Batman Belum Bisa Serumah dengan Transformers

Pratama Karamoy • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 13:38 WIB
Ilustrasi Logo Paramount dan Netflix (Foto: Jagosatu)
Ilustrasi Logo Paramount dan Netflix (Foto: Jagosatu)

 

LOS ANGELES – Upaya pengambilalihan raksasa media dan hiburan dunia, Warner Bros. Discovery, oleh raksasa lainnya, Paramount Skydance Corporation, terhadang. Akuisisi senilai sekitar USD 110 miliar (sekitar Rp 1.900 triliun) itu resmi ditunda. Itu terjadi setelah Paramount menyetujui penangguhan hingga paling lambat Juni 2027. Penundaan itu menyusul perintah sementara yang dikeluarkan Hakim Araceli Martinez-Olguin di Pengadilan Distrik California Utara, Amerika Serikat, pada Senin (27/7) waktu setempat. Hakim memberikan waktu dua pekan kepada Paramount sebagai tergugat untuk mempertimbangkan apakah akan mengambil sikap terkait kelanjutan akuisisi yang dilanjutkan dengan merger itu.

Keputusan tersebut berpotensi menimbulkan konsekuensi finansial besar bagi Paramount. Berdasarkan ketentuan perjanjian merger, perusahaan harus membayar ticking fee atau biaya berjalan sebesar USD 0,25 per saham per hari kepada pemegang saham Warner apabila transaksi belum rampung setelah 30 September tahun ini. Nilai totalnya diperkirakan mencapai sekitar USD 650 juta per kuartal. Jika proses hukum berlangsung hingga batas waktu penundaan pada Juni 2027, Paramount diperkirakan harus mengeluarkan lebih dari USD 1,9 miliar untuk ticking fee tersebut. Meskipun demikian, Paramount menilai, penundaan justru membuka jalan menuju penyelesaian perkara di pengadilan.

Mengutip Forbes.com, juru bicara Paramount menyebut, langkah itu sebagai kesempatan untuk membuktikan bahwa bergabungnya dua raksasa tersebut justru menguntungkan persaingan usaha, konsumen, dan industri kreatif. Tapi, menurut Direktur Riset Forrester Mike Proulx, posisi Paramount justru semakin tidak pasti, lebih panjang, lebih rumit, dan lebih mahal. "Saya tidak yakin bagaimana Paramount dapat menganggap ini sebagai kemenangan ketika kesepakatan tersebut menjadi lebih tidak pasti dibandingkan 24 jam sebelumnya," ujarnya.

Baca Juga: Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Produsen Film Sukses

Warner merupakan penghasil berbagai franchise film yang sukses secara komersial, seperti Harry Potter, Batman, The Matrix, Mad Max, Monsterverse, dan Dune. Demikian pula Paramount. Top Gun: Maverick, Mission: Impossible, dan Transformers adalah sebagian portofolio mereka. Seandainya akuisisi untuk kemudian di-merger itu tak terhadang, lini usaha Warner yang bakal bergabung dalam Paramount meliputi studio film (Warner Bros. Pictures, New Line Cinema, DC Studios, dan Warner Bros. Pictures Animation), televisi dan cable network (HBO, CNN, Cartoon Network, Adult Swim, Turner Classic Movies (TCM), TNT, TBS, TLC, HGTV, Food Network, dan Discovery Channel), layanan streaming (Max—dulunya HBO Max—dan discovery+), serta publikasi dan gaming (DC Comics dan Warner Bros. Games).

Padahal, Paramount sendiri juga sudah memiliki berbagai lini usaha tersebut yang sama gigantiknya dengan milik Warner Bros. Penguasaan lini bisnis yang sangat besar itulah yang dikhawatirkan memunculkan monopoli yang bisa mengganggu persaingan usaha. Salah satu yang menentang keras adalah SAG-AFTRA, serikat pekerja yang mewakili aktor, penyiar, dan pekerja media di Amerika Serikat. Melalui surat resmi yang dipublikasikan akhir pekan lalu, Presiden SAG-AFTRA Sean Astin dan Direktur Eksekutif Nasional Duncan Crabtree-Ireland menyatakan, organisasi tersebut menolak akuisisi Paramount atas Warner Bros. Discovery apabila tidak disertai jaminan hukum yang mengikat terkait keberlanjutan produksi di AS.

SAG-AFTRA juga menyatakan, dukungan terhadap gugatan antimonopoli yang diajukan oleh jaksa agung dari 12 negara bagian AS bersama Writers Guild of America (WGA) yang disidangkan di Pengadilan Distrik California Utara. Mereka khawatir merger akan mengurangi tingkat produksi domestik, memangkas lapangan kerja di industri hiburan, serta memperburuk persaingan. Upaya akuisisi Warner oleh Paramount dimulai pada Februari 2026 setelah Paramount menawarkan akuisisi senilai USD 31 per saham, mengungguli tawaran sebelumnya dari Netflix, seperti dilansir dari situs resmi paramount.com. Transaksi tersebut memperoleh persetujuan Departemen Kehakiman AS pada Juni lalu dan diproyeksikan membentuk salah satu perusahaan media terbesar di dunia. (lyn/ttg)

Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos
warner bros netflix Paramount