BULELENG – Dua anak terkecil KD, pencuri ayam yang tewas dikeroyok massa di Bali, diduga mengalami dampak psikologis akibat kematian tragis sang ayah. Anak kedua yang duduk di bangku SMA menjadi cenderung lebih pendiam. Sedangkan adiknya yang masih pelajar SD emosinya lebih labil. Ketika ada banyak orang, si bungsu terlihat senang. Namun, ada situasi yang membuatnya tiba-tiba menangis histeris. Adapun si sulung sudah berkeluarga.
KD, warga Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, tewas dianiaya warga Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, setelah kepergok mencuri ayam pada Jumat (24/7) dini hari Wita. Motornya juga dibakar massa. Luh juga mengkhawatirkan dampak psikologis akibat anak-anak sering bertemu kamera hingga dijadikan konten. Memang banyak pihak bersimpati kepada keluarga KD, tetapi tak sedikit pula yang membawa bantuan sambil membawa kamera.
Apalagi, sorotan paling banyak mengarah ke si bungsu setelah video tangisnya saat pemulasaraan sang ayah menyebar ke berbagai platform. “Bapak, bapak, bapak,” demikian jeritnya di sela tangis ketika itu. “Jadi, fokus kami adalah memastikan kembali kondisi emosional anak. Kami observasi terlebih dahulu, terkait dengan psikoedukasi yang akan dilakukan,” ujar Psikolog Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kabupaten Buleleng Luh Putu Yuli Surya Dewi bersama Tasya Yumika kepada Radar Bali Grup Jawa Pos kemarin (28/7). Untuk pendampingan, apabila memungkinkan, dilakukan di luar rumah atau di pusat konseling. Namun, apabila tidak dapat dilakukan, psikolog akan melakukan jemput bola dengan datang langsung ke rumah.
Baca Juga: 211 Siswa Kediri Keracunan, Satgas MBG Kirim Sampel ke Lab
Permohonan Keluarga Tersangka
Polres Tabanan telah menetapkan lima orang tersangka dalam kasus pengeroyokan KD hingga tewas. Lima warga Banjar Dinas Juwuk Legi itu adalah MJ, MK, WS, KB, dan ND. Ni Putu Ayu Yuni Astini, istri MJ, yang ditemui di rumahnya mengaku, kasus hukum yang menjerat suaminya murni karena membela diri atau menyelamatkan diri. Pasalnya, saat kejadian pelaku sempat mengancam dan menodongkan senjata tajam. Ia mengungkapkan, peristiwa pencurian ayam itu berawal dari iparnya, MK, yang juga ditetapkan sebagai tersangka, mendengar suara motor berhenti di dekat rumahnya. Dia melihat KD tengah mencuri ayam.
MK kemudian keluar memanggil tetangga di sekitar rumahnya agar ayam tidak dicuri. KD justru balik menantang dengan menggunakan senjata tajam. MJ, adik MK, termasuk yang datang membantu. "Artinya suami dan ipar saya posisinya membela diri juga. Karena pelaku KD membawa senjata tajam dan mengancam saat pencurian ayam dilakukan," ungkap ibu dua anak itu. Karena itu, dia memohon, polisi dapat memperingan hukuman atau membebaskan suaminya. "Suami saya tulang punggung ekonomi keluarga," katanya. (jun/uli/ttg)
Editor : Pratama KaramoySumber : Koran Jawa Pos