MEREKA duduk menyebar di ruang tunggu Terminal Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Masing-masing dengan kecemasan sendiri-sendiri menanti kabar saudara, sahabat, atau kolega yang berada di KMP Mutiara Sentosa 2. Fauzi, salah satunya, telah sejak siang kemarin mencari kabar tentang sang adik, Rizmanto alias Rinto. Rinto, driver truk asal Sumenep, Jawa Timur, diketahui berada di atas kapal yang terbakar di perairan ujung utara Madura tersebut untuk mengawal armada truk ekspedisi angkutan barang. "Kami tidak berani berandai-andai. Adik saya kemungkinan tertidur di dalam truknya dan kami masih menunggu kepastian resmi dari petugas," ujar Fauzi saat ditemui Jawa Pos di ruang tunggu kemarin (2/8). Komunikasi terakhir Rinto dengan sang istri tercatat seusai ibadah Isya Sabtu (1/8), yang diperkuat dengan pembaruan status di media sosial pada pukul 19.36 WIB sebelum kapal bertolak. Pihak keluarga panik setelah ponsel Rinto mendadak tidak aktif saat kabar terbakarnya kapal mulai beredar luas sejak Minggu (2/8) pagi.
Di sudut lain, Arfian juga hanya bisa mendoakan kelima rekannya sesama sopir truk yang menaiki kapal dengan tujuan Makassar, Sulawesi Selatan, itu. "Saya juga terus membuka komunikasi dengan rekan sesama driver yang kebetulan berlayar menuju tempat berbeda," kata warga Surabaya itu. Layar ponsel pintar tak pernah lepas dari genggaman jemari para keluarga korban yang memadati posko informasi Pelabuhan Tanjung Perak kemarin. Candra Eko, warga Sidoarjo, Jawa Timur, misalnya, berkali-kali mencoba mengontak kedua adiknya, Aris dan Antok. Keduanya bertugas sebagai driver dan co-driver truk ekspedisi pengangkut muatan paket tujuan Makassar. "Saya ingin sekali langsung menjemput adik saya, tapi sampai sekarang ponselnya belum bisa dikontak sama sekali sejak kapal dikabarkan terbakar," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Baca Juga: KM Mutiara Sentosa 1 Terbakar di Perairan Sumenep, Lima Penumpang Kapal Meninggal
Permintaan Tante
Ria Daeng Ngajo, warga Putat Gede, Surabaya, juga datang ke pelabuhan demi melacak keberadaan pamannya, Taufik, yang juga bekerja sebagai co-driver. Ria menceritakan, pihak keluarga di Makassar menangis histeris sewaktu melihat potongan video musibah yang beredar di grup percakapan antar-sopir. "Tante saya di Makassar telepon sambil menangis, minta tolong dipastikan keberadaan suaminya di Tanjung Perak setelah melihat rekaman video dari lokasi," kata Ria. Meski ada lima korban jiwa sampai pukul 17.00 kemarin, dia tetap berusaha memegang harapan sang paman termasuk yang dapat dievakuasi dalam kondisi selamat. "Semua keluarga korban yang di sini saling menguatkan," katanya. (*/ttg)
Editor : Pratama KaramoySumber : Koran Jawa Pos