Pembacaan Alkitab: Yohanes 9:35-41
Tema: Aku Percaya, Tuhan
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Kita hidup di zaman ketika manusia memiliki akses yang sangat luas terhadap informasi. Dengan telepon genggam, kita dapat melihat berita dari berbagai tempat, mengetahui kehidupan orang lain, membaca berbagai pendapat, bahkan mencari jawaban atas hampir semua pertanyaan. Kita merasa memiliki “penglihatan” yang semakin tajam karena teknologi.
Namun, ada sebuah pertanyaan penting: Apakah semakin banyak yang kita lihat berarti kita semakin mampu melihat pekerjaan Tuhan?
Belum tentu. Kita bisa melihat banyak hal dengan mata, tetapi belum tentu mampu melihat dengan hati. Kita dapat mengetahui banyak informasi, tetapi belum tentu mengenal kebenaran.
Kita dapat melihat kesalahan orang lain dengan sangat jelas, tetapi tidak mampu melihat kekurangan diri sendiri.
Karena itu, kebutaan yang paling berbahaya bukan selalu kebutaan fisik. Kebutaan yang lebih berbahaya adalah ketika mata kita terbuka, tetapi hati kita tertutup terhadap kehadiran Tuhan.
Dalam Yohanes 9, kita bertemu dengan seorang yang sejak lahir mengalami kebutaan. Yesus menyembuhkannya. Tetapi setelah mengalami kesembuhan, orang itu justru menghadapi persoalan baru. Ia ditolak oleh orang-orang Farisi karena kesaksiannya tentang Yesus.
Ia telah mendapatkan penglihatan secara fisik, tetapi harus kehilangan penerimaan sosial. Ia mengalami penolakan karena berani mengatakan apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Namun, Yesus tidak meninggalkannya.
Dalam ayat 35 dikatakan bahwa ketika Yesus mendengar bahwa orang itu telah diusir ke luar, Ia mencarinya. Ini adalah bagian yang sangat indah dari kisah ini. Ketika manusia meninggalkan dia, Yesus justru mencarinya.
Saudara-saudari, Mungkin ada di antara kita yang pernah mengalami keadaan seperti orang tersebut. Kita pernah merasa ditolak, disalahpahami, dikucilkan, atau tidak dianggap. Ada yang merasa gagal dalam pekerjaan. Ada yang mengalami kegagalan dalam usaha.
Ada yang merasa tidak diterima dalam lingkungan sosial. Ada yang pernah mengalami konflik dalam keluarga atau bahkan merasa tidak lagi memiliki tempat di tengah komunitasnya.
Dunia sering menilai manusia berdasarkan keberhasilan. Orang yang berhasil dihormati, sementara orang yang gagal mudah dilupakan. Dunia juga sering menilai berdasarkan penampilan, kekayaan, pendidikan, jabatan, dan kemampuan.
Tetapi Yesus tidak demikian. Ketika orang lain mengusir, Yesus mencari. Ketika orang lain merendahkan, Yesus mendekati. Ketika orang lain melihat kekurangan, Yesus melihat pribadi yang berharga di hadapan Allah.
Ini menjadi kabar baik bagi kita. Nilai diri kita tidak ditentukan oleh jumlah orang yang menyukai kita. Nilai kita tidak ditentukan oleh jumlah “like”, komentar positif, jabatan, keberhasilan, atau pengakuan manusia. Nilai kita ditentukan oleh kasih Allah yang menerima kita.
Yesus kemudian bertanya kepada orang yang telah disembuhkan itu, “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Pertanyaan Yesus ini bukan sekadar pertanyaan tentang pengetahuan. Yesus tidak bertanya, “Berapa banyak yang kamu ketahui tentang Aku?” Ia bertanya tentang iman.
Dan ketika Yesus menyatakan diri-Nya, orang itu menjawab: “Aku percaya, Tuhan!” Lalu ia sujud menyembah Yesus. Inilah puncak dari kisah penyembuhan tersebut.
Sebelumnya, orang itu hanya mengenal Yesus sebagai orang yang menyembuhkannya. Tetapi sekarang ia mengenal Yesus lebih dalam. Ia tidak hanya menerima kesembuhan mata, tetapi juga menerima pengenalan dan iman kepada Kristus.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Iman bukan hanya tentang mengetahui banyak hal mengenai Tuhan. Kita bisa hafal banyak ayat Alkitab, mengetahui banyak doktrin, rajin mengikuti ibadah, bahkan aktif dalam pelayanan. Tetapi semua itu harus membawa kita semakin mengenal dan mengasihi Kristus.
Ada perbedaan antara mengetahui tentang Yesus dan mengenal Yesus. Mengetahui tentang Yesus dapat membuat kita pandai berbicara mengenai agama. Tetapi mengenal Yesus akan membuat kita berubah dalam kehidupan.
Jika kita sungguh mengenal Yesus, kita akan belajar mengampuni. Kita akan belajar mengasihi orang yang berbeda dengan kita. Kita akan belajar rendah hati. Kita akan memiliki kepedulian kepada orang miskin, orang sakit, orang yang tersisih, dan mereka yang sering tidak mendapatkan tempat dalam masyarakat.
Di sinilah kita perlu berhati-hati terhadap sikap orang Farisi dalam bacaan ini. Orang Farisi sebenarnya memiliki pengetahuan agama. Mereka mengenal hukum Taurat dan merasa memahami kehendak Allah.
Namun, mereka justru tidak mampu mengenali pekerjaan Allah yang sedang terjadi di depan mata mereka. Mereka melihat mujizat, tetapi tidak melihat kasih Tuhan.
Mereka melihat orang yang disembuhkan, tetapi lebih sibuk mempermasalahkan hari Sabat. Mereka melihat kehidupan yang dipulihkan, tetapi hati mereka tetap tertutup.
Ini menjadi peringatan bagi kita. Jangan sampai kita rajin beribadah tetapi kehilangan kekaguman kepada Tuhan. Jangan sampai kita menyanyi tentang kasih Allah, tetapi tidak mampu mengasihi sesama. Jangan sampai kita berdoa meminta berkat, tetapi menutup mata terhadap orang yang membutuhkan pertolongan.
Jangan sampai ibadah kita hanya menjadi “presensi spiritual”, yaitu sekadar hadir supaya tercatat sebagai orang Kristen yang rajin, tetapi hati kita tidak sungguh-sungguh menyembah Tuhan.
Saudara-saudari, Kita perlu meminta kepada Tuhan agar mata iman kita dibukakan. Agar kita dapat melihat Kristus bukan hanya dalam suasana gereja, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika melihat orang miskin, apakah kita melihat manusia yang dikasihi Tuhan? Ketika melihat orang sakit, apakah kita melihat seseorang yang membutuhkan perhatian dan kasih?
Ketika berhadapan dengan orang yang berbeda pandangan, apakah kita masih mampu melihatnya sebagai saudara yang juga diciptakan menurut gambar Allah?
Ketika melihat seseorang yang gagal, apakah kita menghakiminya atau justru hadir untuk menguatkannya?
Mata iman membuat kita melihat lebih dalam daripada penampilan luar. Dunia sering berkata bahwa orang yang kuat adalah orang yang tidak membutuhkan siapa-siapa. Tetapi iman mengajarkan bahwa kita semua membutuhkan Tuhan.
Dunia berkata bahwa keberhasilan menentukan nilai seseorang. Tetapi Kristus mengatakan bahwa setiap manusia berharga di hadapan-Nya.
Dunia berkata bahwa orang yang berbeda harus disingkirkan. Tetapi Yesus justru mencari mereka yang tersisih.
Karena itu, pertanyaan Yesus kepada orang yang telah disembuhkan itu juga menjadi pertanyaan bagi kita hari ini: “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?”
Bukan hanya: apakah kita percaya bahwa Tuhan ada? Tetapi: apakah kita percaya kepada-Nya ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan? Apakah kita tetap percaya ketika doa belum dijawab?
Apakah kita tetap percaya ketika kita ditolak? Apakah kita tetap percaya ketika kita mengalami kegagalan?
Iman sejati berkata: “Aku percaya, Tuhan!” bukan hanya ketika keadaan baik, tetapi juga ketika jalan hidup terasa gelap.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Marilah kita memeriksa kembali kehidupan iman kita. Jangan sampai mata jasmani kita terbuka, tetapi mata rohani kita tertutup. Jangan sampai kita melihat kesalahan orang lain dengan jelas, tetapi tidak melihat kasih Tuhan yang sedang bekerja.
Kiranya Tuhan membuka mata hati kita, sehingga kita mampu melihat kehadiran-Nya dalam setiap keadaan dan dalam diri setiap orang yang kita jumpai.
Dan pada akhirnya, seperti orang yang disembuhkan dalam bacaan kita, kiranya kita pun dapat mengatakan dengan tulus, bukan sekadar sebagai kebiasaan: “Aku percaya, Tuhan!” Lalu kita sujud menyembah-Nya, bukan hanya dengan tubuh di dalam gereja, tetapi dengan seluruh kehidupan kita. Amin.
Doa : Tuhan Yesus, bukalah mata hati kami agar mampu melihat kasih dan karya-Mu dalam setiap keadaan. Teguhkan iman kami untuk tetap percaya saat menghadapi penolakan, kegagalan, dan pergumulan. Ajarlah kami menyembah-Mu dengan hidup yang penuh kasih. Dalam nama Yesus. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow