Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Selasa, 18 Agustus 2026, Yohanes 8:39-42  Mengerjakan Pekerjaan Yang Dikerjakan Oleh Abraham

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 13:25 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab: Yohanes 8:39-42
Tema: Mengerjakan Pekerjaan yang Dikerjakan oleh Abraham

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Banyak orang sangat memperhatikan asal-usul dan latar belakang keluarga. Ada yang bangga karena ia adalah “anak pemilik perusahaan”, “anak pejabat”, atau berasal dari keluarga terpandang.

Dalam kehidupan bergereja pun hal yang sama dapat terjadi. Ada orang yang berkata, “Saya cucu pendiri gereja ini,” atau “Keluarga kami sudah menjadi Kristen sejak zaman Belanda.” Ada pula yang merasa lebih dekat dengan Tuhan karena keluarganya sudah lama aktif dalam pelayanan gereja.

Hal-hal seperti itu memang dapat menjadi kebanggaan dan sejarah yang patut disyukuri. Namun, firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa identitas iman tidak cukup hanya berdasarkan keturunan, status, atau sejarah keluarga. Iman harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Yohanes 8:39, orang-orang Yahudi berkata kepada Yesus, “Bapa kami ialah Abraham.” Mereka merasa memiliki kedudukan istimewa karena mereka adalah keturunan Abraham. Abraham adalah tokoh penting dalam sejarah iman mereka. Karena itu, mereka merasa bahwa status sebagai keturunan Abraham sudah menjadi jaminan bahwa mereka berada di pihak Allah.

Tetapi Yesus memberikan jawaban yang sangat tegas: “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham.” Dengan kata lain, Yesus sedang berkata bahwa menjadi anak Abraham bukan hanya persoalan darah dan keturunan. Anak Abraham yang sejati adalah orang yang memiliki iman dan kehidupan yang mencerminkan iman Abraham.

Lalu, apa pekerjaan Abraham yang dimaksudkan Yesus?

Abraham dikenal sebagai orang yang percaya kepada Allah. Ketika Allah memanggilnya untuk meninggalkan negeri dan keluarganya, Abraham berani melangkah dalam iman. Ia tidak mengetahui seluruh jalan yang akan ditempuh, tetapi ia percaya kepada janji Allah. Abraham juga belajar menaati Allah, bahkan ketika ketaatan itu menuntut pengorbanan yang besar.

Jadi, menjadi anak Abraham berarti hidup dalam iman, percaya kepada Allah, mendengarkan suara-Nya, dan berani melakukan kehendak-Nya. Iman bukan hanya sesuatu yang kita ucapkan dengan mulut, tetapi sesuatu yang diwujudkan melalui tindakan.

Saudara-saudari, Pesan ini sangat relevan bagi kehidupan kita. Kita mungkin sudah lama menjadi anggota gereja. Kita mungkin rajin beribadah, aktif dalam pelayanan, memiliki keluarga Kristen, bahkan terlibat dalam berbagai kegiatan gerejawi.

Semua itu baik. Tetapi kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah kehidupan kita benar-benar menunjukkan iman kepada Kristus?

Jangan sampai kita hanya bangga dengan status sebagai orang Kristen, tetapi kehidupan kita tidak mencerminkan Kristus. Jangan sampai kita rajin datang ke gereja, tetapi di rumah kita mudah marah, di tempat kerja kita tidak jujur, dalam usaha kita mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar, dan dalam pergaulan kita merendahkan orang lain.

Yesus mengajarkan bahwa hubungan dengan Allah harus menghasilkan perubahan hidup. Jika kita sungguh-sungguh mengenal Allah, maka kita akan belajar mengasihi apa yang Allah kasihi: kebenaran, keadilan, kerendahan hati, dan sesama manusia, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan.

Dalam ayat 42, Yesus berkata bahwa jika Allah benar-benar menjadi Bapa mereka, mereka akan mengasihi Yesus, sebab Yesus datang dan diutus oleh Allah. Di sini kita melihat hubungan yang sangat penting: mengaku mengenal Allah harus berjalan bersama dengan menerima dan mengasihi Yesus. Menolak Yesus berarti menolak Dia yang mengutus-Nya.

Karena itu, identitas kita sebagai orang percaya tidak boleh berhenti pada nama, status, atau warisan iman dari orang tua dan leluhur. Iman harus menjadi kenyataan yang terus-menerus kita hidupi. Kita tidak dapat mewariskan iman seperti mewariskan rumah, tanah, atau harta benda. Orang tua dapat mewariskan teladan, tetapi setiap orang harus mengambil keputusan sendiri untuk percaya, mengasihi, dan menaati Tuhan.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Mari kita melihat kehidupan kita masing-masing. Di rumah, apakah kita menunjukkan kasih Kristus kepada pasangan, anak, orang tua, dan saudara kita? Di tempat kerja, apakah kita dikenal sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya?

Dalam kehidupan bermasyarakat, apakah kehadiran kita membawa damai? Di gereja, apakah pelayanan kita lahir dari kasih kepada Tuhan atau hanya karena ingin dihargai?

“Mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham” berarti berani hidup dalam iman dan ketaatan kepada Allah. Dan sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk melanjutkan iman itu dengan hidup menurut teladan Yesus: mengasihi, merendahkan diri, mengatakan kebenaran, mengampuni, melayani, dan memperhatikan mereka yang membutuhkan.

Janganlah kita mengandalkan silsilah keluarga, lamanya menjadi orang Kristen, jabatan gerejawi, atau masa lalu pelayanan. Semua itu dapat kita syukuri, tetapi yang terutama adalah apakah hari ini hidup kita menghasilkan buah iman.

Kiranya melalui perkataan, pekerjaan, kejujuran, kasih, dan relasi kita dengan sesama, orang lain dapat melihat kasih Allah. Dengan demikian, kita bukan hanya menyebut diri sebagai anak-anak Abraham dan anak-anak Allah, tetapi sungguh-sungguh menghidupi iman itu dalam kehidupan setiap hari. Amin.

Doa : Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu. Ajarlah kami memiliki iman seperti Abraham, percaya dan taat kepada kehendak-Mu. Tolong kami menunjukkan kasih, kejujuran, kerendahan hati, dan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, sehingga melalui kami nama-Mu semakin dimuliakan. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN PAGI GPIB SABDA BINA UMAT