Pembacaan Alkitab: Kejadian 20:1–5
TEMA : ALLAH MELINDUNGI GEREJA DI TENGAH ANCAMAN
Nas Firman: "Bukankah lelaki itu sendiri yang mengatakan kepadaku: Dia saudaraku? Perempuan itu sendiri juga mengatakan: Ia saudaraku. Hal ini kulakukan dengan hati yang tulus dan dengan tangan yang tak bersalah." (Kejadian 20:5)
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan ini, ancaman sering kali membuat manusia mengambil jalan pintas. Ketika merasa takut kehilangan pekerjaan, ada orang yang tergoda memanipulasi laporan.
Ketika takut kehilangan jabatan, ada yang rela mengorbankan kejujuran. Ketika merasa terancam, manusia kerap berpikir bahwa kebohongan adalah cara paling aman untuk menyelamatkan diri.
Sejarah juga memperlihatkan bahwa kekuasaan sering disalahgunakan. Tidak sedikit penguasa yang menggunakan wewenangnya demi memenuhi ambisi pribadi, sementara mereka yang lemah menjadi korban. Ketika kekuasaan tidak lagi dipimpin oleh hati nurani dan takut akan Tuhan, ketidakadilan mudah terjadi.
Di tengah kenyataan seperti itulah firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat pengalaman Abraham dan Sara.
Setelah meninggalkan Kanaan, Abraham menetap sebagai pendatang di wilayah Gerar. Sebagai orang asing, Abraham berada pada posisi yang rentan. Ia tidak memiliki perlindungan politik maupun kekuatan militer. Yang ia miliki hanyalah keluarganya dan janji Allah.
Namun, ketakutan menguasai hati Abraham. Ia mengetahui bahwa Sara adalah perempuan yang cantik. Abraham membayangkan kemungkinan terburuk: raja Gerar akan menginginkan Sara dan membunuh dirinya agar dapat mengambil istrinya. Karena ketakutan itu, Abraham kembali menggunakan cara yang pernah dilakukannya di Mesir. Ia meminta Sara mengatakan bahwa dirinya adalah saudara perempuan Abraham.
Secara biologis, Sara memang masih memiliki hubungan keluarga dengan Abraham, tetapi pernyataan itu sengaja menyembunyikan fakta utama bahwa mereka adalah suami istri. Dengan kata lain, Abraham menggunakan kebenaran yang setengah-setengah untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya. Kebohongan itu muncul bukan karena kebencian, melainkan karena rasa takut.
Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa orang beriman pun tidak kebal terhadap kelemahan. Abraham adalah bapak orang beriman, tetapi ia tetap manusia biasa yang dapat dikuasai rasa takut. Alkitab tidak menutupi kelemahan tokoh-tokohnya. Justru melalui kisah seperti ini kita belajar bahwa keselamatan tidak bergantung pada kesempurnaan manusia, melainkan pada kesetiaan Allah.
Ketika Abimelekh, raja Gerar, mengambil Sara ke dalam istananya, keadaan tampaknya semakin buruk. Janji Allah kepada Abraham seolah berada dalam bahaya. Bukankah melalui Sara Allah telah berjanji akan menghadirkan keturunan perjanjian?
Jika Sara menjadi istri Abimelekh, bagaimana mungkin janji itu digenapi? Namun, pada saat manusia tidak lagi mampu mengendalikan keadaan, Allah mulai bekerja.
Allah menemui Abimelekh melalui mimpi pada malam hari. Tuhan memperingatkannya bahwa perempuan yang dibawanya adalah istri orang lain. Menariknya, Abimelekh segera memberikan pembelaan. Ia berkata bahwa ia bertindak dengan hati yang tulus dan tangan yang tidak bersalah. Ia tidak mengetahui bahwa Sara adalah istri Abraham karena Abraham dan Sara sendiri mengatakan bahwa mereka adalah saudara.
Firman Tuhan menunjukkan bahwa Allah adalah Hakim yang adil. Allah mengetahui siapa yang sengaja berbuat jahat dan siapa yang bertindak karena tidak mengetahui kebenaran. Bahkan Tuhan sendiri mengakui bahwa Abimelekh bertindak dengan hati yang tulus. Karena itulah Allah mencegah Abimelekh berbuat dosa yang lebih jauh.
Di sinilah kita melihat pemeliharaan Allah yang luar biasa. Allah melindungi Sara. Allah menjaga janji-Nya kepada Abraham. Allah menegur Abraham melalui peristiwa ini. Allah juga melindungi Abimelekh agar tidak jatuh ke dalam dosa yang tidak diketahuinya. Tidak ada seorang pun yang berada di luar perhatian Allah.
