Yunus 2:8-10
NOMOPHOBIA
"Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia." (ay.8)
Doa Yunus di perut ikan, membawanya pada kesadaran dan pengakuan bahwa siapa yang memegang berhala pada dasarnya menyembah kesia-siaan dan meninggalkan rahmat sejati yang seharusnya menjadi milik mereka.
Yunus telah melarikan diri dari perintah Tuhan, la berpegang pada kesia-siaan dengan berpikir dapat berlari dari Tuhan dan menghindari tugasnya ke Niniwe.
Yunus ada pada posisi penyembahan berhala dalam bentuk meninggikan kehendak, pertimbangan dan rasa amannya sendiri di atas kehendak Tuhan.
Dewasa ini orang dapat mengulangi kesalahan Yunus dengan memegang berhala yang sia-sia.
Ketergantungan pada tanggapan orang lain dengan mencari validasi seperti "like" dapat membuat seseorang bergantung pada penilaian orang lain.
Identitas diri dibangun bukan karena relasi dengan Tuhan tetapi karena pendapat atau penerimaan manusia.
Kondisi nomophobia adalah bentuk lainnya dari mengulangi kesalahan Yunus.
Nomophobia adalah perasaan ketakutan atau kecemasan yang berlebihan karena terpisah dari ponsel.
Ketergantungan pada Tuhan bergeser menjadi ketergantungan kepada ponsel.
Yunus bertobat dan mengakui bahwa keselamatan hanya dari Tuhan. Yunus juga menyatakan kesiapan untuk menepati nazar atau Tuhan memberi memenuhi janji yang pernah diabaikannya, pengampunan dengan membebaskannya dari perut ikan.
Seperti halnya Yunus, kita juga diajak untuk menyadari kekeliruan sikap dalam dunia digital. Apakah kita termasuk orang dalam kondisi nomophobia?
Kecanduan digital dengan konten yang tidak sehat? Nazar Yunus dalam dunia digital dapat dimaknai sebagai janji untuk menggunakan teknologi digital secara sehat berdasarkan iman kepada Tuhan.
Misalnya, menggunakan media sosial bukan untuk merusak diri dan sesama, tetapi untuk saling menyemangati.
Bukan hanya Yunus yang dapat diselamatkan dari perut ikan, kita juga dapat dipulihkan dari kecanduan digital. Amin.
Doa: Ya Yesus, sertai kami dengan hikmat-Mu supaya memanfaatkan teknologi digital secara positif, Amin.
Editor : Alfianne Lumantow