JAGOSATU.COM – Proses kehamilan dan persalinan dapat memberikan dampak yang signifikan pada kesehatan tubuh.
Meskipun jarang terjadi, ada kemungkinan bahwa melahirkan dapat memengaruhi kelenjar tiroid pada ibu hamil.
Kelenjar tiroid, yang berbentuk seperti kupu-kupu dan terletak di bagian depan leher manusia, bertanggung jawab untuk menghasilkan hormon tiroid yang mengatur metabolisme dan fungsi organ tubuh.
Perubahan selama masa kehamilan kadang-kadang dapat menyebabkan kelenjar tiroid mengeluarkan hormon tiroid dalam jumlah berlebihan atau kurang dari yang seharusnya, yang dapat mengakibatkan kondisi yang dikenal sebagai tiroiditis pasca persalinan.
Baca Juga: Manfaat Luar Biasa Minyak Biji Anggur untuk Kesehatan Rambut
Mengenal Tiroiditis Pasca Persalinan
Tiroiditis pasca persalinan adalah suatu gangguan pada kelenjar tiroid yang ditandai dengan tingginya kadar hormon tiroid (hipertiroidisme) atau rendahnya kadar hormon tiroid (hipotiroidisme). Umumnya, kondisi ini dimulai dengan fase hipertiroidisme yang kemudian diikuti oleh fase hipotiroidisme.
Penting untuk membedakan antara tiroiditis pasca persalinan dan kondisi tiroid lainnya, seperti penyakit Hashimoto.
Tiroiditis pasca persalinan menyebabkan peradangan dan biasanya tidak merusak kelenjar tiroid, sementara Hashimoto melibatkan penghancuran perlahan kelenjar tiroid oleh antibodi anti-tiroid yang akhirnya menyebabkan hipotiroidisme.
Gejala dan Faktor Risiko
Gejala tiroiditis pasca persalinan bervariasi tergantung pada fase kondisi yang dialami. Pada fase hipertiroidisme, gejala meliputi detak jantung cepat, mudah marah, kegelisahan, penurunan berat badan, dan kelelahan.
Fase hipotiroidisme dapat ditandai dengan kelelahan, depresi, penambahan berat badan, kulit kering, kesulitan berkonsentrasi, dan sembelit.
Seseorang dengan antibodi tiroid positif, menandakan adanya penyakit autoimun, berisiko terkena tiroiditis pasca persalinan.
Faktor risiko lain meliputi kelainan autoimun lainnya, riwayat gangguan tiroid sebelumnya, pengalaman tiroiditis pasca persalinan sebelumnya, dan riwayat keluarga dengan gangguan tiroid.
Orang dengan risiko tinggi disarankan untuk menjalani pemeriksaan tiroiditis pasca persalinan pada tiga bulan dan enam bulan setelah melahirkan.
Pengobatan
Pengobatan tiroiditis pasca persalinan bergantung pada fase kondisi yang dialami. Pada fase hipertiroidisme, yang mungkin disertai dengan gejala ringan, pengobatan biasanya melibatkan penggunaan beta-blocker jika terjadi takikardia (detak jantung yang cepat).
Setelah memasuki fase hipotiroidisme, gejala yang lebih jelas muncul, seperti penambahan berat badan, kelelahan, dan depresi.
Pengobatan untuk hipotiroidisme melibatkan penggunaan evotiroksin, suatu obat yang menggantikan hormon tiroid yang hilang.
Penting untuk menjalani pemeriksaan tiroid secara teratur setelah mengonsumsi levotiroksin selama satu tahun untuk memastikan tidak terjadi hipotiroidisme berkepanjangan.
Meskipun umumnya aman untuk mengonsumsi levotiroksin dosis rendah saat menyusui, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan takaran yang tepat.
Baca Juga: Manfaat Luar Biasa Minyak Biji Anggur untuk Kesehatan Rambut
Mengetahui dan memahami tiroiditis pasca persalinan, termasuk gejalanya, faktor risiko, dan pilihan pengobatan, dapat membantu para ibu hamil atau yang baru melahirkan untuk mengatasi kondisi ini dengan lebih baik.(jpg)