Saudara-saudara, Ada pelajaran penting yang perlu kita renungkan. Ketika menghadapi ancaman, Abraham lebih mempercayai strategi manusia daripada perlindungan Allah. Ia mengira kebohongan dapat menyelamatkannya. Padahal yang benar-benar menyelamatkan adalah Tuhan sendiri.
Bukankah kita pun kadang-kadang melakukan hal yang sama? Karena takut mengalami kerugian, kita tergoda menyembunyikan kebenaran. Karena takut ditolak, kita memilih berpura-pura. Karena takut kehilangan kesempatan, kita mengambil jalan yang tidak jujur.
Kita lupa bahwa Tuhan jauh lebih mampu menjaga hidup kita daripada segala strategi yang kita susun sendiri. Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa ketakutan tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan kejujuran. Hal yang sama berlaku bagi kehidupan gereja.
Di berbagai tempat, gereja dapat berada dalam posisi yang lemah. Jumlah jemaat mungkin berkurang. Tantangan ekonomi semakin berat. Nilai-nilai kekristenan sering kali berhadapan dengan budaya yang berbeda. Ada kalanya gereja menghadapi tekanan, kesalahpahaman, bahkan perlakuan yang tidak adil.
Namun, dalam situasi seperti itu gereja tidak dipanggil untuk membangun relasi berdasarkan kepura-puraan atau kebohongan. Gereja tidak boleh mengorbankan integritas demi memperoleh keuntungan sesaat. Sebaliknya, gereja dipanggil tetap jujur, terbuka, dan memegang teguh kebenaran firman Tuhan.
Kejujuran memang tidak selalu menghasilkan jalan yang mudah. Tetapi kejujuran selalu membuka ruang bagi Allah untuk bekerja.
Bila Abraham akhirnya diselamatkan, itu bukan karena kebohongannya berhasil. Justru kebohongan itu hampir membawa persoalan yang lebih besar. Abraham diselamatkan karena Allah tetap setia kepada janji-Nya.
Inilah penghiburan bagi gereja masa kini. Keberlangsungan gereja tidak terutama bergantung pada kecerdikan manusia, melainkan pada kesetiaan Allah yang memelihara umat-Nya.
Tuhan Yesus sendiri pernah berkata bahwa Ia akan mendirikan gereja-Nya dan alam maut tidak akan menguasainya. Janji itu tetap berlaku sampai hari ini. Gereja mungkin menghadapi berbagai ancaman dari luar maupun dari dalam, tetapi Tuhan tetap menjadi Kepala Gereja yang menjaga dan memeliharanya.
Karena itu, ketika menghadapi tantangan, marilah kita memilih jalan kebenaran. Jangan membalas ketidakjujuran dengan ketidakjujuran. Jangan membalas ketidakadilan dengan cara-cara yang tidak benar. Percayalah bahwa Allah sanggup bertindak pada waktu-Nya.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kisah Abraham dan Abimelekh mengajarkan bahwa Allah mampu bekerja bahkan melalui orang-orang yang tidak kita duga. Allah memakai Abimelekh untuk menjaga Sara. Allah memakai mimpi sebagai sarana menyatakan kehendak-Nya. Semua ini menunjukkan bahwa tidak ada keadaan yang terlalu sulit bagi Tuhan.
Ketika kita merasa lemah, Tuhan adalah kekuatan kita. Ketika kita merasa tidak berdaya, Tuhan adalah pembela kita. Ketika kita merasa terancam, Tuhan adalah perlindungan kita. Karena itu, jangan biarkan rasa takut menguasai hati kita lebih daripada iman kepada Tuhan.
Marilah kita membangun kehidupan pribadi, keluarga, dan gereja di atas dasar kejujuran, integritas, dan kepercayaan penuh kepada pemeliharaan Allah. Sebab Allah yang memelihara Abraham, menjaga Sara, dan menegur Abimelekh adalah Allah yang sama, yang terus memelihara gereja-Nya hingga hari ini.
Kiranya dalam setiap tantangan yang kita hadapi, kita tetap teguh memegang kebenaran, hidup dengan jujur, dan percaya bahwa Allah akan melindungi umat-Nya sesuai dengan kehendak-Nya yang sempurna. Amin.
Doa : Ya Bapa yang Mahakuasa, kami bersyukur atas firman-Mu yang meneguhkan iman kami. Ajarlah kami hidup dalam kejujuran, tidak dikuasai rasa takut, dan tetap percaya kepada pemeliharaan-Mu. Lindungilah gereja-Mu di tengah setiap tantangan agar setia menjadi saksi kasih dan kebenaran-Mu. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow