Pembacaan Alkitab: 3 Yohanes 1:1-4
TEMA : TIDAK TERLUPAKAN
Nas Firman:
"Sebab, aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan bersaksi tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran." (3 Yohanes 1:3)
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Musim mudik memang telah berlalu, tetapi setiap musim mudik selalu meninggalkan banyak cerita. Ada cerita yang mengharukan, ada pula yang menggelikan. Salah satu kisah yang sempat menjadi perhatian banyak orang adalah tentang seorang ibu yang tertinggal di sebuah rest area jalan tol.
Karena seluruh anggota keluarga mengira semua sudah kembali ke mobil, kendaraan itu melaju belasan kilometer sebelum akhirnya mereka menyadari bahwa sang ibu tidak ikut di dalam mobil. Untunglah ada petugas kepolisian yang sedang berpatroli, sehingga ibu tersebut dapat diantar kembali dan dipertemukan dengan keluarganya.
Peristiwa ini mungkin terdengar lucu, tetapi sekaligus menggambarkan kenyataan hidup. Dunia kita bergerak begitu cepat. Kesibukan, target pekerjaan, urusan keluarga, dan berbagai aktivitas membuat orang bisa lupa pada hal-hal yang sebenarnya sangat penting. Bahkan seseorang yang sangat dekat sekalipun bisa terlupakan.
Namun, firman Tuhan hari ini berbicara tentang seseorang yang justru tidak terlupakan, bukan karena kekayaan, jabatan, atau popularitasnya, melainkan karena kehidupannya yang setia kepada Tuhan. Orang itu adalah Gayus.
Rasul Yohanes menulis surat ini dengan penuh kasih. Ia tidak memuji Gayus karena kepandaiannya berbicara atau karena kedudukannya dalam jemaat. Yohanes justru bersukacita karena mendengar kesaksian dari banyak orang mengenai kehidupan Gayus.
Mereka berkata bahwa Gayus "hidup dalam kebenaran." Menarik sekali bahwa yang memberikan penilaian bukan Gayus sendiri, melainkan orang-orang yang mengenal hidupnya.
Di zaman sekarang, banyak orang berusaha membangun citra diri. Media sosial penuh dengan usaha menampilkan sisi terbaik kehidupan. Orang dapat dengan mudah menceritakan kebaikannya sendiri.
Tetapi kehidupan Gayus berbeda. Ia tidak perlu mempromosikan dirinya. Kehidupannya sendiri sudah menjadi kesaksian. Orang lain melihat, mengalami, dan kemudian menceritakan kebaikannya kepada Rasul Yohanes.
Apa yang dimaksud dengan "hidup dalam kebenaran"?
Hidup dalam kebenaran berarti menjadikan firman Tuhan sebagai dasar kehidupan sehari-hari. Kebenaran bukan sekadar diketahui, tetapi dijalankan. Kebenaran itu terlihat dalam perkataan, keputusan, sikap, dan tindakan.
Hal itu tampak dari keramahtamahan Gayus. Ia membuka rumahnya bagi para penginjil dan utusan Injil. Pada masa itu, para pemberita Injil sangat bergantung pada keramahan jemaat karena belum ada fasilitas penginapan seperti sekarang. Menolong mereka bukan hanya soal menyediakan makanan atau tempat tidur, tetapi juga menunjukkan keberanian iman.
Mengapa demikian? Karena pada saat itu ada seorang pemimpin jemaat bernama Diotrephes yang menolak otoritas Rasul Yohanes. Bahkan ia menghalangi orang-orang yang ingin menerima para utusan Injil dan mengucilkan mereka dari persekutuan jemaat (ayat 9-10).
Artinya, ketika Gayus tetap menerima dan menolong para utusan Yohanes, ia sedang mengambil risiko. Ia bisa dikucilkan. Ia bisa kehilangan kenyamanan dalam persekutuan. Tetapi ia memilih tetap setia kepada kebenaran.
Kesetiaan kepada Kristus memang tidak selalu mudah. Ada kalanya kita harus memilih antara mengikuti arus atau tetap berdiri pada firman Tuhan. Ada saat-saat ketika kejujuran membuat kita tidak disukai. Ada waktu ketika melakukan yang benar justru mendatangkan kesulitan. Namun, firman Tuhan mengingatkan bahwa kesetiaan kepada Kristus tidak pernah sia-sia.
Saudara-saudara, Setiap kita pasti memiliki seseorang yang masih kita ingat hingga hari ini. Mungkin seorang penatua yang setia melayani. Mungkin seorang guru Sekolah Minggu yang dahulu dengan sabar mengajar kita. Mungkin seorang pendeta, tetangga, atau anggota keluarga yang hidupnya sederhana tetapi penuh kasih.
Mengapa mereka masih kita ingat? Bukan karena mereka kaya. Bukan karena mereka terkenal. Bukan karena mereka memiliki jabatan tinggi.Melainkan karena hidup mereka memancarkan kasih Kristus.
Mungkin setiap kali kita menyebut nama sebuah kota, kita langsung teringat kepada seseorang yang tinggal di sana karena keramahannya. Kita berkata, "Kalau ke sana, ada Pak A yang selalu menyambut dengan hangat," atau "Di kota itu ada Ibu B yang selalu siap membantu siapa saja."
Tanpa disadari, mereka telah meninggalkan jejak kasih yang membekas dalam hati banyak orang.
Demikian pula seharusnya kehidupan orang percaya. Tuhan memanggil kita bukan untuk menjadi terkenal, melainkan menjadi setia. Bukan supaya nama kita dipuji manusia, tetapi supaya Kristus dimuliakan melalui hidup kita.
Rasul Yohanes mengatakan bahwa kita dipanggil menjadi "rekan-rekan sekerja untuk kebenaran" (ayat 8). Kalimat ini sangat indah. Setiap orang percaya adalah mitra Allah dalam menghadirkan kebenaran-Nya di dunia.
Artinya, ketika kita melayani dengan tulus, mengunjungi orang sakit, menghibur mereka yang berduka, mengajar anak-anak, menyambut tamu gereja, bekerja dengan jujur, atau mengampuni orang yang bersalah kepada kita, sebenarnya kita sedang menjadi rekan sekerja Allah dalam menyatakan kasih-Nya.
Dunia mungkin tidak mencatat semua itu. Media sosial mungkin tidak pernah memberitakannya. Tidak ada penghargaan khusus yang kita terima. Namun Tuhan melihat semuanya. Dan sering kali, justru tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih itulah yang paling sulit dilupakan orang.
Saudara-saudara, Di zaman yang semakin individualistis ini, orang tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga membutuhkan orang yang dapat dipercaya. Orang tidak hanya membutuhkan orang yang berbakat, tetapi juga orang yang hidup dalam kebenaran. Gereja pun dipanggil menghadirkan pribadi-pribadi seperti Gayus, yang dikenal bukan karena banyak bicara, tetapi karena kesetiaannya.
Kiranya ketika orang mengingat nama kita, mereka tidak mengingat kemarahan kita, ego kita, atau kepentingan diri kita. Sebaliknya, mereka mengingat kasih, kejujuran, kesetiaan, keramahtamahan, dan semangat pelayanan yang lahir dari iman kepada Kristus.
Pada akhirnya, menjadi pribadi yang "tidak terlupakan" bukanlah tujuan hidup kita. Tujuan utama kita adalah memuliakan Tuhan melalui kehidupan yang benar. Jika kemudian kehidupan kita menjadi berkat dan dikenang oleh banyak orang, itu adalah anugerah Tuhan semata.
Seperti Gayus, mungkin nama kita tidak pernah tercatat dalam buku sejarah dunia. Kita mungkin tidak dikenal banyak orang. Namun jika kehidupan kita menjadi kesaksian tentang kasih Kristus, maka kita telah menjalani panggilan kita dengan baik.
Kiranya Tuhan menolong kita agar tetap hidup dalam kebenaran, setia dalam pelayanan, berani melakukan yang benar sekalipun ada risiko, dan menjadi rekan-rekan sekerja bagi kebenaran Kristus. Dengan demikian, ketika orang mengenang kehidupan kita, mereka tidak sedang memuliakan kita, melainkan melihat kasih Kristus yang bekerja melalui kita. Amin.
Doa : Ya Bapa yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu yang mengingatkan kami untuk hidup dalam kebenaran dan setia melayani sesama. Mampukan kami menjadi rekan sekerja bagi kebenaran-Mu, sehingga melalui perkataan dan perbuatan kami, nama Tuhan Yesus dimuliakan. Sertai langkah kami sepanjang hari ini. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow