JAGOSATU.COM - Kegiatan Learning IPM in Manado 2023 telah sukses terlaksana dengan dukungan program ODSK terkait Medical Tourism Sulut. Acara yang berpusat di RS Prof RD Kandou Manado selama sepekan lalu, bertujuan untuk memperkenalkan dan meningkatkan wawasan ilmu serta keterampilan intervensi nyeri bagi tenaga kesehatan dengan minat khusus dalam manajemen nyeri secara multidisiplin. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memajukan dan meningkatkan kualitas manajemen nyeri pada pasien.
Peserta dari berbagai disiplin spesialis, dokter umum, dan perawat turut ambil bagian dalam rangkaian kegiatan ini. Mereka bergantian melakukan penyuntikan langsung pada cadaver dengan panduan fluoroscopy.
Proses ini bertujuan untuk memasukkan obat guna mengurangi rasa nyeri atau obat antiinflamasi. Para peserta juga diajarkan teknik penyuntikan dengan panduan ultrasound, yaitu secara langsung pada cadaver, serta memperdalam teknik ultrasound pada probandus. Selain itu, diadakan pula workshop mengenai injeksi langsung ke cadaver pada otot, tulang, dan sendi dengan panduan ultrasound.
Selain kegiatan utama, pada hari kelima pelaksanaan, dilakukan pula bakti sosial di Gedung Pusat Jantung Pembuluh Darah dan Otak RS Prof DR RD Kandou.
Sebanyak 18 pasien dengan keluhan nyeri di berbagai bagian tubuh, menjalani pemeriksaan komprehensif oleh para dokter spesialis. Pasien juga diberikan pemeriksaan menggunakan ultrasound serta penyuntikan obat untuk mengurangi nyeri dengan panduan ultrasound dan fluoroscopy.
Lebih istimewa lagi, kegiatan ini sejalan dengan rangkaian soft opening Manado Pain Rehab Center. Berbagai harapan positif tertanam dengan adanya klinik nyeri ini. Dr. dr. Jimmy Panelewen, selaku Direktur Utama RSUP Kandou Manado, yang diwakili oleh dr. Jehezkiel Panjaitan, Direktur Pelayanan Medik, Keperawatan, dan Penunjang, mengungkapkan rasa bangga dan terima kasih atas kegiatan ini.
Ia menyatakan pentingnya klinik nyeri sebagai tambahan fungsi pelayanan kesehatan di Sulut, terutama untuk penanganan manajemen nyeri pada penderita yang berkepanjangan. "Ditambah kesiapan SDM yang sudah dilakukan pelatihan dan workshop.
Dan adanya baksos merupakan suatu bentuk rangkaian terintegrasi. Diharapkan kedepan dapat diintegrasikan dengan bilang ilmu lainnya. Karena sangat bermanfaat sebab kita akan jemput bola, dari pasien masuk maka management nyeri sudah ada disana. Jadi siap untuk ditangani," tambahnya.
Pada hari terakhir kemarin, dilakukan bakti sosial di Bunaken. Para pasien dengan keluhan nyeri mendapatkan pemeriksaan dan sekaligus penanganan nyeri.
Terapi yang diberikan berupa obat minum maupun penyuntikan untuk mengurangi nyeri. Harapannya, kegiatan ini akan berkelanjutan, membawa kemajuan, dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat Sulut. (mpo)
Editor : Tina Mamangkey