Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Jumat, 14 Agustus 2026, Efesus 5:15-16  Hidup Sebagai Orang Bijak

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:52 WIB
logo gpib
logo gpib

Pembacaan Alkitab: Efesus 5:15-16
TEMA: HIDUP SEBAGAI ORANG BIJAK

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” (Efesus 5:15-16)

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Ada sebuah kisah tentang seorang ayah yang sangat sibuk. Setiap hari ia bekerja sejak pagi dan baru pulang pada malam hari. Ketika tiba di rumah, tubuhnya sudah lelah. Ia terlalu letih untuk bermain atau berbincang dengan anaknya.

Anak laki-lakinya yang masih kecil sebenarnya memiliki keinginan yang sangat sederhana: ia ingin bermain dengan ayahnya. Suatu malam, anak itu datang kepada ayahnya sambil membawa uang tabungannya. Dengan polos ia bertanya, “Papa, berapa biaya satu jam waktu Papa?”

Sang ayah terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia menjawab dengan menyebutkan sejumlah uang. Tanpa diduga, anak itu menyerahkan seluruh tabungannya kepada ayahnya. “Ini uangnya, Pa. Sekarang Papa sudah dibayar. Ayo kita bermain.”

Sang ayah terdiam. Matanya berkaca-kaca. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia begitu sibuk mencari uang untuk keluarganya, tetapi justru kehilangan sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan uang: waktu bersama keluarganya.

Saudara-saudara, Kisah ini mungkin sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan kita. Kita sering mengatakan bahwa kita tidak mempunyai waktu. Tidak ada waktu untuk keluarga, tidak ada waktu untuk berdoa, tidak ada waktu untuk membaca Alkitab, tidak ada waktu untuk melayani, bahkan tidak ada waktu untuk beristirahat.

Namun sebenarnya, setiap orang memiliki jumlah waktu yang sama: 24 jam sehari. Persoalannya bukan semata-mata berapa banyak waktu yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menggunakan waktu yang Tuhan percayakan kepada kita.

Itulah yang menjadi perhatian Paulus dalam Efesus 5:15-16. Paulus berkata, “Perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.”

Perhatikan kata “bagaimana kamu hidup.” Paulus tidak hanya berbicara tentang apa yang kita percaya, tetapi bagaimana iman itu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Iman Kristen tidak hanya terlihat ketika kita berada di gereja. Iman juga terlihat dari bagaimana kita menggunakan waktu, bagaimana kita memperlakukan keluarga, bagaimana kita menjalankan pekerjaan, bagaimana kita menggunakan uang, dan bagaimana kita menentukan apa yang menjadi prioritas hidup.

Orang bijak adalah orang yang menyadari bahwa hidupnya memiliki arah dan tujuan.

Pertama, orang bijak menyadari bahwa waktu adalah pemberian Tuhan.

Kita sering berbicara tentang waktu seolah-olah waktu sepenuhnya milik kita. Kita berkata, “Ini waktu saya.” Tetapi sesungguhnya waktu adalah pemberian Tuhan. Kita tidak pernah tahu berapa lama waktu yang masih Tuhan berikan kepada kita. Karena itu, setiap hari yang kita jalani sebenarnya merupakan kesempatan baru dari Allah.

Dalam bahasa Yunani, Perjanjian Baru mengenal dua istilah penting mengenai waktu, yaitu kronos dan kairos. Kronos menunjuk kepada waktu dalam pengertian kronologis: detik, menit, jam, hari, dan tahun yang terus berjalan.

Sementara kairos menunjuk kepada waktu atau kesempatan yang memiliki makna tertentu. Kairos adalah momen yang dapat digunakan untuk melakukan sesuatu yang penting dan berkenan kepada Allah.

Dengan demikian, hidup bijak bukan hanya menghitung berapa banyak waktu yang telah kita habiskan, tetapi bertanya: Untuk apa waktu itu kita gunakan? Satu jam dapat digunakan untuk berdebat di media sosial. Tetapi satu jam yang sama dapat digunakan untuk berbicara dengan anak.

Satu malam dapat dihabiskan untuk hiburan. Tetapi malam yang sama dapat menjadi kesempatan untuk berbincang dengan pasangan, mengunjungi orang tua, atau menemani anggota keluarga yang sedang mengalami kesulitan.

Waktu yang sama dapat digunakan untuk mengeluh, tetapi juga dapat digunakan untuk bersyukur. Karena itu, setiap hari hendaknya kita tanyakan: “Tuhan, kesempatan apa yang Engkau berikan kepadaku hari ini?”

Kedua, orang bijak mampu menentukan prioritas.

Kesibukan tidak selalu berarti produktivitas. Seseorang dapat sangat sibuk tetapi mengerjakan hal-hal yang tidak penting. Kita dapat bekerja sepanjang hari, menghadiri banyak pertemuan, membalas banyak pesan, mengikuti berbagai kegiatan, tetapi pada akhirnya mengabaikan hal-hal yang paling fundamental.

Ada orang yang berhasil dalam karier tetapi gagal membangun keluarganya. Ada yang memiliki banyak teman di media sosial tetapi tidak memiliki waktu untuk berbicara dengan orang yang tinggal serumah dengannya.

Ada yang sangat aktif dalam pekerjaan dan pelayanan, tetapi kehidupan doanya semakin kering. Karena itu, hidup bijak membutuhkan kemampuan untuk menentukan prioritas.

Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apa yang benar-benar penting dalam hidup saya?

Jika keluarga penting, apakah keluarga mendapatkan waktu yang cukup? Jika relasi dengan Tuhan penting, apakah kita menyediakan waktu untuk berdoa dan membaca firman? Jika kesehatan penting, apakah kita menjaga tubuh yang Tuhan percayakan?

Jika pelayanan penting, apakah kita melayani dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar karena kewajiban? Jangan sampai kita baru menyadari nilai sesuatu setelah kita kehilangannya.

Anak-anak bertumbuh. Orang tua semakin tua. Kesempatan untuk berkumpul tidak selalu datang dua kali. Ada percakapan yang harus dilakukan sekarang. Ada permintaan maaf yang tidak boleh ditunda. Ada kasih yang harus dinyatakan hari ini. Sebab kesempatan yang hilang tidak selalu dapat dikembalikan.

Ketiga, orang bijak menggunakan waktu untuk melakukan kehendak Allah.

Paulus berkata, “Pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Ini berarti waktu harus digunakan secara aktif untuk sesuatu yang baik.

Kita dipanggil bukan hanya untuk menghindari kejahatan, tetapi menggunakan kesempatan yang ada untuk melakukan kehendak Tuhan.

Ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan, itu adalah kairos. Ketika ada kesempatan untuk berdamai dengan seseorang, itu adalah kairos. Ketika seorang anak membutuhkan perhatian orang tuanya, itu adalah kairos.

Ketika ada kesempatan untuk menyampaikan Injil, menguatkan orang yang sedang putus asa, mengunjungi orang sakit, membantu orang miskin, atau menghibur seseorang yang sedang berduka, itu adalah kairos.

Jangan selalu menunggu waktu yang sempurna untuk berbuat baik. Bisa jadi kesempatan itu tidak akan datang lagi.

Terkadang kita berkata, “Nanti kalau sudah punya banyak uang saya akan membantu.” “Nanti kalau sudah tidak sibuk saya akan melayani.” “Nanti kalau sudah tua saya akan lebih serius beribadah.” “Nanti kalau sudah pensiun saya akan punya lebih banyak waktu untuk keluarga.”

Tetapi siapa yang menjamin bahwa “nanti” itu akan datang? Karena itu, gunakanlah kesempatan yang ada sekarang.

Keempat, orang bijak berani mengevaluasi cara hidupnya.

Paulus berkata, “Perhatikanlah dengan saksama bagaimana kamu hidup.” Ini adalah panggilan untuk melakukan introspeksi. Kita perlu berhenti sejenak dari kesibukan dan bertanya: Ke mana hidup saya sedang berjalan?

Apakah kesibukan saya membawa saya semakin dekat kepada Tuhan atau justru semakin jauh? Apakah pekerjaan saya membuat saya mampu melayani keluarga dengan lebih baik, atau justru membuat keluarga saya kehilangan saya?

Apakah penggunaan teknologi membantu saya menjadi lebih produktif, atau justru mencuri waktu yang seharusnya saya gunakan untuk membangun relasi? Apakah waktu yang Tuhan berikan kepada saya menghasilkan sesuatu yang bernilai kekal?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting karena manusia mudah sekali menjalani hidup secara otomatis. Bangun, bekerja, makan, tidur, lalu mengulanginya lagi. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.

Tiba-tiba kita sadar bahwa waktu telah berlalu begitu cepat. Karena itu, jangan hanya hidup berdasarkan kebiasaan. Hiduplah dengan kesadaran akan panggilan Tuhan.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kita tidak dapat menghentikan waktu. Kita tidak dapat membeli kembali masa lalu. Kita tidak dapat meminta satu hari yang telah berlalu untuk kembali.

Tetapi kita masih memiliki hari ini. Hari ini adalah kesempatan. Hari ini adalah kairos. Hari ini kita masih dapat mengucapkan “terima kasih”. Hari ini kita masih dapat meminta maaf. Hari ini kita masih dapat mengampuni.

Hari ini kita masih dapat memeluk anak kita. Hari ini kita masih dapat menelepon orang tua. Hari ini kita masih dapat berdoa. Hari ini kita masih dapat melayani. Hari ini kita masih dapat melakukan sesuatu yang berkenan kepada Tuhan. Karena itu, jangan sia-siakan waktu yang Tuhan berikan.

Marilah kita hidup sebagai orang bijak, bukan dengan memenuhi hidup dengan sebanyak mungkin aktivitas, tetapi dengan mengisi waktu kita dengan hal-hal yang memiliki nilai dan tujuan di hadapan Allah.

Jangan sampai suatu hari nanti kita memiliki banyak uang, banyak jabatan, banyak pencapaian, tetapi baru menyadari bahwa kita telah kehilangan waktu bersama orang-orang yang kita kasihi dan kehilangan kesempatan untuk melakukan kehendak Tuhan.

Kiranya Tuhan memberikan kepada kita hikmat untuk membedakan mana yang penting dan mana yang tidak, mana yang harus dikejar dan mana yang harus dilepaskan, mana yang harus dilakukan sekarang dan mana yang dapat ditunda.

Marilah kita menggunakan setiap kesempatan sebagai anugerah dari Tuhan. Sebab waktu bukan sekadar detik yang berlalu. Waktu adalah kesempatan untuk menghidupi kasih, melakukan kebaikan, membangun relasi, melayani sesama, dan bertumbuh dalam iman.

Maka, janganlah hidup seperti orang bebal, tetapi hiduplah seperti orang bijak. Pergunakanlah waktu yang ada, sebab setiap hari yang Tuhan berikan adalah kesempatan untuk memuliakan-Nya. Amin.

Doa : Ya Tuhan, ajarlah kami menghargai setiap waktu dan kesempatan yang Engkau anugerahkan. Berikan kami hikmat untuk menentukan prioritas, menggunakan waktu dengan bijaksana, serta hadir bagi keluarga dan sesama. Tolong kami agar tidak menyia-nyiakan kesempatan berbuat baik dan melayani, sehingga seluruh hidup kami memuliakan nama-Mu. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN MALAM GPIB SABDA BINA UMAT