Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Selasa, 18 Agustus 2026, Yohanes 8:43-47 Mengatakan Kebenaran

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 13:27 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab: Yohanes 8:43-47
Tema: Mengatakan Kebenaran

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Pernahkah kita membayangkan seorang dokter memberikan obat kepada dua orang pasien yang menderita penyakit yang sama? Pasien pertama menerima obat itu dan meminumnya dengan teratur sesuai petunjuk dokter.

Pasien kedua membaca label obat tersebut, mencari tahu kandungannya, membicarakannya dengan banyak orang, bahkan mungkin menghafal nama dan manfaat obat itu. Tetapi ia tidak pernah meminumnya.

Beberapa waktu kemudian, pasien pertama mengalami kesembuhan. Sementara pasien kedua tetap sakit. Mengapa? Bukan karena ia tidak mengetahui obatnya, tetapi karena pengetahuannya tidak pernah menghasilkan tindakan.

Gambaran sederhana ini dapat menolong kita memahami kehidupan iman. Kita bisa membaca Alkitab, mendengarkan khotbah, mengikuti ibadah, membicarakan firman Tuhan, bahkan menghafal banyak ayat. Namun, jika firman itu tidak kita terima dan tidak kita lakukan, firman tersebut hanya menjadi pengetahuan dan tidak menjadi kekuatan yang mengubah kehidupan.

Dalam Yohanes 8:43-47, Yesus sedang berbicara kepada orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran yang disampaikan-Nya. Mereka mendengar perkataan Yesus, tetapi hati mereka tertutup. Karena itu Yesus berkata dalam ayat 45, “Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku.”

Menarik untuk diperhatikan: justru karena Yesus mengatakan kebenaran, mereka tidak percaya kepada-Nya. Mengapa? Karena kebenaran sering kali tidak nyaman. Kebenaran menyingkapkan sesuatu yang ingin kita sembunyikan. Kebenaran membuat kita harus berhadapan dengan diri sendiri.

Saudara-saudari, Ada dua jenis mendengar. Pertama, mendengar dengan telinga. Kita mendengar suara, membaca tulisan, memahami kalimat, bahkan mampu mengingat isi khotbah. Ini adalah proses mendengar secara fisik dan intelektual.

Tetapi ada jenis mendengar yang kedua, yaitu mendengar dengan hati. Mendengar dengan hati berarti membiarkan firman Tuhan masuk ke dalam diri, menegur kita, mengoreksi kita, mengubah cara berpikir kita, dan akhirnya menghasilkan pertobatan serta ketaatan.

Kita bisa bertahun-tahun menjadi anggota gereja. Kita bisa rajin beribadah, aktif dalam pelayanan, menjadi presbiter, terlibat dalam berbagai kepanitiaan, atau menjalankan tugas dalam pelayanan gerejawi. Semua itu tentu baik. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah firman Tuhan sungguh-sungguh mengubah kehidupan kita?

Apakah setelah mendengar firman kita menjadi lebih sabar? Apakah kita menjadi lebih jujur? Apakah kita lebih mampu mengampuni? Apakah kita semakin menghargai orang lain? Apakah kita lebih peduli kepada mereka yang miskin, lemah, dan membutuhkan pertolongan? Apakah hubungan kita dengan keluarga, tetangga, rekan kerja, dan lingkungan menjadi lebih baik?

Jika jawabannya tidak, mungkin kita sudah terlalu sering mendengar firman dengan telinga, tetapi belum sungguh-sungguh mendengarnya dengan hati.

Kita juga hidup dalam zaman pencitraan. Media sosial membuat orang dapat memilih apa yang ingin ditampilkan kepada dunia. Kita bisa menampilkan kehidupan yang tampak bahagia, sukses, religius, dan baik, sementara keadaan yang sebenarnya mungkin sangat berbeda.

Pencitraan bukan hanya persoalan media sosial. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita bisa membangun citra. Di gereja kita dapat terlihat sangat rohani, tetapi di rumah mudah marah. Di depan orang lain kita berbicara tentang kasih, tetapi di belakang mereka kita suka menjelek-jelekkan.

Kita berbicara tentang kejujuran, tetapi dalam pekerjaan kita masih melakukan manipulasi. Kita mengajarkan pengampunan, tetapi menyimpan kebencian selama bertahun-tahun.

Di sinilah firman Tuhan menguji kita. Kekristenan bukan terutama tentang bagaimana kita terlihat di hadapan manusia, melainkan tentang siapa kita ketika tidak ada orang yang melihat.

Yesus mengatakan kebenaran bukan untuk mempermalukan manusia, tetapi untuk membebaskan manusia dari kepalsuan. Kebenaran Tuhan memang dapat terasa tajam karena menyentuh bagian-bagian kehidupan yang selama ini kita sembunyikan. Namun justru melalui kebenaran itulah Tuhan hendak membentuk dan memulihkan kita.

Karena itu, kita tidak perlu takut ketika firman Tuhan menegur kita. Jangan segera mencari alasan atau menyalahkan orang lain. Sebaliknya, marilah kita berkata, “Tuhan, apakah ada sesuatu dalam hidup saya yang perlu Engkau ubah?”

Mendengar kebenaran berarti berani membiarkan Tuhan memeriksa hati kita. Jika ada kesalahan, kita mengakuinya. Jika ada dosa, kita bertobat. Jika ada hubungan yang rusak, kita berusaha memperbaikinya. Jika kita telah berlaku tidak jujur, kita belajar berkata benar. Jika selama ini kita hanya memikirkan diri sendiri, kita belajar memperhatikan kebutuhan orang lain.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Kebenaran bukan hanya sesuatu yang harus kita katakan dengan mulut. Kebenaran harus menjadi cara hidup. Yesus sendiri adalah teladan utama. Ia datang dari Allah dan menyampaikan kebenaran Allah dengan setia. Karena itu, sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil bukan hanya untuk mengetahui kebenaran, tetapi untuk hidup di dalamnya.

Jangan sampai Alkitab hanya menjadi buku yang kita baca tanpa pernah mengubah kehidupan. Jangan sampai khotbah hanya menjadi sesuatu yang kita dengarkan lalu kita lupakan. Jangan sampai pelayanan menjadi sekadar aktivitas tanpa pertumbuhan iman.

Mari kita berhenti membangun citra dan mulai membangun karakter. Biarlah firman Tuhan yang kita dengar masuk ke dalam hati, membarui pikiran, mengoreksi ego, memperbaiki kebiasaan, dan membentuk relasi kita dengan sesama.

Kiranya ketika orang melihat kehidupan kita, mereka tidak menemukan jurang antara apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan. Biarlah perkataan kita benar, pekerjaan kita jujur, relasi kita penuh kasih, dan kehidupan kita menjadi kesaksian tentang Kristus.

Sebab pada akhirnya, kebenaran yang kita dengar harus menjadi kebenaran yang kita hidupi. Amin.

Doa : Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu yang menyatakan kebenaran. Bukalah hati kami agar tidak hanya mendengar, tetapi sungguh-sungguh melakukannya. Jauhkan kami dari kepalsuan dan pencitraan, serta bentuklah hidup kami menjadi kesaksian yang jujur, kudus, dan penuh kasih. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN MALAM GPIB SABDA BINA UMAT