Pembacaan Alkitab: Kejadian 20:8–10
TEMA : PEMIMPIN YANG TAKUT AKAN ALLAH
Nas Firman: "Keesokan harinya pagi-pagi Abimelekh memanggil semua hambanya dan memberitahukan seluruh peristiwa itu kepada mereka, lalu sangat takutlah orang-orang itu." (Kejadian 20:8)
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan bersama, seorang pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar. Kepemimpinan bukan hanya tentang memiliki jabatan atau kekuasaan, melainkan tentang bagaimana seseorang menggunakan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya untuk membawa kebaikan bagi orang-orang yang dipimpinnya.
Karakter seorang pemimpin sering kali terlihat bukan ketika keadaan berjalan dengan mudah, tetapi ketika menghadapi persoalan, ancaman, dan krisis. Dalam situasi yang sulit, seorang pemimpin dapat memilih berbagai cara untuk menyelesaikan masalah.
Ada pemimpin yang memilih jalan dialog dan mencari solusi bersama. Ada pemimpin yang memilih menggunakan kekuatan dan tekanan untuk mempertahankan kepentingannya. Ada pula pemimpin yang berani mengakui kesalahan dan mengambil tanggung jawab ketika menyadari bahwa dirinya menjadi penyebab masalah.
Firman Tuhan hari ini memperlihatkan kepada kita sosok Abimelekh, raja Gerar, yang menghadapi sebuah krisis besar dalam pemerintahannya. Namun, melalui responsnya, kita melihat gambaran seorang pemimpin yang memiliki sikap takut akan Allah.
Kisah ini terjadi ketika Abraham tinggal di wilayah Gerar. Karena takut terhadap Abimelekh, Abraham mengatakan bahwa Sara adalah saudaranya, bukan istrinya. Akibat perkataan tersebut, Abimelekh mengambil Sara ke istananya. Namun Allah kemudian menyatakan kehendak-Nya melalui mimpi dan memperingatkan Abimelekh bahwa Sara adalah istri Abraham.
Allah memberi tahu bahwa tindakan tersebut dapat membawa akibat yang besar bagi Abimelekh dan seluruh rakyatnya. Jika Sara tidak dikembalikan, maka hukuman Allah akan menimpa mereka.
Bagaimana respons Abimelekh? Ayat 8 mengatakan bahwa keesokan harinya pagi-pagi Abimelekh segera bertindak. Ia memanggil semua hambanya dan menceritakan seluruh peristiwa itu kepada mereka. Setelah mendengar peringatan Tuhan, mereka menjadi sangat takut.
Sikap Abimelekh menunjukkan bahwa ia tidak mengabaikan suara Tuhan. Ia tidak menganggap mimpi itu sebagai sesuatu yang tidak penting. Ia tidak berusaha mencari alasan untuk membenarkan dirinya. Ia justru menyadari bahwa ada Allah yang lebih tinggi daripada dirinya sebagai raja. Inilah salah satu ciri pemimpin yang takut akan Allah.
Pemimpin yang takut akan Allah menyadari bahwa kekuasaan manusia memiliki batas. Jabatan yang dimiliki bukanlah milik mutlak, melainkan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Abimelekh adalah seorang raja. Ia memiliki kuasa, pasukan, dan wewenang untuk melakukan apa saja terhadap Abraham. Namun ketika mengetahui bahwa dirinya berada dalam posisi yang salah, ia tidak menggunakan kekuasaannya untuk menutupi kesalahan. Ia memilih mencari penyelesaian yang benar.
Saudara-saudara, Hal yang menarik dari tindakan Abimelekh adalah cara ia menyelesaikan masalah. Ia tidak menggunakan kekerasan. Ia tidak memerintahkan tentaranya menangkap Abraham. Ia tidak membalas kebohongan Abraham dengan tindakan yang sama buruknya.
Sebaliknya, ia memanggil Abraham dan berdialog dengannya. Abimelekh bertanya mengenai alasan Abraham melakukan hal tersebut. Ia ingin mengetahui pikiran dan motivasi yang ada di balik tindakan Abraham.
Dialog ini menjadi contoh bahwa penyelesaian masalah dapat dilakukan melalui komunikasi yang terbuka dan jujur. Dialog bukan berarti tanda kelemahan. Dialog bukan berarti kehilangan wibawa.
Justru dialog menunjukkan kedewasaan seorang pemimpin yang tidak dikuasai emosi, tetapi mencari kebenaran dan damai.
Pemimpin yang takut akan Allah tidak terburu-buru mengambil tindakan berdasarkan kemarahan. Ia mendengar sebelum mengambil keputusan. Ia mempertimbangkan dampak tindakannya terhadap banyak orang.
Abimelekh menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus memikirkan keselamatan orang-orang yang dipercayakan kepadanya. Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri sebagai raja, tetapi memikirkan kehidupan rakyat dan keberlangsungan kerajaannya.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Dari kisah ini kita juga belajar bahwa ketakutan akan Allah membawa seseorang kepada kerendahan hati. Abimelekh tidak malu untuk mengakui bahwa ia membutuhkan tuntunan Tuhan. Ia tidak merasa terlalu tinggi untuk menerima teguran Allah.
Sering kali masalah dalam kepemimpinan muncul ketika seseorang merasa dirinya tidak dapat salah. Ketika jabatan membuat seseorang sulit menerima kritik. Ketika kekuasaan membuat seseorang hanya ingin didengar tetapi tidak mau mendengar.
Namun seorang pemimpin yang takut akan Allah memahami bahwa ia tetap manusia yang membutuhkan koreksi dan bimbingan Tuhan. Karena itu, kepemimpinan yang takut akan Allah selalu memiliki ciri:
Pertama, pemimpin tersebut mengutamakan kebenaran, bukan kepentingan pribadi. Kedua, pemimpin tersebut bertanggung jawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Ketiga, pemimpin tersebut membuka ruang dialog untuk menyelesaikan persoalan.
Keempat, pemimpin tersebut menyadari bahwa semua kuasa berasal dari Tuhan dan harus digunakan untuk kebaikan.
Saudara-saudara, Pesan firman Tuhan ini sangat relevan bagi kehidupan kita saat ini. Kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang takut akan Allah dalam berbagai bidang kehidupan.
Kita membutuhkan pemimpin bangsa yang memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan rakyat. Kita membutuhkan pemimpin dalam masyarakat yang membangun persatuan, bukan perpecahan.
Kita membutuhkan pemimpin dalam gereja yang melayani dengan kerendahan hati, bukan mencari kepentingan diri. Kita membutuhkan pemimpin dalam keluarga yang menghadirkan kasih, bukan kekerasan.
Namun firman Tuhan juga mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan hanya berbicara tentang mereka yang memiliki jabatan resmi. Setiap orang percaya memiliki kesempatan untuk memimpin melalui teladan hidup.
Seorang kakak dapat memimpin adiknya melalui teladan. Seorang orang tua dapat memimpin keluarga melalui kasih. Seorang anggota jemaat dapat memimpin orang lain melalui kehidupan yang benar. Semua kita dipanggil untuk menghadirkan karakter kepemimpinan yang takut akan Allah.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Abimelekh memberikan pelajaran penting bahwa seorang pemimpin yang takut akan Allah tidak menggunakan kekuasaan untuk memperbesar dirinya, tetapi untuk melindungi dan melayani orang lain.
Ia tidak memilih jalan kekerasan, tetapi jalan dialog. Ia tidak mencari pembenaran diri, tetapi mencari penyelesaian. Ia tidak hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tetapi keselamatan banyak orang.
Kiranya Tuhan membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang takut akan Dia. Kiranya para pemimpin di berbagai bidang diberikan hikmat untuk memimpin dengan kasih, keadilan, dan kerendahan hati.
Dan kiranya melalui setiap bentuk kepemimpinan yang kita jalankan, nama Tuhan semakin dimuliakan dan damai sejahtera-Nya hadir di tengah kehidupan bersama. Amin.
Doa : Ya Bapa yang Mahabijaksana, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Bentuklah kami menjadi pribadi yang takut akan Engkau, rendah hati, dan bijaksana dalam setiap tanggung jawab yang Engkau percayakan. Mampukan para pemimpin menghadirkan keadilan, dialog, dan damai sejahtera demi kemuliaan nama-Mu. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow