Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Kamis, 13 Agustus 2026, Efesus 5:6-10  Hidup Sebagai Anak Terang

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:31 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab: Efesus 5:6-10
TEMA: HIDUP SEBAGAI ANAK TERANG

“Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang...” (Efesus 5:8b)

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Terang dan gelap merupakan metafora yang sangat sering digunakan dalam Alkitab untuk menggambarkan dua keadaan hidup yang bertolak belakang.Terang menunjuk kepada kehidupan yang berkenan kepada Allah, sedangkan gelap menggambarkan kehidupan yang menjauh dari kehendak-Nya.

Karena itu, ketika Paulus berkata, “Hiduplah sebagai anak-anak terang,” ia tidak sekadar memberikan nasihat moral. Ia sedang mengingatkan identitas orang percaya: kita adalah anak-anak terang karena Kristus telah membawa kita keluar dari kegelapan.

Sebelum mengenal Kristus, hidup kita mungkin pernah dipenuhi berbagai bentuk kegelapan. Ada dosa yang pernah kita lakukan, kebiasaan buruk yang sulit ditinggalkan, perkataan yang pernah melukai orang lain, keputusan yang kita sesali, bahkan lingkungan pergaulan yang perlahan-lahan menjauhkan kita dari Tuhan. Namun, Injil mengingatkan bahwa masa lalu bukanlah identitas terakhir kita. Di dalam Kristus, kita telah menerima hidup yang baru.

Karena itu, Paulus berkata, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan.” Perhatikan bahwa Paulus tidak berkata, “Dahulu kamu berada dalam kegelapan, tetapi sekarang kamu berada di dalam terang.” Ia mengatakan bahwa dahulu kita adalah kegelapan, tetapi sekarang kita adalah terang di dalam Tuhan. Ada perubahan identitas yang mendasar.

Pertama, hidup sebagai anak terang berarti menyadari siapa diri kita di dalam Kristus.

Identitas menentukan cara seseorang menjalani hidup. Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya adalah anak dari sebuah keluarga, ia akan berusaha menjaga nama baik keluarganya. Demikian pula orang yang menyadari dirinya sebagai anak Allah akan berusaha hidup sesuai dengan kehendak Bapa.

Paulus sebelumnya mengingatkan jemaat Efesus mengenai berbagai bentuk kehidupan yang bertentangan dengan kehendak Allah: percabulan, kecemaran, keserakahan, dan penyembahan berhala. Semua itu bukan sekadar kesalahan kecil, tetapi pola hidup yang menjauhkan manusia dari Allah.

Paulus bahkan memperingatkan jemaat agar jangan turut mengambil bagian dalam kehidupan demikian. Artinya, kita harus berhati-hati terhadap pengaruh yang membentuk kehidupan kita. Tidak semua lingkungan harus kita ikuti dan tidak semua kebiasaan yang populer boleh kita normalisasi.Kita hidup di tengah dunia, tetapi kita tidak dipanggil untuk menjadi serupa dengan dunia.

Kita dapat belajar dari seekor ikan. Ikan hidup di dalam air laut, tetapi ia tidak menjadi asin. Demikian pula orang percaya dipanggil hadir di tengah dunia tanpa kehilangan identitasnya sebagai anak-anak terang. Kita bekerja, belajar, bergaul, menggunakan media sosial, berorganisasi, dan berinteraksi dengan banyak orang. Namun, kehadiran kita di tengah dunia hendaknya tidak membuat nilai-nilai Kristiani larut dan kehilangan pengaruh.

Justru sebaliknya, terang harus terlihat ketika berada di tengah kegelapan.

Bayangkan sebuah ruangan yang gelap. Ketika sebuah lampu kecil dinyalakan, kegelapan tidak dapat berkata kepada terang, “Jangan mengganggu saya.” Kehadiran terang dengan sendirinya mengusir kegelapan.

Demikian pula kehidupan seorang Kristen. Kita tidak perlu selalu berteriak bahwa kita adalah orang percaya. Biarlah kehidupan kita berbicara. Ketika orang lain memilih kebencian, kita memilih kasih. Ketika orang lain berlaku tidak jujur, kita memilih integritas.

Ketika orang lain membalas kejahatan dengan kejahatan, kita memilih pengampunan. Ketika lingkungan menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa, kita berani mengatakan bahwa ada hal-hal yang tidak berkenan kepada Allah.

Kedua, hidup sebagai anak terang berarti selektif terhadap lingkungan dan pergaulan.

Paulus berkata, “Janganlah kamu berkawan dengan mereka.” Maksudnya bukan bahwa orang Kristen harus mengasingkan diri dari masyarakat atau memusuhi orang yang berbeda dengan kita. Yesus sendiri hadir di tengah masyarakat dan bergaul dengan berbagai kelompok manusia.

Yang Paulus larang adalah mengambil bagian dalam pola hidup yang bertentangan dengan Allah. Kita dapat mengasihi siapa saja, tetapi kita harus berhati-hati terhadap siapa yang kita izinkan membentuk hati, pikiran, dan karakter kita.

Pergaulan memiliki pengaruh yang sangat besar. Seseorang mungkin pada awalnya hanya ikut mendengarkan. Kemudian mulai ikut tertawa. Setelah itu mulai ikut mencoba. Lama-kelamaan, sesuatu yang dahulu dianggap salah menjadi terasa biasa.

Itulah sebabnya Amsal 13:20 berkata: “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.” Teman bukan sekadar orang yang menemani kita menghabiskan waktu. Teman juga dapat menjadi orang yang memengaruhi arah hidup kita.

Karena itu, tanyakan kepada diri kita masing-masing: Orang-orang yang paling dekat dengan saya membawa saya semakin dekat kepada Kristus atau justru semakin jauh dari-Nya?

Apakah setelah bergaul dengan mereka, iman kita bertumbuh? Apakah kita menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih mengasihi, dan lebih takut akan Tuhan? Ataukah kita justru menjadi mudah marah, suka bergosip, terbiasa dengan kebohongan, hidup dalam kecemaran, dan semakin tidak peka terhadap dosa?

Kita perlu berani mengevaluasi relasi kita. Ada kalanya meninggalkan lingkungan yang toxic bukan berarti kita membenci orang-orang di dalamnya. Bisa jadi itu merupakan bentuk tanggung jawab terhadap kehidupan rohani kita.

Ketiga, hidup sebagai anak terang berarti menghasilkan buah terang.

Ayat 9 mengatakan bahwa buah terang adalah “kebaikan, keadilan dan kebenaran.” Jadi, menjadi anak terang bukan hanya soal menghindari kejahatan. Orang percaya juga dipanggil untuk menghasilkan sesuatu yang baik. Terang tidak hanya mengusir gelap; terang juga membuat sesuatu dapat terlihat.

Kebaikan berarti kita menghadirkan kasih dalam tindakan nyata. Keadilan berarti kita memperlakukan sesama dengan benar dan tidak mengambil keuntungan dengan merugikan orang lain. Kebenaran berarti kita hidup dalam kejujuran dan kesetiaan kepada kehendak Allah.

Dengan demikian, pertanyaan penting bagi kita bukan hanya, “Apa yang tidak boleh saya lakukan?”, tetapi juga, “Buah apa yang sedang dihasilkan melalui hidup saya?”

Di rumah, apakah kehadiran kita membawa damai?
Di tempat kerja, apakah kita dikenal sebagai orang yang jujur?
Di tengah masyarakat, apakah kita memperjuangkan kebaikan dan keadilan?
Di media sosial, apakah perkataan kita membangun atau justru meruntuhkan?
Di gereja, apakah kita menjadi berkat atau sumber konflik?

Menjadi anak terang berarti menghadirkan Kristus melalui kehidupan sehari-hari.

Saudara-saudara, Kita mungkin pernah hidup dalam kegelapan. Kita mungkin memiliki masa lalu yang tidak membanggakan. Ada dosa yang membuat kita malu dan kegagalan yang terus menghantui pikiran. Namun, jangan terus hidup di bawah bayang-bayang masa lalu.

Jika Allah telah mengampuni kita, jangan terus menghukum diri sendiri. Jika Kristus telah memberikan kehidupan baru, jangan terus kembali kepada kehidupan lama.

Kita telah dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang. Karena itu, tinggalkanlah apa yang harus ditinggalkan. Putuskanlah kebiasaan yang menjauhkan kita dari Tuhan. Evaluasilah lingkungan pergaulan kita.

Jauhilah relasi yang terus menyeret kita kepada dosa. Dan yang terutama, dekatkanlah diri kepada Kristus, sebab hanya di dalam Dia kita memperoleh kekuatan untuk hidup sebagai anak-anak terang.

Amsal 18:24 mengingatkan, “Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara.” Kiranya kita memiliki sahabat-sahabat yang bukan hanya menemani kita bersenang-senang, tetapi juga berani menegur ketika kita salah, mengingatkan ketika kita mulai jauh dari Tuhan, dan mendorong kita untuk tetap berjalan dalam kebenaran.

Aristoteles pernah mengatakan bahwa persahabatan merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan yang baik. Dalam perspektif iman Kristen, persahabatan bahkan dapat menjadi ruang di mana kita saling menolong untuk bertumbuh dalam kasih dan kebenaran.

Akhirnya, marilah kita mengingat kembali perkataan Paulus: “Hiduplah sebagai anak-anak terang.”

Kita bukan lagi milik kegelapan. Identitas kita ada di dalam Kristus. Karena itu, biarlah kebaikan, keadilan, dan kebenaran menjadi buah yang terlihat dalam kehidupan kita.

Jangan hanya berbicara tentang terang. Jadilah terang. Jangan hanya mengeluhkan kegelapan di sekitar kita. Nyalakan terang melalui kehidupan kita. Sebab dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mengetahui kebenaran, tetapi juga orang-orang yang berani menghidupi kebenaran itu.

Kiranya melalui perkataan, pergaulan, keputusan, pekerjaan, keluarga, dan seluruh kehidupan kita, orang lain dapat melihat terang Kristus. Sebab dahulu kita adalah kegelapan, tetapi sekarang kita adalah terang di dalam Tuhan. Hiduplah sebagai anak-anak terang. Amin.

 

Doa : Ya Tuhan, terima kasih karena melalui Kristus Engkau telah memanggil kami keluar dari kegelapan menuju terang. Tolonglah kami meninggalkan dosa dan pergaulan yang menjauhkan kami dari-Mu. Ajarlah kami menghasilkan buah kebaikan, keadilan, dan kebenaran, sehingga kehidupan kami menjadi kesaksian dan berkat bagi sesama. Dalam nama Yesus. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN MALAM GPIB SABDA BINA UMAT