Pembacaan Alkitab: Yohanes 8:48-53
Tema: Bagi Dia yang Menghakimi
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berhadapan dengan perbedaan pendapat. Apalagi di tengah kehidupan masyarakat yang semakin terbuka, setiap orang merasa memiliki hak untuk menyampaikan pendapatnya.
Media sosial membuat seseorang dapat memberikan komentar dengan cepat, bahkan sebelum memahami persoalan secara utuh. Akibatnya, tidak jarang kita menemukan kata-kata kasar, caci maki, tuduhan, dan penghakiman terhadap orang lain.
Dalam situasi seperti ini, kita membutuhkan kedewasaan untuk tidak selalu membalas setiap perkataan yang menyakitkan. Ada kalanya diam bukan berarti kita lemah atau takut. Diam dapat menjadi tanda bahwa kita tidak mau dikuasai oleh emosi dan tidak ingin membalas kejahatan dengan kejahatan.
Hal yang menarik, situasi seperti ini juga dialami oleh Yesus. Dalam Yohanes 8:48-53, orang-orang Yahudi menuduh Yesus dengan perkataan yang sangat keras. Mereka menyebut Yesus sebagai orang Samaria dan mengatakan bahwa Ia kerasukan setan. Tuduhan itu bukanlah tuduhan ringan. Mereka sedang berusaha merendahkan martabat dan kehormatan Yesus.
Namun, bagaimana Yesus merespons? Yesus tidak terjebak dalam pembelaan ego yang reaktif. Ia tidak membalas hinaan dengan hinaan. Ia tidak berusaha mati-matian membuktikan bahwa diri-Nya hebat di hadapan orang-orang yang menolak-Nya. Sebaliknya, Yesus mengarahkan perhatian kepada Bapa.
Dalam ayat 50, Yesus berkata: “Namun, Aku tidak mencari hormat bagi-Ku: ada Satu yang mencarinya dan Dia juga yang menghakimi.”
Perkataan ini sangat kuat. Yesus mengetahui siapa diri-Nya dan dari mana Ia datang. Karena itu, penilaian manusia tidak menentukan nilai diri-Nya. Yesus tidak hidup untuk mencari pengakuan manusia. Ia hidup untuk melakukan kehendak Bapa.
Saudara-saudari, Di sinilah kita dapat belajar sesuatu yang sangat penting. Sering kali kita merasa sangat terluka ketika orang lain salah memahami atau menilai kita.
Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang kita, kita merasa harus segera membalas. Kita ingin menjelaskan semuanya. Kita ingin membuktikan bahwa kita benar dan orang lain salah.
Tentu saja, ada situasi tertentu ketika kita memang perlu memberikan penjelasan atau membela kebenaran. Tetapi pertanyaannya adalah: dari mana dorongan kita berasal? Apakah kita sedang mempertahankan kebenaran, atau sebenarnya sedang mempertahankan ego dan harga diri?
Ini dua hal yang berbeda. Jika kita membela kebenaran karena kasih dan tanggung jawab, kita dapat melakukannya dengan tenang. Tetapi jika kita membela diri karena tidak tahan kehilangan penghormatan manusia, kita akan mudah menjadi marah, menyerang, bahkan menyakiti orang lain.
Yesus mengajarkan bahwa kita tidak perlu menjadikan pengakuan manusia sebagai sumber utama nilai diri kita. Ada Allah yang mengenal kita secara sempurna. Allah mengetahui apa yang benar dan apa yang salah. Allah mengetahui motivasi hati kita. Karena itu, ketika kita diperlakukan tidak adil, kita dapat menyerahkan penghakiman terakhir kepada-Nya.
Bukan berarti kita boleh bersikap pasif terhadap ketidakadilan. Bukan berarti kita membiarkan kebohongan terus berlangsung. Tetapi kita tidak perlu membalas dengan kebencian. Kita dapat menyampaikan kebenaran dengan kasih, melakukan apa yang benar, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Firman Tuhan hari ini juga mengajak kita melihat sisi yang lain: janganlah kita mengambil tempat sebagai hakim bagi sesama.
Kadang-kadang kita sangat mudah menuntut orang lain untuk benar, tetapi sulit melihat kesalahan diri sendiri. Kita rajin beribadah, tetapi kemudian merasa lebih suci daripada orang lain.
Kita aktif dalam pelayanan, tetapi mudah mengatakan bahwa orang lain “kurang iman”. Kita memiliki pemahaman tertentu tentang iman, lalu menggunakan pemahaman tersebut untuk menghakimi orang yang berbeda dengan kita.
Bukankah sikap seperti ini juga berbahaya? Ketika kita dengan mudah memberikan label kepada orang lain sebagai “sesat”, “tidak beriman”, “terkutuk”, atau “tidak layak”, kita sedang mengambil posisi yang bukan milik kita.
Kita lupa bahwa hanya Allah yang benar-benar mengetahui isi hati seseorang dan memiliki hak untuk memberikan penghakiman terakhir.
Kita perlu membedakan antara menilai sebuah tindakan dan menghakimi pribadi seseorang. Sebagai orang percaya, kita memang dipanggil untuk membedakan yang baik dan yang jahat. Kita tidak boleh menyebut dosa sebagai kebenaran.
Tetapi ketika berhadapan dengan orang yang melakukan kesalahan, kita dipanggil untuk menegur dengan kasih, bukan menghancurkan martabatnya.
Yesus sendiri mengatakan kebenaran dengan tegas, tetapi Ia tidak hidup untuk menghancurkan orang lain. Ia datang untuk menyatakan kasih dan keselamatan Allah.
Karena itu, kualitas iman kita bukan hanya terlihat dari seberapa rajin kita beribadah, tetapi juga dari kemampuan kita mengendalikan diri ketika disalahpahami dan dari kesediaan kita untuk tidak mudah menghakimi orang lain.
Saudara-saudari, Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang merasa sakit hati karena perkataan orang lain. Mungkin ada yang difitnah, disalahpahami, atau diperlakukan tidak adil. Firman Tuhan mengingatkan: jangan biarkan perkataan manusia menentukan nilai diri kita.
Kita tahu kepada siapa kita harus menyerahkan kehormatan kita. Ada Allah yang melihat. Ada Allah yang mengetahui kebenaran. Ada Allah yang menghakimi dengan adil.
Karena itu, marilah kita belajar seperti Yesus: tidak hidup untuk mencari hormat manusia, tetapi hidup untuk menghormati Allah. Ketika disakiti, kita tidak membalas dengan kebencian. Ketika difitnah, kita tidak kehilangan kendali. Ketika berbeda dengan orang lain, kita tidak buru-buru menghakimi.
Biarlah Allah menjadi Hakim yang adil. Tugas kita adalah tetap setia, melakukan kebenaran, mengasihi sesama, dan menjaga hati agar tidak dipenuhi kebencian.
Kiranya kehidupan kita semakin menunjukkan kedewasaan iman: tidak mudah tersinggung, tidak cepat membalas, tidak gemar menghakimi, tetapi selalu berusaha menghormati Allah dalam perkataan dan perbuatan.
Bagi Dia yang menghakimi, kita serahkan segala perkara. Bagi kita, panggilan kita adalah tetap hidup dalam kasih, kebenaran, dan ketaatan kepada-Nya. Amin.
Doa : Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu. Ajarlah kami untuk tidak mudah menghakimi, membalas hinaan, atau mencari penghormatan manusia. Teguhkan hati kami agar tetap rendah hati, sabar, dan menyerahkan segala perkara kepada keadilan-Mu. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow