Pembacaan Alkitab: Amsal 17:18-19
Tema: Menghidupi Anugerah Tuhan
Selamat pagi, sahabat pembaca Sabda GPIB yang dikasihi Tuhan. Setiap hari adalah anugerah Tuhan. Kita dapat bangun pada pagi hari, menghirup udara, bertemu dengan orang-orang yang kita kasihi, bekerja, melayani, dan menjalani berbagai aktivitas karena Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita.
Karena itu, anugerah Tuhan bukan hanya sesuatu yang kita terima untuk disyukuri, tetapi juga sesuatu yang harus kita hidupi melalui sikap dan tindakan kita setiap hari.
Amsal 17:18-19 memberikan beberapa nasihat yang penting mengenai tanggung jawab, konflik, dan kerendahan hati. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup yang bijaksana tidak ditentukan hanya oleh apa yang kita miliki, tetapi oleh bagaimana kita menggunakan kesempatan dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepada kita.
Pertama, belajarlah bijaksana dalam membuat komitmen.
Amsal 17:18 menggambarkan seseorang yang kurang bijaksana karena memberikan tangannya sebagai jaminan bagi sesamanya. Gambaran “berjabat tangan” pada masa itu dapat menunjukkan kesediaan untuk memberikan jaminan atau mengambil tanggung jawab atas sesuatu.
Pesannya jelas: jangan mudah membuat janji atau mengambil tanggung jawab tanpa mempertimbangkan kemampuan dan konsekuensinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering membuat berbagai komitmen. Kita berjanji kepada pasangan, anak, orang tua, teman, rekan kerja, bahkan dalam pelayanan. Kadang-kadang kita begitu mudah mengatakan, “Ya, saya sanggup,” atau “Saya akan melakukannya,” hanya karena tidak enak menolak.
Padahal, setiap “ya” membawa tanggung jawab. Karena itu, hikmat mengajar kita untuk tidak gegabah. Sebelum berjanji, pikirkan baik-baik. Sebelum mengambil tanggung jawab, pertimbangkan kemampuan kita. Jangan sampai karena ingin terlihat baik di hadapan orang lain, kita justru memberikan janji yang tidak mampu kita tepati.
Menghidupi anugerah Tuhan berarti menyadari bahwa waktu, tenaga, kemampuan, dan sumber daya yang kita miliki semuanya adalah pemberian Tuhan. Karena itu, gunakanlah semuanya dengan bertanggung jawab.
Kedua, jangan mencintai pelanggaran dan perselisihan.
Amsal 17:19 berkata, “Siapa suka pelanggaran, suka juga pertengkaran.” Ini adalah peringatan yang sangat relevan bagi kehidupan kita.
Ada orang yang seolah-olah senang ketika terjadi konflik. Ketika ada masalah, ia ikut memperkeruh suasana. Ketika mendengar gosip, ia menyebarkannya. Ketika dua orang berselisih, ia justru menambahkan cerita yang membuat keduanya semakin marah.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena terkadang manusia merasa mendapatkan kepuasan ketika berada di tengah konflik. Ada yang merasa dirinya lebih penting ketika orang lain membutuhkan pendapatnya. Ada juga yang menikmati perhatian ketika terjadi keributan.
Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa mencintai pelanggaran berarti membuka pintu bagi pertengkaran dan kehancuran.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai, bukan penyulut konflik. Ketika mendengar sesuatu yang belum jelas, jangan terburu-buru menyebarkannya. Ketika terjadi perbedaan pendapat, jangan langsung memilih untuk menyerang. Belajarlah mendengar, memahami, dan mencari jalan keluar dengan kasih.
Ketiga, waspadalah terhadap kesombongan.
Bagian akhir ayat 19 berkata, “Siapa meninggikan pintunya, mencari kehancuran.” Gambaran ini berbicara tentang orang yang meninggikan diri. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih hebat, lebih penting, lebih mampu, atau lebih layak daripada orang lain.
Kesombongan sering kali tumbuh secara perlahan. Kita mulai merasa tidak membutuhkan nasihat. Kita sulit mengakui kesalahan. Kita ingin selalu dipuji. Ketika berhasil, kita lupa bersyukur kepada Tuhan. Ketika mendapatkan jabatan atau kepercayaan, kita mulai memandang rendah orang lain.
Padahal, semakin tinggi seseorang meninggikan dirinya, semakin besar pula risiko kejatuhannya.
Karena itu, hidup dalam anugerah Tuhan berarti hidup dalam kerendahan hati. Ketika berhasil, bersyukurlah. Ketika dipercaya, layanilah dengan sungguh-sungguh. Ketika melakukan kesalahan, beranilah mengakuinya. Ketika menerima teguran, belajarlah menerimanya sebagai kesempatan untuk bertumbuh.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Hari ini kita diajak untuk melihat kembali bagaimana kita menjalani kehidupan sebagai orang yang telah menerima anugerah Tuhan.
Apakah kita sudah bertanggung jawab terhadap setiap komitmen yang kita buat? Apakah kita masih mudah terlibat dalam konflik yang tidak perlu? Apakah keberhasilan dan kemampuan yang kita miliki membuat kita semakin rendah hati atau justru semakin sombong?
Menghidupi anugerah Tuhan berarti tidak menyia-nyiakan kehidupan yang Tuhan berikan. Kita dipanggil untuk hidup dengan bijaksana, bertanggung jawab, menjaga perdamaian, dan tetap rendah hati.
Mungkin hari ini kita akan diperhadapkan dengan keputusan yang membutuhkan pertimbangan. Mungkin ada komitmen yang harus kita tunaikan. Mungkin ada konflik yang harus kita hindari atau selesaikan. Mungkin ada keberhasilan yang perlu kita syukuri tanpa membuat kita meninggikan diri.
Dalam semuanya itu, mintalah pertolongan Tuhan. Kiranya kita tidak menjadi orang yang gegabah dalam berjanji, tidak menjadi orang yang senang melihat perselisihan, dan tidak menjadi orang yang meninggikan diri.
Sebaliknya, marilah kita menjadi pribadi yang dapat dipercaya, membawa damai, dan rendah hati di hadapan Tuhan maupun sesama.
Anugerah Tuhan adalah pemberian yang indah. Karena itu, marilah kita tidak hanya menerima anugerah-Nya, tetapi menghidupinya melalui kehidupan yang bertanggung jawab, damai, dan rendah hati.
Bersyukurlah untuk hari ini. Jalani setiap kesempatan dengan hikmat, sebab Tuhan yang menganugerahkan kehidupan juga akan menolong kita menjalaninya dengan setia. Amin.
Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas anugerah-Mu yang selalu menyertai kami. Ajarlah kami hidup bijaksana, bertanggung jawab dalam setiap komitmen, menjauhi perselisihan, dan tetap rendah hati. Mampukan kami menggunakan kehidupan ini untuk memuliakan nama-Mu. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow