Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Senin, 17 Agustus 2026, Yohanes 8:37-38  Siapa Bapak Di Balik Tindakan Kita

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:53 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab: Yohanes 8:37-38
Tema: Siapa “Bapak” di Balik Tindakan Kita?

“Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan apa yang kamu dengar dari bapakmu, itulah yang kamu perbuat.” (Yohanes 8:38)

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Ada sebuah pepatah Batak yang berbunyi, “Dang dao tubis sian bonana,” yang secara harfiah berarti, “Rebung tidak jauh dari induknya.” Pepatah ini menggambarkan hubungan yang sangat erat antara seorang anak dengan sumber kehidupannya.

Rebung tumbuh dari pohon bambu. Ia tidak jauh dari tempat asalnya dan pada akhirnya akan memperlihatkan ciri-ciri dari pohon yang menjadi induknya.

Pepatah ini juga dapat menggambarkan kehidupan manusia. Anak belajar dari orang tua, bukan hanya melalui nasihat, tetapi terutama melalui teladan. Anak yang bertumbuh dalam keluarga yang penuh kasih akan belajar mengasihi.

Anak yang melihat kejujuran akan belajar berlaku jujur. Sebaliknya, jika anak terbiasa melihat kebencian, kekerasan, kebohongan, atau kesombongan, hal-hal itu pun dapat membentuk perilakunya.

Dengan kata lain, apa yang menjadi sumber kehidupan kita akan memengaruhi cara kita hidup.

Hal ini juga menjadi persoalan dalam percakapan Yesus dengan orang-orang Yahudi dalam Yohanes 8. Mereka sangat bangga karena merupakan keturunan Abraham.

Mereka merasa memiliki identitas yang benar karena berasal dari garis keturunan Abraham. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa identitas rohani seseorang tidak cukup ditentukan oleh silsilah atau status lahiriah.

Mereka memang keturunan Abraham secara jasmani, tetapi tindakan mereka tidak mencerminkan iman Abraham. Abraham dikenal sebagai orang yang percaya kepada Allah dan hidup dalam ketaatan. Sementara itu, orang-orang yang berhadapan dengan Yesus justru berusaha membunuh-Nya.

Karena itu Yesus berkata, “Jikalau kamu anak-anak Abraham, kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham.” Artinya, seseorang tidak dapat hanya mengaku sebagai anak Abraham, sementara hidupnya bertentangan dengan karakter Abraham.

Di sinilah kita menemukan sebuah prinsip penting: identitas sejati terlihat melalui tindakan.

Kita mungkin mengaku sebagai orang Kristen. Kita mungkin memiliki Alkitab, rajin mengikuti ibadah, aktif dalam pelayanan, dan terlibat dalam berbagai kegiatan gereja.

Semua itu baik dan penting. Tetapi pertanyaan yang lebih dalam adalah: Apakah kehidupan kita mencerminkan Kristus yang kita imani? Siapa yang sebenarnya menjadi “bapak” di balik tindakan kita?

Saudara-saudari, Yesus mengatakan, “Firman-Ku tidak mendapat tempat di dalam kamu.” Inilah akar persoalannya. Firman Tuhan tidak mendapatkan ruang untuk tinggal dan bekerja dalam kehidupan mereka.

Gambaran ini sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang. Bayangkan hati kita seperti memori sebuah telepon genggam. Ketika memorinya sudah penuh, tidak ada lagi ruang untuk menyimpan sesuatu yang baru.

Demikian juga hati manusia. Batin kita dapat penuh dengan berbagai hal: kesombongan karena keberhasilan masa lalu, luka akibat perkataan orang lain, dendam yang terus dipelihara, kekhawatiran, ambisi pribadi, keinginan untuk dihormati, bahkan kebencian terhadap orang yang berbeda dengan kita.

Ketika hati kita penuh dengan semua itu, firman Tuhan mungkin tetap kita dengarkan, tetapi tidak memiliki ruang untuk menetap. Firman hanya mampir di telinga, lalu hilang tanpa menghasilkan perubahan.

