Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Kamis, 27 Agustus 2026, Amsal 17:14-15  Pembawa Damai Bukan Sumber Perselisihan

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 13:43 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab: Amsal 17:14-15
Tema: Pembawa Damai Bukan Sumber Perselisihan

Selamat pagi, sahabat pembaca Sabda GPIB yang dikasihi Tuhan. Pernahkah kita melihat air yang tumpah? Pada awalnya mungkin hanya sedikit, tetapi ketika air sudah mengalir, ia akan mencari jalannya sendiri.

Air yang dilepaskan sulit untuk dikumpulkan kembali. Gambaran sederhana ini dipakai untuk menolong kita memahami sesuatu yang juga sering terjadi dalam kehidupan, yaitu perselisihan.

Amsal 17:14 berkata, “Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.” Nasihat ini sederhana, tetapi sangat dalam. Perselisihan sering kali dimulai dari sesuatu yang kecil: sebuah perkataan, salah paham, perbedaan pendapat, nada bicara yang dianggap kasar, atau sikap yang membuat orang lain tersinggung.

Namun, ketika kita membiarkan emosi mengambil alih, persoalan kecil itu dapat berkembang menjadi pertengkaran yang besar.

Kata-kata yang sudah terucapkan tidak dapat ditarik kembali. Emosi yang sudah meledak dapat meninggalkan luka. Hubungan yang sudah rusak membutuhkan waktu untuk dipulihkan. Karena itu, Amsal mengingatkan kita untuk mengundurkan diri sebelum perbantahan dimulai.

Mengundurkan diri bukan berarti kita pengecut atau kalah. Mengundurkan diri dari pertengkaran justru dapat menjadi tanda bahwa kita memiliki pengendalian diri. Ada saatnya kita perlu berhenti berbicara, mengambil waktu untuk menenangkan diri, dan berdoa sebelum memberikan respons.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kita semua tentu pernah berada dalam situasi yang memancing emosi. Di dalam keluarga, mungkin ada perbedaan pendapat antara suami dan istri, antara orang tua dan anak, atau antara saudara.

Di tempat kerja, mungkin ada rekan yang tidak memahami kita. Dalam pelayanan, kita juga dapat mengalami perbedaan cara berpikir, kepentingan, atau keputusan.

Dalam situasi seperti itu, kita memiliki pilihan. Kita dapat mengikuti emosi dan memperbesar persoalan, atau kita dapat memilih jalan damai.

Pertama, jadilah orang yang menghentikan perselisihan, bukan yang memulainya.

Terkadang kita merasa harus selalu memberikan jawaban terakhir. Kita ingin membuktikan bahwa kita benar. Kita ingin orang lain mengakui kesalahannya. Akibatnya, percakapan berubah menjadi perlombaan untuk menentukan siapa yang menang.

Padahal, tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Ada kalanya menjaga hubungan jauh lebih penting daripada membuktikan bahwa kita benar.

Firman Tuhan mengajarkan kita untuk memiliki kerendahan hati. Ketika emosi mulai naik, berhentilah sejenak. Jangan langsung membalas pesan yang membuat kita marah. Jangan mengucapkan kata-kata yang muncul hanya karena emosi. Berdoalah dan berikan ruang bagi Tuhan untuk bekerja dalam hati kita.

Kedua, jadilah orang yang memiliki integritas dan keberanian untuk berpihak pada kebenaran.

Amsal 17:15 berkata bahwa orang yang membenarkan orang fasik dan orang yang menyalahkan orang benar, keduanya adalah kekejian bagi Tuhan. Ayat ini mengingatkan bahwa menjadi pembawa damai bukan berarti kita harus membenarkan segala sesuatu demi menghindari konflik.

Damai tidak sama dengan membiarkan ketidakadilan. Damai juga bukan berarti kita menutup mata terhadap kesalahan. Seorang pembawa damai tetap berani mengatakan yang benar, tetapi melakukannya dengan kasih, hikmat, dan kerendahan hati.

Kita tidak dipanggil untuk menjadi orang yang suka mencari-cari kesalahan, tetapi kita juga tidak boleh membela sesuatu yang salah hanya karena orang tersebut adalah teman, keluarga, atau orang yang kita sukai.

Karena itu, integritas harus menjadi dasar kehidupan kita. Ketika kita berbicara, berbicaralah dengan jujur. Ketika mengambil keputusan, lakukanlah dengan adil. Ketika menegur, tegurlah dengan kasih. Dan ketika kita sendiri melakukan kesalahan, belajarlah untuk mengakuinya dengan rendah hati.

Saudara-saudara, Mungkin hari ini kita akan bertemu dengan situasi yang menguji kesabaran. Mungkin ada perkataan yang membuat kita tersinggung. Mungkin ada orang yang tidak sependapat dengan kita. Mungkin ada persoalan lama yang kembali muncul.

Ketika hal itu terjadi, ingatlah nasihat Amsal: “Undurlah sebelum perbantahan mulai.” Berhenti sejenak. Tarik napas. Berdoa. Mintalah Roh Kudus mengendalikan hati dan perkataan kita.

Pilihlah damai daripada pertengkaran. Pilihlah kerendahan hati daripada kesombongan. Pilihlah mendengar daripada terburu-buru menjawab. Pilihlah membangun daripada menghancurkan.

Menjadi pembawa damai bukan berarti hidup kita akan bebas dari konflik. Tetapi ketika konflik datang, kita memilih untuk tidak menjadi bahan bakar yang membuatnya semakin besar.

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: “Apakah kehadiran saya membawa kedamaian bagi orang lain, atau justru membuat suasana semakin panas?”

Kiranya di dalam keluarga, kita menjadi pembawa damai. Di tempat kerja, kita menjadi pembawa damai. Dalam persekutuan dan pelayanan, kita menjadi pembawa damai. Di mana pun Tuhan menempatkan kita, kiranya kehadiran kita menghadirkan kesejukan, bukan perselisihan.

Mari kita menutup hari ini dengan keyakinan bahwa Tuhan memanggil kita bukan untuk menjadi sumber pertengkaran, melainkan menjadi pembawa damai.

Kiranya Roh Kudus melembutkan hati kita, menguasai perkataan kita, dan memberikan hikmat dalam setiap keputusan kita. Dengan demikian, melalui hidup kita, semakin banyak orang merasakan kasih dan damai Tuhan. Jadilah pembawa damai, bukan sumber perselisihan. Amin.

 

Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu. Mampukan kami menjadi pembawa damai dalam keluarga, pekerjaan, dan pelayanan. Berikan kami hati yang lembut, perkataan yang bijaksana, serta kemampuan mengendalikan emosi. Jauhkan kami dari perselisihan dan tuntunlah kami hidup dalam kasih. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN MALAM GPIB SABDA BINA UMAT