Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Minggu, 1 November 2026,  Habakuk 1:1-2  Evaluasi Diri Kepekaan Dan

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:53 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab : Habakuk 1:1-2

TEMA : "EVALUASI DIRI: KEPEKAAN DAN EMPATI"

"Berapa lama lagi, ya TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar....." (ay.2a)

Filsuf Baruch Spinoza punya pandangan mendalam tentang perdamaian. Baginya, damai sejati bukan hanya berarti tidak ada konflik.

Lebih dari itu, perdamaian harus berakar pada sifat ketuhanan itu sendiri, yang mencakup kebaikan, kepercayaan, dan keadilan yang sesungguhnya.

Pergumulan Habakuk menjadi cerminan nyata dari pencarian damai sejati yang diuraikan Spinoza (Habakuk 1:2-4).

Habakuk melihat kekerasan dan ketidakadilan di mana-mana, dan ia tidak melihat adanya intervensi ilahi.

Protesnya bukan sekadar keluhan, melainkan sebuah pertanyaan teologis yang mendasar:

Jika Tuhan itu baik dan adil, mengapa kejahatan diizinkan merajalela di antara umat-Nya? Habakuk menyerukan agar mishpat (keadilan) ditegakkan.

Reaksi Habakuk ini menunjukkan bahwa damai sejati (Shalom) tidak bisa dicapai tanpa menghadapi realitas kebobrokan secara jujur, bahkan jika hal itu harus "berdialog" dengan Tuhan melalui pertanyaan-pertanyaan yang paling menyakitkan.

Habakuk bergumul dengan pertanyaan besar: bagaimana mungkin Tuhan yang adil (mishpat) justru memakai bangsa Babel yang jahat untuk menjadi alat penghukuman? Jawaban Tuhan menegaskan kedaulatan-Nya yang tak terbatas.

Ia berhak memakai siapa pun, bahkan kekuatan yang destruktif untuk menjalankan rencana penghakiman dan pemurnian-Nya yang kadang sulit dimengerti (Habakuk 1:5-11).

Jawaban Allah berujung pada janji abadi: "orang benar akan hidup oleh percayanya". Iman (emunah) inilah fondasi dari damai sejati.

Hal demikian merupakan kepercayaan total bahwa meskipun kita berada di tengah kekacauan, kuasa dan kekudusan Tuhan tetap teguh (Habakuk 3:17-19).

Melihat hal ini, panggilan untuk gereja di usia ke 78 merupakan panggilan iman untuk menghadirkan Shalom secara nyata.

Gereja harus mampu mengubah paradigma tatanan sosial, lingkungan, religi yang kacau, penuh kekerasan dan diskriminatif menjadi tatanan yang memulihkan relasi manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam ciptaan. Amin.

 

Doa: Tuhan, teguhkan iman kami agar bidup menghadirkan keadilan, menolak kekerasan, dan memuliakan kuasa-Mu. Amin.

 

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN PAGI GPIB SABDA BINA UMAT