Kita mendengar firman tentang pengampunan, tetapi tetap memelihara dendam. Kita mendengar firman tentang kasih, tetapi masih mudah membenci. Kita mendengar firman tentang kejujuran, tetapi masih mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar. Kita mendengar firman tentang kerendahan hati, tetapi masih ingin dianggap paling benar.

Karena itu, masalah kita bukan selalu karena kurang mendengar firman Tuhan. Bisa jadi masalahnya adalah kita belum memberikan ruang bagi firman Tuhan untuk mengubah kehidupan kita.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Yesus sendiri memberikan teladan yang sempurna. Ia berkata bahwa apa yang dilihat-Nya pada Bapa, itulah yang dikatakan-Nya. Kehidupan Yesus mencerminkan karakter Bapa: penuh kasih, benar, kudus, adil, penuh belas kasihan, dan rela melayani.

Sebagai pengikut Kristus, kita pun dipanggil untuk mencerminkan karakter Bapa melalui kehidupan kita. Identitas sebagai anak-anak Allah harus terlihat dalam perkataan dan tindakan.

Kita tidak cukup berkata, “Saya orang Kristen.” Orang lain seharusnya dapat melihat kasih Kristus melalui cara kita memperlakukan mereka. Mereka seharusnya menemukan kejujuran dalam pekerjaan kita, kesetiaan dalam tanggung jawab kita.  

Pengampunan dalam hubungan kita, kepedulian terhadap orang yang lemah, dan kerendahan hati dalam cara kita menggunakan kekuasaan maupun kemampuan. Hal ini juga sangat penting dalam kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia.

Di tengah berbagai perbedaan suku, agama, budaya, pilihan, dan latar belakang, gereja dipanggil untuk menjadi pembawa terang. Sebagai warga negara sekaligus warga Kerajaan Allah, kita tidak dipanggil untuk mewariskan kebencian, tetapi menghadirkan damai. Kita tidak dipanggil memperbesar perpecahan, tetapi membangun persaudaraan.

Pada usia kemerdekaan Indonesia yang ke-81, tugas kita bukan lagi mengangkat senjata melawan penjajah. Tugas kita sekarang adalah mengisi kemerdekaan dengan kehidupan yang benar dan bertanggung jawab.

Sebagai orang percaya, kita dipanggil menunjukkan bahwa kemerdekaan yang kita terima juga harus menghasilkan kebebasan untuk melakukan yang baik. Pertanyaannya sederhana tetapi sangat penting: Ketika orang melihat kehidupan kita, karakter siapa yang mereka lihat?

Apakah mereka melihat kesombongan atau kerendahan hati? Kebencian atau kasih? Keegoisan atau kepedulian? Perpecahan atau perdamaian?

Kiranya orang lain dapat melihat bahwa kita sungguh-sungguh adalah anak-anak Allah karena tindakan kita mencerminkan karakter Bapa.

Mari kita menyediakan ruang dalam hati bagi firman Tuhan. Lepaskan kesombongan, dendam, kebencian, dan ambisi yang menguasai diri. Biarkan firman Kristus tinggal di dalam kita dan membentuk pikiran, perkataan, serta tindakan kita.

Itulah proklamasi iman yang sesungguhnya: bukan hanya mengaku sebagai anak-anak Allah, tetapi hidup sebagai anak-anak Allah yang membawa kasih, kebenaran, dan damai bagi bangsa Indonesia. Amin.

 

Doa : Tuhan Yesus, kami bersyukur atas firman-Mu yang mengajar kami mengenal kebenaran. Tolong teguhkan iman kami agar hidup dalam firman-Mu, bukan hanya mendengar tetapi melakukannya. Jauhkan kami dari dosa dan ajarlah kami menjadi anak-anak yang setia. Dalam nama Yesus. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN MALAM GPIB SABDA BINA UMAT