Kesepian Kronis Ternyata Bisa Pengaruhi Kesehatan Otak, Ini Penjelasan Ahli

ALengkong • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 09:20 WIB
Ilustrasi orang kesepian (doc: Freepik)
Ilustrasi orang kesepian (doc: Freepik)

JagoSatu.com - Kesepian sering kali dipandang sebatas tantangan emosional, padahal dampaknya dapat melampaui aspek kesejahteraan mental semata. Kesepian kronis dan isolasi sosial ternyata dapat memengaruhi kesehatan otak, termasuk berdampak pada memori, fungsi kognitif, hingga kondisi neurologis jangka panjang.

Dr. Kunal Bahrani, Ketua Grup Neurologi Rumah Sakit Yatharth di India, menyampaikan pentingnya koneksi sosial bagi kesehatan otak, sebagaimana dikutip dalam siaran Hindustan Times, Kamis (25/6). Menurutnya, interaksi sosial yang dilakukan secara teratur dapat membantu merangsang kognisi, mengatur emosi, dan menjaga respons stres tetap sehat. "Ketika seseorang mengalami kesepian yang berkepanjangan, otak dapat tetap dalam keadaan kewaspadaan tinggi, yang menyebabkan peningkatan kadar hormon stres seperti kortisol," katanya. "Seiring waktu, ini dapat memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi, memori, dan suasana hati," tambahnya.

Sejumlah penelitian telah menghubungkan kesepian kronis dengan perubahan pada area otak yang bertanggung jawab atas emosi, pembelajaran, dan pengambilan keputusan. Kurangnya interaksi sosial juga disebut dapat membatasi stimulasi mental yang dibutuhkan untuk mempertahankan fleksibilitas dan ketahanan kognitif seiring bertambahnya usia. "Hubungan sosial bagi otak sama pentingnya dengan olahraga bagi tubuh," ujar Dr. Bahrani. "Percakapan, pengalaman bersama, dan hubungan yang terus berlangsung mengaktifkan berbagai jaringan kognitif. Ketika interaksi tersebut berkurang, otak menerima lebih sedikit stimulasi," tambahnya.

Ahli neurologi dari Apollo Speciality Hospitals di Chennai, Dr. Sreenivas UM, mengatakan bahwa penelitian terbaru menunjukkan kaitan kesepian dengan faktor risiko demensia. "Studi-studi terbaru menunjukkan bahwa kesepian dapat menghasilkan perubahan struktural di otak, khususnya di wilayah yang terlibat dalam memori, penalaran, berpikir, dan pengambilan keputusan," katanya. Menurutnya, isolasi sosial juga dapat memperburuk gejala, menunda pemulihan, dan meningkatkan risiko kambuh pada penderita kondisi neurologis seperti stroke, epilepsi, penyakit Parkinson, multiple sclerosis, atau demensia. Ia menambahkan bahwa pencitraan fungsional menunjukkan area otak yang dipengaruhi kesepian ternyata mirip dengan area yang aktif saat seseorang mengalami nyeri fisik, memberikan dasar ilmiah bagi istilah "sakit hati".

Kesepian yang berkepanjangan juga dapat mengurangi aktivitas di jalur penghargaan otak, sehingga interaksi sosial terasa kurang memuaskan. Kondisi ini berpotensi menciptakan siklus di mana seseorang semakin menarik diri, yang pada akhirnya justru memperparah isolasi dan menurunkan kesehatan otak.

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa kesepian bukanlah kondisi permanen, dan otak tetap memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan berubah. Mengenali serta mengatasi kesepian sejak dini dinilai penting untuk menjaga kesejahteraan mental dan kesehatan neurologis dalam jangka panjang. Membangun hubungan sosial yang bermakna, mempelajari keterampilan baru, menekuni hobi, berolahraga secara teratur, serta berpartisipasi dalam kegiatan komunitas disebut dapat membantu mendukung kesehatan kognitif seseorang.

 
 
Editor : ALengkong
Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5623739/kesepian-bisa-mempengaruhi-kesehatan-otak?utm_source=antaranews&utm_medium=desktop&utm_campaign=related_news
#kesehatan otak #kesepian