Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Warga Bangladesh Korban Meninggal Pertama Virus Nipah di 2026

Pratama Karamoy • 2026-02-09 15:52:38
Ilustrasi
Ilustrasi

NAOGAON – Seorang pasien perempuan berusia 40-an tahun di Bangladesh dilaporkan meninggal dunia akibat virus nipah (NiV). Ini jadi kematian pertama akibat virus NiV pada 2026. Berdasar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pasien itu mengalami gejala yang sesuai dengan infeksi NiV pada 21 Januari lalu.

Gejala mencakup demam, sakit kepala, kram otot, hilang nafsu makan (anoreksia), lemas, dan muntah. Selanjutnya, sang pasien mengalami hipersalivasi, disorientasi, dan kejang-kejang. "Seorang wanita meninggal akibat penyakit yang merusak otak tersebut setelah mengonsumsi jus kurma mentah," kata Pejabat Ilmiah Senior di Institute of Epidemiology Disease Control and Research Sharmin Sultana dilansir Xinhua pada 7 Februari lalu.

 

Kasus tersebut dilaporkan terjadi di sebelah utara Distrik Naogaon. Selanjutnya pada 27 Januari, pasien perempuan itu tidak sadarkan diri. Seorang dokter lokal lantas merujuknya ke sebuah rumah sakit tersier.

Berdasar laman WHO, penyebaran NiV terjadi karena kontak langsung hewan yang terinfeksi atau melalui ekskresi dan sekresi hewan terinfeksi. Salah satu hewan yang disebut sebagai agen atau inang virus adalah kelelawar buah dari jenis Pteropodidae. Kelelawar jenis ini umumnya ditemui di kawasan Asia dan Australia.

 

Baca Juga: Kemensos Reaktivasi 9.107 Peserta PBI JK yang Dinonaktifkan

 

Selain itu, penyebaran juga terjadi lewat kontak dengan orang yang terinfeksi atau dengan cairannya seperti droplet, urin, atau darah. Penularan juga bisa terjadi secara tidak langsung melalui benda atau makanan yang terkontaminasi virus.

Adapun untuk diagnosis NiV dilakukan lewat pemeriksaan real time polymerase chain reaction atau RT-PCR pada spesimen usap nasal/orofaring, cairan serebrospinal, atau darah. Disebutkan bahwa belum ada pengobatan spesifik untuk penyakit NiV dan juga belum tersedia vaksin. Sehingga, pengobatan yang ada saat ini bersifat suportif dan simtomatis atau mengobati gejala. (raf/len/jawa pos)

Editor : Pratama Karamoy
#Kesehatan