SIDOARJO – Keluhan demi keluhan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus bermunculan. Kemarin, misalnya. Siswa di Kecamatan Tarik, Sidoarjo, Jawa Timur, mengeluhkan menu daging ayam yang masih mentah dan mengeluarkan darah. Setelah ditelusuri, makanan tersebut diproduksi dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sekar Galih. Pengelola telah mengakui adanya kelalaian. Petugas satuan pengamanan (satpam) SPPG Sekar Galih Sumaji mengatakan, laporan sudah ditindaklanjuti kepala dapur.
Sekitar 40 personel dapur dimintai keterangan. Dari pemeriksaan internal, pengelola mengakui, memang ada daging ayam yang tidak matang sempurna. Berdasarkan keterangan juru masak, penyebabnya karena terlalu banyak potongan ayam dimasukkan dalam satu wajan saat proses penggorengan. Dalam satu kali memasak, jumlah ayam melebihi 25 potong. Sehingga sebagian daging tidak terendam minyak panas secara merata dan tidak matang. "Kemarin chef-nya sudah ditegur kepala dapur," ujar Sumaji. Mereka diminta mengubah pola memasak dan memperketat pengawasan agar seluruh makanan dipastikan matang sebelum dibagikan kepada siswa. "Pastinya evaluasi dilakukan agar kesalahan yang sama tidak kembali terulang," tambah Sumaji.
Legislator Monitoring
SPPG Sekar Galih setiap hari menyiapkan sekitar 2.800 porsi makanan untuk 17 sekolah. Mulai jenjang TK, SD, hingga SMA. Operasional dapur ditangani 10 petugas pengolahan makanan, sembilan petugas pemorsian, dan satu petugas pengemasan. Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Dhamroni Chudlori menyatakan akan turun melakukan monitoring ke SPPG Sekar Galih. Dia ingin memastikan standar keamanan pangan benar-benar diterapkan. Sehingga makanan yang dibagikan kepada siswa tidak lagi ditemukan dalam kondisi mentah. "Kejadian seperti itu tidak boleh lagi terjadi di Sidoarjo," tegasnya.
Setahun Dua Kali Keracunan
Lain lagi yang terjadi di SMPN 3 Wates, Kulon Progo, Jogjakarta. Selama setahun terakhir, terjadi dua kali kasus keracunan MBG di sekolah tersebut. Karena itu, beberapa siswa mengalami trauma. Mereka tak mau lagi menyantap menu MBG. Salah satunya Amalia, siswi kelas IX. Amalia masih ingat betul rasa sakit yang dua kali dialaminya. Peristiwa pertama terjadi pada Juli 2025. Lalu, kejadian kedua pada Senin (20/7/2026). "Sudah dua kali. Rasanya sakit perut dan diare bolak-balik ke kamar mandi," keluhnya, Selasa (21/7), dilansir dari Radar Jogja Grup Jawa Pos.
Hari itu Amalia menyantap menu MBG berupa nasi, ayam, sayur, dan anggur. Menurut dia, selama berada di sekolah tidak ada makanan lain yang dikonsumsi. Gejala mulai muncul setelah tiba di rumah. Perutnya terasa sangat sakit. Malam harinya dia mengalami diare hingga berkali-kali keluar masuk kamar mandi.
Keesokan harinya kondisinya belum membaik. Namun, Amalia tetap masuk sekolah. Namun, dia kesulitan mengikuti pelajaran karena harus berulang kali ke kamar mandi. Sejumlah siswa lain ternyata juga mengalami keluhan serupa. Antrean sempat terjadi di toilet sekolah. Amalia mengaku curiga dengan lauk ayam yang disajikan. Menurut dia, daging ayam masih kurang matang. Selain itu, makanan yang diterima sudah dalam kondisi dingin sehingga tidak dihabiskan. "Kemarin ada daging ayam yang kurang matang," katanya. Pengalaman dua kali keracunan membuat Amalia kapok. Dia berharap mekanisme program dapat diubah. Menurut dia, dana MBG lebih baik diberikan kepada orang tua agar bisa digunakan menyiapkan bekal dari rumah.
Baca Juga: Prancis Larang Media Sosial bagi Anak di Bawah 15 Tahun
BGN Petakan Masalah
Dari Jakarta, Kepala BGN Sudaryono meminta masyarakat tidak ragu melaporkan dapur MBG yang diduga bermasalah. Setiap laporan, kata dia, akan langsung ditindaklanjuti. "Kalau ada dapur yang tidak benar, segera laporkan. Kita langsung investigasi," katanya. Sudaryono menegaskan, BGN terbuka terhadap kritik dan masukan. Menurut dia, berbagai persoalan yang muncul selama pelaksanaan MBG telah dipetakan dan akan dibahas bersama jajaran internal. Dia juga menaruh perhatian besar pada aspek keamanan pangan. Bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi harus memenuhi standar agar kasus serupa tidak kembali terjadi. "Semua bahannya harus benar. Standar keamanannya juga harus benar. Kita belajar dari kasus-kasus keracunan yang sudah terjadi," ujarnya. (lyn/ful/gas/hen/oni)
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos