SURABAYA – Ketika Meratus Pematang Siantar, salah satu kapal yang turut mengevakuasi para korban kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2, merapat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, kemarin (3/8) dini hari, terungkap fakta gelap terkait insiden tersebut. Ada lima anak yang selamat dari kebakaran itu yang ternyata tak tercatat dalam manifes.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengakuinya. "Ya, ada lima anak yang ada di kapal tersebut. Mereka tidak tercatat dalam manifes, hanya dicantumkan apabila membawa anak tanpa menyebut jumlah," ungkapnya di tempat yang sama. Dudy menegaskan, temuan itu akan menjadi bahan evaluasi. Menurut dia, semua penumpang dari kelompok usia apa pun wajib tetap tercatat dalam daftar penumpang. Tapi, janji evaluasi tanpa disertai langkah tegas dan konkret percuma saja. Sebab, manifes yang tak sesuai itu sudah menjadi problem klasik transportasi laut Indonesia.
Saat KLM Nurul Salsa tenggelam di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, 15 Juli lalu, terungkap, manifes mencatat ada 45 orang di kapal nahas itu. Kenyataannya, kapal tersebut dinaiki 76 hingga 78 orang. Setahun sebelumnya, tepatnya 2 Juli 2025, saat KMP Tunu Pratama Jaya karam di Selat Bali, tak hanya penumpang, bahkan pekerja kapal yang jenazahnya kemudian ditemukan pun tak tercatat di manifes. Banyak yang ketika kejadian berada di dalam kendaraan mereka dan petugas hanya mencatat nomor kendaraan tanpa mendata siapa saja yang berada di dalamnya.
Jumlah yang terdata di manifes KMP Mutiara Sentosa 2 pun "mendadak" berkurang kemarin. Kepala Kantor SAR Surabaya Nanang Sigit menjelaskan, adanya pengurangan data awal sebanyak 50 orang yang batal berangkat karena kendaraannya tidak terangkut. Data total jumlah orang di atas kapal nahas itu juga berubah-ubah. Awalnya disebut 271 orang, lalu menjadi 272 orang dalam konferensi pers Minggu (2/8) malam. Sesuatu yang tidak seharusnya terjadi seandainya pencatatan manifes dilakukan dengan benar.
Menanggapi simpang siur data penumpang itu, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyatakan, pihaknya masih mendalami perbedaan angka antara data manifes awal pelayaran dan realisasi jumlah penumpang yang berhasil dievakuasi tim SAR gabungan masih terus didalami. Basarnas, lanjutnya, membatasi diri hanya dengan merilis data resmi atas korban yang secara fisik telah berhasil dievakuasi di lapangan. "Kami hanya mendeklarasikan jumlah korban yang sudah terevakuasi, di mana hingga hari ini (kemarin) terkonfirmasi sebanyak 233 orang, 228 selamat dan lima meninggal," ujar Syafii kemarin (3/8) petang.
Selain itu, berdasarkan data dari nakhoda dan kru kapal, sebanyak 25 awak kapal beserta tenaga bantuan katering dipastikan seluruhnya selamat. Seluruh penumpang yang sempat melompat ke laut juga ditemukan dalam kondisi mengenakan jaket pelampung. Di sisi lain, dia mengonfirmasi bahwa tim SAR di lapangan tidak menemukan ketersediaan sekoci maupun perahu karet di lokasi insiden terbakar KMP Mutiara Sentosa 2. Temuan itu dari hasil penyisiran dan pemantauan langsung oleh tim penyelamat di sekeliling area badan kapal. Syafii menjelaskan, tim evaluasi juga tidak melihat adanya penyiapan sarana keselamatan darurat. Baik di sisi kanan, kiri, maupun bagian belakang kapal.
Baca Juga: Keluarga dan Sahabat Korban Menanti dalam Cemas di Pelabuhan Tanjung Perak
Proses Evakuasi
Kantor SAR Surabaya mengerahkan KN SAR Permadi sejak pukul 08.30 WIB kemarin dari Sumenep, Madura, untuk menyisir area perairan sekitar lokasi kejadian. Tim udara dari Polda Jawa Timur serta alutsista TNI AL seperti KRI Bung Tomo dan KRI Nala turut dikerahkan untuk memaksimalkan operasi pencarian dua orang yang belum ditemukan. Sementara itu, Muhammad Abdul Karim, salah seorang penumpang selamat, mengenang, di tengah menikmati makan pagi di lantai lima saat instruksi evakuasi disampaikan oleh para kru kapal. "Kami diminta segera berkumpul di dek haluan depan karena api dari dek kendaraan di bawah menyebar sangat cepat tertiup angin," ujar Karim ketika ditemui Jawa Pos di ruang tunggu Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, kemarin dini hari.
Hanya dalam waktu sekitar 30 menit sejak munculnya asap, seluruh penumpang sudah mengenakan jaket pelampung. Dalam detik-detik menegangkan itu, Karim menyebut, tidak ada arahan untuk bergerak ke titik evakuasi. Dia juga mengaku, tidak melihat ada sekoci di kapal tersebut. "Tidak ada, kalau ada mungkin lain ceritanya," imbuhnya. Akhirnya, beberapa di antaranya melompat ke laut setelah melihat armada kapal lain mulai mendekat ke posisi mereka. "Lompat itu bukan karena nekat tanpa perhitungan, melainkan rekomendasi dari petugas agar kami bisa langsung dievakuasi oleh kapal lain," tambah Karim. (zam/ttg)
Editor : Pratama KaramoySumber : Koran Jawa Pos