan, Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Sumut, Brimob, Inafis, PT Perusahaan Gas Negara, serta instansi terkait melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap bangunan yang hancur dan area di sekitarnya.
Pantauan Sumut Pos, petugas juga mendata barang-barang milik penghuni rumah untuk memastikan apakah ada yang berkaitan dengan alat bukti maupun barang bukti dalam proses penyelidikan. "Kami akan menelusuri seluruh petunjuk secara ilmiah. Dugaan awal memang mengarah pada adanya kandungan gas di dalam rumah, tetapi itu masih harus dipastikan melalui investigasi lebih lanjut," ujar Jean di lokasi kejadian kemarin (22/7). Jean juga meminta warga setempat maupun masyarakat lainnya tidak mendekati lokasi kejadian. Sebab, kawasan tersebut masih berada di bawah pengamanan polisi selama proses penyelidikan berlangsung.
Sementara itu, Kasubbid Fisika dan Komputer Bidang Laboratorium Forensik Polda Sumut AKBP Roy Tenno Siburian mengungkapkan, hasil pemeriksaan awal menunjukkan pola kerusakan bangunan mengindikasikan ledakan berasal dari dalam rumah. "Tekanan itu cukup kuat hingga merobohkan dinding dan merusak bagian-bagian rumah lainnya," jelas Roy. Tim Labfor juga menemukan indikasi kuat yang mengarah ke area dapur sebagai titik awal ledakan. Di lokasi tersebut terdapat kompor tanam yang terangkat akibat tekanan serta jaringan instalasi gas untuk memasak. "Hasil pengukuran awal menunjukkan terdapat konsentrasi gas yang bervariasi di dapur, sekitar 10 persen dari batas ledakan bawah (Lower Explosive Limit/LEL). Temuan ini masih akan kami kaji bersama hasil pemeriksaan lainnya," ujarnya.
Ledakan yang terjadi pada Senin (21/7) sore itu menewaskan tiga orang, masing-masing Jesica yang merupakan istri pemilik rumah serta dua pekerja rumah tangga bernama Ros dan Sinta. Sementara itu, tiga korban lainnya berhasil selamat, termasuk balita berusia tiga tahun yang merupakan putri Jesica. Ledakan juga merusak sejumlah rumah lain serta kendaraan di sekitar lokasi yang termasuk kawasan permukiman mewah di ibu kota Sumatera Utara tersebut.
Tuntut Tanggung Jawab
Sementara itu, Forum Pemuda Nusa Tenggara Timur (NTT) Wilayah Sumatera Utara mendesak pihak majikan dan penyalur tenaga kerja bertanggung jawab atas meninggalnya Ros, asisten rumah tangga asal Kabupaten Nagekeo, NTT. "Kami turut berduka cita atas meninggalnya saudari Ros. Kami berharap seluruh hak keluarga almarhumah dapat dipenuhi dan ada tanggung jawab dari pihak-pihak terkait," ujar Ketua Forum Pemuda NTT Wilayah Sumut Devis Abuimau Karmoy dalam keterangan tertulis kemarin (22/7). Selain itu, Forum Pemuda NTT Sumut meminta penyidik turut memeriksa yayasan atau perusahaan yang menyalurkan Ros untuk bekerja di rumah tersebut. (*/ttg)
Editor : Pratama KaramoySumber : Koran Jawa Pos