Pembacaan Alkitab: Amsal 17:25-27
Tema: Sukacita Bagi Keluarga Dan Berkat Bagi Sesama
Selamat malam, sahabat pembaca Sabda GPIB yang dikasihi Tuhan. Setiap keluarga tentu mengharapkan sukacita dan kedamaian. Orang tua berharap anak-anaknya bertumbuh menjadi pribadi yang baik, bertanggung jawab, dan takut akan Tuhan.
Anak-anak juga tentu merindukan keluarga yang penuh kasih, perhatian, dan penerimaan. Namun, kehidupan keluarga tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Ada saatnya perkataan, sikap, dan pilihan seseorang justru menjadi sumber kesedihan bagi keluarganya.
Amsal 17:25 berkata, “Anak yang bebal menyakiti hati ayahnya, dan memedihkan hati ibunya.” Ayat ini menunjukkan bahwa tindakan seorang anak tidak pernah berdampak hanya kepada dirinya sendiri. Apa yang dilakukan seseorang dapat membawa sukacita, tetapi juga dapat membawa luka bagi orang-orang yang mengasihinya.
Kata “bebal” dalam kitab Amsal tidak sekadar menunjuk kepada orang yang kurang cerdas secara intelektual. Kebebalan lebih berkaitan dengan sikap hati yang menolak hikmat, nasihat, dan didikan yang benar.
Karena itu, seseorang mungkin memiliki pendidikan tinggi, kemampuan yang hebat, dan banyak pengetahuan, tetapi tetap dapat bertindak bodoh ketika hidupnya tidak dipimpin oleh hikmat Tuhan.
Pertama, hiduplah dalam hikmat agar menjadi sukacita bagi keluarga.
Keluarga adalah tempat pertama kita belajar tentang kasih, tanggung jawab, pengampunan, dan kehidupan bersama. Apa yang kita lakukan di dalam keluarga dapat meninggalkan kesan yang mendalam.
Seorang anak yang bertanggung jawab, menghormati orang tua, dan menjaga kehidupannya dengan baik akan menjadi sukacita bagi keluarganya. Sebaliknya, ketika seseorang terus-menerus mengambil keputusan yang salah, hidup dalam kebohongan, tidak bertanggung jawab, atau menolak nasihat, bukan hanya dirinya yang mengalami akibatnya. Orang tua dan keluarga pun ikut merasakan luka.
Karena itu, bagi kita yang masih memiliki orang tua, marilah kita menghargai mereka. Tidak harus dengan sesuatu yang mahal. Kadang-kadang perhatian sederhana, perkataan yang lembut, waktu untuk mendengarkan, dan doa bagi mereka sudah menjadi sukacita yang besar.
Bagi para orang tua, firman ini juga mengingatkan bahwa hikmat perlu diajarkan dan diteladankan. Anak-anak bukan hanya membutuhkan pendidikan untuk menjadi pintar, tetapi juga membutuhkan teladan untuk menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab, rendah hati, dan takut akan Tuhan.
Kedua, hargailah kebenaran dan integritas.
Amsal 17:26 berkata bahwa menghukum orang benar tidaklah baik, demikian juga memukul orang yang terhormat karena kelurusannya. Ayat ini mengingatkan kita tentang pentingnya menghargai orang yang hidup benar.
Dalam kehidupan, tidak selalu mudah untuk mempertahankan kejujuran. Ada kalanya orang yang jujur justru dianggap merepotkan. Orang yang berani mengatakan kebenaran mungkin tidak disukai. Bahkan, seseorang yang mempertahankan prinsip dapat kehilangan kesempatan tertentu karena tidak mau berkompromi dengan kesalahan.
Namun sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk tetap mencintai kebenaran.
Jangan sampai nilai-nilai kehidupan menjadi terbalik: yang salah dibenarkan, sedangkan yang benar justru disalahkan. Jangan karena kepentingan pribadi kita mengorbankan kejujuran. Jangan karena takut kehilangan teman kita ikut membenarkan perbuatan yang salah.
Keluarga dan masyarakat membutuhkan orang-orang yang berintegritas. Ketika kita hidup jujur, kita sedang memberikan teladan kepada anak-anak, keluarga, dan lingkungan kita.
Ketiga, hikmat terlihat dari kemampuan mengendalikan perkataan dan emosi.
Amsal 17:27 berkata, “Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin.”
Ini adalah nasihat yang sangat relevan. Tidak semua hal harus kita komentari. Tidak setiap perkataan harus dibalas. Tidak setiap persoalan harus diselesaikan dengan emosi.
Sering kali masalah menjadi besar bukan karena persoalannya besar, tetapi karena kita tidak mampu mengendalikan perkataan. Satu kalimat yang diucapkan dalam kemarahan dapat melukai hati orang lain. Satu pesan yang ditulis tanpa berpikir dapat merusak hubungan yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Orang berhikmat tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Diam bukan berarti tidak peduli. Diam terkadang merupakan bentuk pengendalian diri agar kita tidak mengatakan sesuatu yang nantinya kita sesali.
Demikian juga dengan emosi. Marah adalah sesuatu yang manusiawi, tetapi membiarkan kemarahan menguasai diri dapat membawa kita kepada tindakan yang salah. Karena itu, ketika emosi mulai naik, berhentilah sejenak. Berdoalah. Tenangkan hati. Mintalah Roh Kudus memberikan hikmat sebelum kita bertindak atau berbicara.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Hikmat Tuhan tidak hanya terlihat dari banyaknya pengetahuan yang kita miliki. Hikmat terlihat dari karakter kita, dari cara kita memperlakukan keluarga, dari keberanian kita mempertahankan kebenaran, dan dari kemampuan kita mengendalikan perkataan serta emosi.
Malam ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah kehadiran saya menjadi sukacita bagi keluarga? Apakah hidup saya membawa berkat bagi sesama? Apakah perkataan saya membangun atau justru melukai?
Kiranya Tuhan menolong kita menjadi pribadi yang berhikmat. Bagi anak-anak, jadilah anak yang membawa sukacita bagi orang tua. Bagi orang tua, jadilah teladan hikmat dan kasih bagi anak-anak. Bagi kita semua, marilah menghargai kebenaran, menjaga integritas, dan belajar mengendalikan perkataan serta emosi.
Dengan demikian, kehidupan kita tidak hanya menjadi berkat di dalam keluarga, tetapi juga menjadi berkat bagi lingkungan dan sesama.
Mari kita menutup hari ini dengan hati yang tenang dan penuh syukur. Apa pun yang telah kita lalui hari ini, serahkan semuanya kepada Tuhan.
Biarlah firman-Nya terus membentuk karakter kita sehingga semakin hari kita semakin mencerminkan hikmat-Nya. Jadilah sukacita bagi keluarga dan berkat bagi sesama. Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas penyertaan-Mu sepanjang hari. Ajarlah kami hidup dalam hikmat, menjadi sukacita bagi keluarga dan berkat bagi sesama. Berikan kami hati yang tenang, perkataan yang bijaksana, serta kekuatan untuk menjaga kebenaran dan kasih. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow