Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Rabu, 12 Agustus 2026,  Yohanes 9:17-23 Pengakuan Iman Pribadi Tentang Yesus

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 10:55 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab : Yohanes 9:17-23

TEMA  : PENGAKUAN IMAN PRIBADI TENTANG YESUS

"Kata mereka lagi kepada orang buta itu: 'Dan engkau, apa katamu tentang Dia, karena Ia telah mencelikkan matamu?' Jawabnya: 'Ia adalah seorang nabi.'" (Yohanes 9:17)

Shalom, Bapak, Ibu, Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Setiap orang percaya pada suatu saat akan diperhadapkan pada satu pertanyaan yang sangat penting: "Siapakah Yesus bagimu?"

Pertanyaan ini bukan sekadar untuk menguji pengetahuan kita tentang Alkitab, melainkan untuk melihat apakah kita sungguh memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus. Seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang Yesus, tetapi belum tentu benar-benar mengenal-Nya.

Sebaliknya, orang yang mengenal Yesus melalui pengalaman hidup akan berani mengakui-Nya, sekalipun menghadapi tantangan.

Bacaan hari ini mengisahkan lanjutan dari penyembuhan seorang yang buta sejak lahir. Setelah orang Farisi berdebat mengenai tindakan Yesus yang menyembuhkan pada hari Sabat, mereka mengalihkan perhatian kepada orang yang telah disembuhkan.

Mereka bertanya, "Dan engkau, apa katamu tentang Dia?" Pertanyaan itu tampaknya sederhana, tetapi sebenarnya sangat mendasar. Mereka ingin mengetahui bagaimana orang itu memandang Yesus.

Dengan jujur dan tanpa rasa takut, ia menjawab, "Ia adalah seorang nabi." Bagi kita saat ini, mungkin jawaban itu terasa belum lengkap, sebab kita mengakui Yesus sebagai Anak Allah, Juruselamat dunia, dan Tuhan.

Namun, dalam konteks saat itu, pengakuan tersebut merupakan langkah iman yang besar. Orang yang sebelumnya buta itu sedang menyatakan bahwa Yesus adalah utusan Allah yang bekerja dengan kuasa-Nya.

Ia tidak terpengaruh oleh tekanan orang-orang Farisi yang telah lebih dahulu menuduh Yesus sebagai orang berdosa.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Pengakuan iman selalu lahir dari pengalaman bersama Tuhan. Orang yang disembuhkan itu tidak sedang mengulang pendapat orang lain. Ia berbicara berdasarkan apa yang dialaminya sendiri.

Ia pernah hidup dalam kegelapan. Ia pernah menjadi pengemis yang dipandang rendah oleh masyarakat. Namun setelah bertemu Yesus, hidupnya berubah. Karena itu, ketika ditanya tentang Yesus, ia menjawab berdasarkan pengalaman pribadinya.

Demikian pula dengan kita. Iman bukan hanya warisan dari orang tua, bukan sekadar tradisi keluarga, dan bukan pula hanya identitas agama. Iman harus menjadi pengalaman pribadi. Kita percaya kepada Yesus karena kita telah merasakan kasih-Nya, pertolongan-Nya, pengampunan-Nya, dan penyertaan-Nya dalam perjalanan hidup.

Mungkin Tuhan pernah menolong kita saat menghadapi sakit penyakit. Mungkin Ia membuka jalan ketika kita mengalami kesulitan ekonomi. Mungkin Ia memberikan kekuatan ketika kita kehilangan orang yang kita kasihi. Semua pengalaman itu membentuk pengakuan iman yang kokoh.

Itulah sebabnya, ketika orang bertanya mengapa kita tetap percaya kepada Yesus, kita tidak hanya menjawab dengan ayat-ayat Alkitab, tetapi juga dengan kesaksian hidup. Kita dapat berkata, "Saya percaya kepada Yesus karena saya telah mengalami kasih dan pertolongan-Nya."

Dalam kisah ini kita juga melihat bahwa tidak semua orang mau menerima kesaksian tersebut. Orang-orang Farisi tetap tidak percaya. Mereka bahkan memanggil orang tua dari orang yang telah disembuhkan.

Mengapa mereka melakukan itu? Karena hati yang sudah dipenuhi prasangka sering kali sulit menerima kebenaran. Mereka berharap menemukan alasan untuk membantah mujizat itu.

Mereka mengakui bahwa orang tersebut memang anak mereka dan memang lahir buta. Namun ketika ditanya bagaimana ia sekarang dapat melihat dan siapa yang menyembuhkannya, orang tuanya menjawab dengan sangat hati-hati.

Mereka berkata, "Kami tidak tahu. Tanyakan saja kepadanya, ia sudah dewasa." Mengapa mereka menjawab demikian? Yohanes menjelaskan bahwa mereka takut kepada para pemimpin Yahudi.

