Pembacaan Alkitab : Yohanes 9:13-16
TEMA : KUASA DAN KASIH YESUS MELAMPAUI PERATURAN MANUSIA
"Lalu kata sebagian orang-orang Farisi itu: 'Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.' Namun, yang lain berkata: 'Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat tanda mukjizat yang demikian?' Lalu timbullah pertentangan di antara mereka." (Yohanes 9:16)
Shalom, Bapak, Ibu, Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, aturan sangat penting. Aturan menjaga ketertiban, menciptakan keadilan, dan melindungi kehidupan bersama. Di rumah ada aturan keluarga, di sekolah ada tata tertib, di tempat kerja ada peraturan, bahkan dalam kehidupan bergereja pun ada tata gereja yang harus dihormati. Semua aturan itu pada dasarnya baik, karena membantu manusia hidup tertib dan bertanggung jawab.
Namun, persoalan muncul ketika aturan menjadi lebih penting daripada manusia. Aturan yang seharusnya menjadi sarana menghadirkan kebaikan justru berubah menjadi alasan untuk mengabaikan kasih, belas kasihan, dan pertolongan kepada sesama. Inilah yang terjadi dalam bacaan kita hari ini.
Setelah Tuhan Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir, orang-orang membawa dia kepada orang-orang Farisi. Mereka ingin mengetahui bagaimana para pemimpin agama menanggapi peristiwa yang luar biasa itu. Mungkin mereka berharap para Farisi memuliakan Allah karena mujizat yang terjadi. Namun yang muncul justru perdebatan.
Orang-orang Farisi tidak terlebih dahulu bersukacita karena seorang yang selama ini hidup dalam kegelapan kini dapat melihat. Mereka juga tidak memuji Allah atas kuasa yang dinyatakan. Sebaliknya, perhatian mereka tertuju pada satu hal: penyembuhan itu terjadi pada hari Sabat.
Bagi sebagian orang Farisi, persoalannya bukanlah orang buta yang telah sembuh, melainkan Yesus dianggap melanggar aturan Sabat. Mereka berkata, "Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat."
Sebaliknya, sebagian Farisi yang lain mulai berpikir lebih terbuka. Mereka bertanya, "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat tanda mujizat yang demikian?" Mereka menyadari bahwa tidak mungkin kuasa sebesar itu berasal dari seseorang yang jauh dari Allah. Akibatnya, terjadilah pertentangan di antara mereka.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Peristiwa ini mengajarkan bahwa manusia sering kali lebih mudah melihat pelanggaran aturan daripada melihat karya Allah. Mata mereka begitu tajam terhadap kesalahan, tetapi tertutup terhadap kasih Tuhan yang sedang bekerja.
Padahal tujuan Allah memberikan hukum bukanlah untuk menyusahkan manusia. Hukum diberikan agar manusia hidup dalam kasih kepada Allah dan sesama. Ketika sebuah aturan justru menghalangi orang mengalami kasih Allah, maka manusia telah kehilangan makna sebenarnya dari hukum itu.
Tuhan Yesus sendiri pernah berkata bahwa hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Artinya, aturan harus menjadi alat yang membawa kehidupan, bukan beban yang mematikan.
Dalam pelayanan-Nya, Yesus berkali-kali menunjukkan bahwa belas kasihan lebih utama daripada ritual. Ia tidak pernah mengabaikan kekudusan Allah, tetapi Ia juga tidak membiarkan penderitaan manusia terus berlangsung hanya karena manusia terlalu sibuk mempertahankan tradisi.
Yesus melihat orang buta itu sebagai pribadi yang membutuhkan pertolongan. Kasih-Nya mendorong-Nya bertindak. Kuasa-Nya memulihkan kehidupan orang tersebut. Bagi Yesus, keselamatan manusia jauh lebih penting daripada penilaian orang yang hanya berpegang pada aturan lahiriah.
Hal ini menjadi pelajaran penting bagi kita sebagai orang percaya. Kadang-kadang kita pun tanpa sadar memiliki sikap seperti orang Farisi. Kita begitu cepat menilai orang lain berdasarkan aturan, tetapi lambat menunjukkan kasih. Kita mudah menghakimi, tetapi sulit mengampuni. Kita sibuk mencari kesalahan, tetapi lupa memberikan pertolongan.
Misalnya, ada seseorang yang sedang bergumul dalam kehidupan rumah tangga. Alih-alih mendampingi dan mendoakannya, kita justru lebih sibuk membicarakan kesalahannya. Ada orang yang jatuh dalam dosa dan ingin bertobat, tetapi yang diterimanya justru penolakan dan penghakiman. Ada keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi, tetapi kita lebih banyak memberikan nasihat daripada uluran tangan.
