211 Siswa Kediri Keracunan, Satgas MBG Kirim Sampel ke Lab

Pratama Karamoy • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 13:52 WIB
BERDASARKAN EVALUASI: Pendistribusian MBG di SMPN 1 Banyuwangi, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. MBG akan dimulai lagi di sekolah tersebut Senin (3/8) pekan depan. (Foto: KSATRIA RAYA/RADAR BANYUWANGI GRUP JAWA POS)
BERDASARKAN EVALUASI: Pendistribusian MBG di SMPN 1 Banyuwangi, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. MBG akan dimulai lagi di sekolah tersebut Senin (3/8) pekan depan. (Foto: KSATRIA RAYA/RADAR BANYUWANGI GRUP JAWA POS)

 KEDIRI – Seiring turbulensi kepemimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) sejak Juni lalu, Makan Bergizi Gratis (MBG) juga tak henti diduga memicu kasus dugaan keracunan. Seperti yang terjadi di Lampung, Jogjakarta, dan Jawa Timur. Di Jawa Timur, hasil uji laboratorium dugaan keracunan di SDN Kauman 1, Kota Malang (27/7), menemukan kadar bakteri E. coli di atas normal pada telur. Sedangkan di Kabupaten Kediri, Satgas MBG setempat juga telah mengambil sampel makanan untuk dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan di Surabaya kemarin (28/7).

Hasil pengujian sampel itu akan memastikan ada tidaknya kontaminasi yang menjadi penyebab 211 siswa di tiga sekolah di Kecamatan Kras, yakni SDN 1 Purwodadi, MI Al Barokah, dan SMPN 1 Kras mengeluhkan mencret, mual, pusing, dan muntah pada Kamis (23/7) dan Jumat (24/7) lalu. Mengutip Radar Kediri Grup Jawa Pos, Sekretaris Satgas MBG Kabupaten Kediri Ahmad Khotib mengatakan, pemeriksaan laboratorium menjadi salah satu langkah penting dalam proses investigasi. Selain itu, juga menelusuri data epidemiologi para siswa yang mengeluhkan mencret, muntah, mual, dan pusing. "Uji laboratorium dilakukan untuk memperoleh bukti ilmiah terkait dugaan keracunan tersebut," ujar pria yang akrab disapa Khotib itu.

Sembari menunggu hasil investigasi, Khotib menyebut, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwodadi yang melayani ribuan siswa di beberapa sekolah dihentikan sementara. "Keputusan (suspend) itu merupakan kewenangan Badan Gizi Nasional (BGN) sembari menunggu keputusan resmi," lanjut Khotib. Satgas meminta agar SPPG melakukan sejumlah perbaikan. Baik tata kelola, sarana prasarana, maupun tata ruang. SPPG juga diwajibkan menyisihkan sampel makanan yang diproduksi dan menyimpannya di dalam lemari pendingin. "Sampel itu yang kini akan digunakan untuk pemeriksaan laboratorium karena sisa makanan yang dikonsumsi para siswa sudah tidak lagi tersedia," tuturnya sembari menyebut, sampel harus disimpan oleh SPPG sekitar satu minggu.

Andalkan Surveilans Epidemiologi

Diakui Khotib, hasil pemeriksaan laboratorium belum tentu bisa memastikan penyebab kejadian secara mutlak. Sebab, makanan yang diuji belum tentu berasal dari proses produksi yang sama dengan makanan yang dikonsumsi siswa yang mengalami keluhan. "Yang paling akurat sebenarnya adalah sisa makanan yang benar-benar dimakan saat kejadian. Persoalannya, sampel itu ada atau tidak. Karena itu kami menggunakan sampel yang disimpan SPPG sambil berharap masih representatif," jelasnya.

Selain sampel makanan, dinas kesehatan juga berupaya menelusuri kemungkinan adanya sampel biologis. Di antaranya muntahan pasien. Namun, hingga kini sampel tersebut belum berhasil diperoleh. "Penyelidikan pun lebih banyak mengandalkan hasil surveilans epidemiologi dan pemeriksaan laboratorium terhadap makanan," katanya. Proses pemeriksaan di laboratorium diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua pekan. Bahkan, bisa mencapai satu bulan. Satgas juga kembali menelusuri para siswa yang sempat mengeluhkan sakit. Hal itu dilakukan untuk memastikan tidak ada tambahan korban maupun perkembangan kondisi kesehatan mereka.

Baca Juga: Kementerian Sosial Rehabilitasi 128.261 Korban TPPO sejak 2011

Menu Tak Cocok

Di kabupaten lain di Jawa Timur, Banyuwangi, MBG yang kembali digulirkan sejak hari pertama masuk sekolah pada Senin (13/7) dua pekan lalu belum dijalankan di SMPN 1 Banyuwangi hingga kemarin (28/7). Pihak sekolah memilih menghentikan sementara pendistribusian MBG karena banyaknya makanan yang tidak dikonsumsi para siswa sehingga dikhawatirkan terbuang sia-sia.

Para siswa dinilai kurang cocok dengan menu yang dipasok dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kelurahan Tamanbaru. Keputusan tersebut diambil setelah pihak SMPN 1 Banyuwangi melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG sebelum libur panjang semester genap lalu. Hasilnya, sekitar 50 persen makanan yang dibagikan kepada para siswa tidak dikonsumsi hingga habis. "Satu minggu terakhir sebelum libur panjang, MBG yang tidak dikonsumsi para siswa mencapai sekitar 50 persen. Karena itu, kami memilih belum mendistribusikan MBG kembali agar makanan tidak mubazir," ujar Kepala SMPN 1 Banyuwangi Ali Mustofa melalui humasnya, Mazwin Mukaromah, kepada Radar Banyuwangi Grup Jawa Pos. Menurut Mazwin, SMPN 1 Banyuwangi sebenarnya telah mengimbau para siswa membawa kotak makan atau lunchbox agar makanan yang belum habis dapat dibawa pulang. Namun, kebijakan tersebut belum dipatuhi secara maksimal.

Tidak hanya itu, siswa yang membawa pulang makanan pun belum tentu mengonsumsinya di rumah. Mazwin menambahkan, pendistribusian MBG di SMPN 1 Banyuwangi direncanakan mulai kembali dilakukan pada Senin (3/8) pekan depan. Sebelum program kembali berjalan, sekolah akan terus melakukan sosialisasi kepada para siswa agar membawa lunchbox. (sad/ut/ian/ray/aif/ttg)

Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos
Headline BGN SPPG Mbg