Saat itu telah ada kesepakatan bahwa siapa pun yang mengakui Yesus sebagai Mesias akan dikeluarkan dari rumah ibadat. Ancaman itu bukan perkara kecil. Dikeluarkan dari rumah ibadat berarti kehilangan tempat beribadah, kehilangan hubungan sosial, bahkan dapat dikucilkan dari kehidupan masyarakat.

Karena rasa takut itulah, orang tua tersebut memilih bersikap aman. Mereka hanya menyampaikan fakta yang tidak dapat disangkal, tetapi tidak berani berbicara lebih jauh tentang Yesus.

Saudara-saudari, Bukankah keadaan seperti ini juga masih kita jumpai pada masa kini?

Ada orang yang percaya kepada Yesus, tetapi malu mengakuinya di lingkungan pergaulan. Ada yang takut dicemooh karena hidup menurut nilai-nilai Injil. Ada yang enggan menunjukkan identitasnya sebagai pengikut Kristus karena khawatir kehilangan teman, jabatan, atau kesempatan tertentu.

Tekanan yang kita alami mungkin berbeda dengan zaman Yesus, tetapi prinsipnya tetap sama. Dunia sering kali membuat orang percaya merasa tidak nyaman untuk mengakui imannya.

Di sinilah kita belajar dari orang yang dahulu buta itu. Ia tidak memiliki pendidikan agama setinggi orang Farisi. Ia bukan ahli Taurat. Namun ia memiliki keberanian untuk mengatakan apa yang diyakininya. Ia tidak membiarkan tekanan mengubah kesaksiannya.

Keberanian seperti inilah yang dibutuhkan gereja pada masa sekarang. Dunia membutuhkan orang percaya yang tetap teguh memegang imannya, bukan dengan sikap kasar atau memaksa, tetapi dengan keteguhan, kerendahan hati, dan kasih.

Mengakui Yesus bukan hanya dilakukan melalui kata-kata. Pengakuan iman juga dinyatakan melalui cara hidup kita. Ketika kita tetap jujur meskipun orang lain memilih jalan yang tidak benar, kita sedang mengakui Kristus. Ketika kita tetap mengampuni meskipun disakiti, kita sedang menunjukkan bahwa Yesus hidup di dalam kita. Ketika kita tetap berdoa, beribadah, melayani, dan mengasihi sesama di tengah berbagai tantangan, kita sedang memberikan pengakuan iman yang nyata.

Perlu kita sadari pula bahwa pengenalan kita kepada Yesus akan terus bertumbuh. Dalam pasal ini, orang yang disembuhkan itu mula-mula menyebut Yesus sebagai "orang yang disebut Yesus". Kemudian ia berkata bahwa Yesus adalah seorang nabi. Pada bagian akhir pasal ini, setelah kembali bertemu Yesus, ia akhirnya mengakui Yesus sebagai Tuhan dan menyembah-Nya.

Perjalanan iman kita juga demikian. Semakin lama kita berjalan bersama Kristus, semakin dalam kita mengenal-Nya. Mungkin dahulu kita mengenal Yesus hanya sebagai Penolong ketika mengalami kesulitan. Kemudian kita mengenal-Nya sebagai Gembala yang memimpin hidup kita. Akhirnya kita menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat yang layak menerima seluruh hidup kita.

Karena itu, jangan berhenti bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus. Bacalah firman Tuhan setiap hari, tekunlah berdoa, bersekutulah dengan jemaat, dan hiduplah dalam ketaatan. Semakin dekat kita kepada Tuhan, semakin kuat pula keberanian kita untuk mengakui-Nya.

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Jika hari ini seseorang bertanya, "Siapakah Yesus bagimu?" apakah kita mampu menjawab dengan penuh keyakinan? Apakah jawaban itu lahir dari pengalaman pribadi atau hanya mengulang apa yang pernah kita dengar?

Kiranya kita menjadi orang-orang percaya yang memiliki pengakuan iman yang hidup. Jangan biarkan rasa takut, tekanan, atau penolakan dunia membuat kita menyangkal Kristus. Sebaliknya, marilah kita dengan rendah hati dan penuh keberanian mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan, Juruselamat, Sahabat, Gembala yang baik, dan sumber keselamatan kita.

Dunia mungkin tidak selalu menerima pengakuan iman kita. Mungkin ada penolakan, ejekan, bahkan pengucilan. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa ketika dunia menjauh, Kristus justru merangkul kita dengan kasih-Nya yang tidak pernah berubah. Dia setia menyertai setiap orang yang tetap berpegang teguh kepada-Nya.

Kiranya melalui pengakuan iman yang teguh, kehidupan kita menjadi kesaksian yang membawa banyak orang semakin mengenal dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Amin.

 

Doa : Ya Bapa yang Mahakasih, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Teguhkan iman kami agar senantiasa berani mengakui Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dalam setiap perkataan, sikap, dan perbuatan. Jauhkan kami dari rasa takut dan mampukan kami menjadi saksi-Mu yang setia demi kemuliaan nama-Mu. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN MALAM GPIB SABDA BINA UMAT