Padahal Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kasih harus nyata dalam tindakan. Ini bukan berarti aturan tidak penting. Sebagai orang percaya, kita tetap dipanggil hidup tertib, menghormati hukum, dan menaati peraturan yang baik. Namun aturan tidak boleh membuat hati kita kehilangan belas kasihan. Ketaatan kepada Tuhan selalu diwujudkan melalui kasih kepada sesama.
Rasul Paulus kemudian mengingatkan bahwa kasih adalah penggenapan hukum Taurat. Artinya, ketika kasih menjadi dasar hidup kita, maka kita akan menggunakan setiap aturan untuk membangun, bukan menghancurkan; untuk memulihkan, bukan menghakimi.
Saudara-saudari, Menarik bahwa mujizat Yesus justru membelah pendapat orang Farisi. Ada yang menolak, ada pula yang mulai percaya. Hal seperti ini masih terjadi sampai sekarang.
Ketika seseorang mengalami perubahan hidup karena mengenal Kristus, tidak semua orang akan menerimanya. Ada yang bersukacita, tetapi ada juga yang meragukan. Ada yang percaya bahwa Tuhan bekerja, tetapi ada pula yang menganggap semuanya hanya kebetulan.
Sebagai pengikut Kristus, kita tidak perlu kecewa jika menghadapi penolakan. Yesus sendiri mengalami hal yang sama. Yang penting adalah kita tetap hidup dalam kebenaran dan membiarkan karya Tuhan berbicara melalui kehidupan kita.
Sering kali kesaksian hidup jauh lebih kuat daripada perdebatan. Orang mungkin dapat membantah pendapat kita, tetapi mereka sulit menyangkal perubahan hidup yang nyata. Ketika seseorang yang dahulu pemarah menjadi sabar, yang dahulu hidup tanpa arah kini hidup dalam damai, yang dahulu dipenuhi kebencian kini mampu mengampuni, maka orang akan melihat bahwa Kristus benar-benar bekerja.
Itulah sebabnya Tuhan memanggil kita bukan hanya menjadi pembela kebenaran melalui kata-kata, tetapi juga pelaku kasih melalui tindakan.
Di tengah dunia yang penuh dengan aturan, persaingan, dan penghakiman, gereja dipanggil menjadi tempat di mana kasih Allah dirasakan. Setiap orang yang datang seharusnya menemukan penerimaan, penghiburan, pendampingan, dan pengharapan. Gereja tidak boleh kehilangan wajah kasih Kristus.
Demikian pula dalam keluarga. Orang tua dipanggil mendidik anak dengan disiplin, tetapi juga dengan kasih. Suami dan istri dipanggil saling mengingatkan dalam kebenaran, tetapi tetap mengedepankan pengampunan. Dalam lingkungan kerja, kita dipanggil menaati aturan, tetapi juga menunjukkan kepedulian kepada rekan yang sedang mengalami kesulitan.
Kasih dan kuasa Tuhan Yesus selalu menghadirkan kehidupan. Ia datang bukan untuk membinasakan manusia, melainkan menyelamatkannya. Ia datang bukan sekadar menegakkan aturan, tetapi menggenapi kehendak Allah melalui kasih yang memulihkan.
Karena itu, marilah kita belajar memiliki hati seperti hati Kristus. Hormatilah aturan yang baik, tetapi jangan sampai aturan membuat kita kehilangan belas kasihan. Peganglah kebenaran, tetapi sampaikanlah dengan kasih. Jadilah orang percaya yang tidak hanya benar dalam perkataan, tetapi juga penuh kasih dalam tindakan.
Kiranya melalui kehidupan kita, orang lain tidak hanya melihat bahwa kita taat kepada aturan, tetapi terlebih lagi melihat kasih Kristus yang bekerja di dalam diri kita. Sebab kuasa dan kasih Tuhan Yesus selalu melampaui segala peraturan manusia, membawa pengharapan bagi yang putus asa, pemulihan bagi yang terluka, dan keselamatan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Amin.
Doa : Ya Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Ajarlah kami mengutamakan kasih dan belas kasihan sebagaimana Tuhan Yesus telah teladankan. Mampukan kami menaati kehendak-Mu dengan hati yang penuh kasih, sehingga melalui hidup kami banyak orang merasakan pertolongan dan kemuliaan nama-Mu. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow