JAGOSATU.COM - Berita terkait kontroversi konser salah satu penyanyi Indonesia yang dianggap memiliki unsur satanic dan illuminati meramaikan media sosial.
Baskara Putra, atau yang dikenal dengan nama panggung Hindia, menjadi sorotan karena dianggap menyelipkan elemen-elemen kontroversial dalam penampilannya di atas panggung.
Lagu-lagu Hindia, yang sangat diminati oleh kaum muda, mendapat sorotan karena dinilai memiliki kontroversi dalam lirik, aksi panggung, dan konsep pertunjukan musiknya.
Terkait isu ini, Baskara Putra memberikan tanggapannya.
Sebuah video beredar luas di media sosial, menunjukkan penonton diminta untuk menutup mata saat Hindia menyanyikan lagu "Matahari Tenggelam".
Saat pertengahan lagu, penonton diminta untuk melepaskan penutup mata, sementara di panggung terdapat layar LED dengan tanda segitiga dan mata satu, serta sebuah patung muncul dari belakang layar.
Tidak hanya itu, salah satu lirik lagu "Matahari Tenggelam" dianggap memiliki makna tersembunyi, seolah-olah mendoakan pendengarnya ke neraka.
Video ini viral di berbagai platform media sosial seperti TikTok dan X (sebelumnya Twitter), memicu komentar negatif dari masyarakat.
Meski mendapat pro dan kontra, Baskara Putra menyikapi tudingan tersebut dengan santai.
Dia menganggap bahwa konsep atau gimmick seperti itu bukan hal baru di dunia musik, dengan banyak grup band dan musisi lain mengadopsi konsep serupa.
Netizen yang mengkritiknya bahkan dianggap sebagai awal kesuksesannya.
Sebuah cuitan di akun X @wordfangs menunjukkan pandangan positif, "Puji Tuhan dianggap illuminati, apakah ini tandanya aku sudah dianggap sukses?" tulisnya pada tanggal 14 November.
Terlepas dari tudingan sebar aliran tertentu, Baskara Putra menjelaskan bahwa lagunya sebenarnya bercerita tentang cyberbullying.
Meskipun liriknya bisa dianggap ambigu, dia menegaskan bahwa semuanya hanyalah metafora.
Lagu "Matahari Tenggelam" merupakan salah satu dari 28 lagu dalam album terbaru Hindia berjudul "Lagipula Semua Akan Berakhir."
Album ini merupakan karya kedua Baskara Putra dalam perjalanannya di dunia musik.
Dalam album ini, Baskara Putra mengangkat berbagai tema, termasuk warisan buruk duniawi seperti krisis iklim, inflasi, politik, dan trauma, sebagai bentuk ekspresi kekecewaannya terhadap kekacauan dunia saat ini. (jpg)
Editor : Tina Mamangkey