Menurut laporan resmi yang dirilis oleh Kemenkes dan diolah dari sistem surveilans nasional, peningkatan kasus sebagian besar ditemukan di kelompok usia produktif serta komunitas dengan akses terbatas terhadap layanan kesehatan. Fenomena ini mempertegas pentingnya deteksi dini serta edukasi yang lebih intensif terkait infeksi menular seksual (IMS).
“Tren ini sangat mengkhawatirkan, mengingat sipilis dapat ditularkan secara diam-diam dan sering kali tidak terdeteksi dalam fase awal,” ujar dr. Maxi Rein Rondonuwu, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI. Ia menambahkan bahwa salah satu strategi utama saat ini adalah mendorong pemeriksaan skrining secara rutin, terutama bagi kelompok risiko tinggi.
Sipilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Jika tidak ditangani sejak awal, penyakit ini bisa berkembang dalam beberapa tahap dan berdampak serius pada otak, jantung, dan organ vital lainnya. Dalam kasus tertentu, sifilis juga dapat ditularkan dari ibu ke bayi saat kehamilan (sifilis kongenital), yang bisa menyebabkan cacat lahir bahkan kematian.
Pihak Kemenkes juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya tes IMS secara berkala, serta masih adanya stigma sosial terhadap mereka yang mengakses layanan kesehatan seksual. Oleh karena itu, strategi komunikasi publik kini diarahkan untuk menghilangkan stigma dan membuka akses layanan yang lebih ramah dan inklusif.
Kementerian Kesehatan mendorong fasilitas kesehatan primer seperti puskesmas dan klinik swasta untuk menyediakan layanan skrining gratis atau bersubsidi. Selain itu, kampanye edukasi daring dan luring terus digencarkan dengan menggandeng influencer kesehatan, tokoh agama, hingga komunitas lokal.
Editor : ALengkong